My Life Journey

Berbagi, Melayani & Menebar Rahmat
Subscribe

Archive for September, 2007

Quote : Opportunity

September 25, 2007 By: cipto Category: Quotes 2 Comments →

What is opportunity, and when does it knock? It never knocks. You can wait a whole lifetime, listening, hoping, and you will hear no knocking.  None at all. You are opportunity, and you must knock on the door leading to your destiny. You prepare yourself to recognize opportunity, to pursue and seize opportunity as you develop the strength of your personality, and build a self-image with which you are able to live — with your self-respect alive and growing.
 
Apakah kesempatan itu, dan kapan ia mengetuk pintu ? Itu tidak pernah mengetuk pintu. Kau bisa menunggu sepanjang waktu, mendengarkan, ber-harap2 cemas, dan tak akan terdengar ketukan itu. Sama sekali tidak. Kaulah kesempatan itu, dan kau harus mengetuk pintu mendahului nasibmu. Kau mempersiapkan diri untuk mengenali kesempatan itu. Untuk mengejar dan menangkap peluang ketika kau mengembangkan kekuatan dalam kepribadianmu, dan membangun citra diri dimana kamu bisa hidup - dengan menghormati dirimu dan bertumbuh.

(Dr. Maxwell Maltz, Penulis buku best seller klasik, Psycho-cybernetics)

Quote : DO It Anyway

September 25, 2007 By: cipto Category: Quotes No Comments →

People are illogical, unreasonable, and self-centered. Love them anyway.

If you do good, people may accuse you of selfish ulterior motives. Do good anyway.

If you are successful, you will win false friends and true enemies. Succeed anyway.

The good you do today will be forgotten tomorrow. Do good anyway.

Honesty & frankness make you vulnerable. Be honest and frank anyway.

The biggest men and women with the biggest ideas can be shot down by the smallest men and women with the smallest minds. Think big anyway.

People favor underdogs but follow only top dogs. Fight for a few underdogs anyway.

What you spend years building may be destroyed overnight. Build anyway.

People really need help but may attack you if you do help them. Help people anyway.

Give the world the best you have and you’ll get kicked in the teeth. Give the world the best you have anyway.

Bahasa Indonesianya :

Banyak orang yang tidak logis, tak beralasan dan egois. Sekalipun demikian, cintailah mereka.

Jika Anda berbuat baik, orang-orang akan menuduh Anda memiliki motivasi egois tersembunyi. Sekalipun demikian, tetaplah berbuat baik.

Jika anda meraih kesuksesan, anda akan menemukan teman-teman palsu dan musuh yang sejati . Sekalipun demikian, raihlah kesuksesan.

Kebaikan yang anda lakukan hari ini akan dilupakan keesokan harinya. Sekalipun demikian, tetap lakukan kebaikan.

Kejujuran dan keterusterangan menjadikan anda menghadapi resiko. Sekalipun demikian, berbuatlah jujur dan terus terang.

Orang-orang besar dengan gagasan cemerlang bisa dikalahkan oleh orang-orang kecil dengan pikiran yang kerdil. Sekalipun demikian, tetaplah berpikir besar.

Orang senang dengan mereka yang lemah tetapi hanya mengikut mereka yang kuat. Sekalipun demikian, beri dukungan kepada mereka yang lemah.

Apa yang anda bangun selama bertahun-tahun bisa dihancurkan dalam semalam. Sekalipun demikian, tetaplah membangun.

Orang yang benar-benar membutuhkan bantuan anda mungkin mencaci anda jika anda membantunya.Sekalipun demikian, bantulah mereka.

Berikan kepada dunia hal terbaik yang anda miliki dan anda akan hancur. Sekalipun demikian, berikan kepada dunia hal terbaik yang anda miliki.

(Ditulis oleh Kent M. Keith pada tahun 1968, dipopulerkan oleh Mother Teresa pada tahun 1977, diperbarui pada tahun 2001).

Joke: Rahasia Umur Panjang Manusia

September 20, 2007 By: cipto Category: Joke 1 Comment →

(Dari sebuah Milis) Konon (tapi nggak usah dipercaya, namanya aja guyonan), di awal zaman, Tuhan menciptakan seekor sapi. Tuhan berkata kepada sang sapi : “Hari ini kuciptakan kau sebagai sapi. Engkau harus pergi ke padang rumput dan bekerja dibawah terik matahari sepanjang hari. Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun”.  Sang Sapi keberatan : ”Kehidupanku akan sangat berat selama 50 tahun. Kiranya 20 tahun cukuplah buatku. Kukembalikan kepadaMu yang 30 tahun”. Maka setujulah Tuhan.Di hari kedua, Tuhan menciptakan monyet. ”Hai monyet, hiburlah manusia. Aku berikan kau umur 20 tahun”. Sang monyet menjawab “What? Menghibur mereka dan membuat mereka tertawa ? 10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10 tahun padamu”. Maka setujulah Tuhan.

Di hari ketiga, Tuhan menciptakan anjing. ”Apa yang harus kau lakukan adalah menjaga pintu rumah majikanmu. Setiap orang mendekat kau harus menggongongnya. Untuk itu kuberikan hidupmu selama 20 tahun”. Sang anjingpun menolak : “Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun ? No way! Kukembalikan 10 tahun kepadaMu”. Maka setujulah Tuhan.

Di hari keempat, Tuhan menciptakan manusia. Sabda Tuhan: “Tugasmu adalah makan, tidur, dan bersenang-senang. Inilah kehidupan. Kau akan menikmatinya. Akan kuberikan engkau umur sepanjang 25 tahun”. Sang manusia keberatan, katanya “Menikmati kehidupan selama 25 tahun? Itu terlalu pendek Tuhan. Let’s make a deal. Karena sapi mengembalikan 30 tahun usianya, lalu anjing mengembalikan 10 tahun, dan monyet mengembalikan 10 tahun usianya padaMu, berikanlah semuanya itu padaku. Semua itu akan menambah masa hidupku menjadi 75 tahun. Setuju ?” Maka setujulah Tuhan.

AKIBATNYA ……………………

Pada 25 tahun pertama kehidupan sebagai manusia dijalankan kita makan, tidur dan bersenang-senang 30 tahun berikutnya menjalankan kehidupan layaknya seekor sapi kita harus bekerja keras sepanjang hari untuk menopang keluarga kita. 10 tahun kemudian kita menghibur dan membuat cucu kita tertawa dengan berperan sebagai monyet yang menghibur. Dan 10 tahun berikutnya kita tinggal dirumah, duduk didepan pintu, dan menggonggong kepada orang yang lewat. Uhuk, uhuk (batuk)… Eh, Ntong, mo kemane lo? 

Genetika Pengusaha

September 20, 2007 By: cipto Category: Entrepreneurship No Comments →

(Tulisan ini karya Fauzi Rachmanto, seorang pengusaha IT dari Bandung. Blognya dapat dilihat di http://fauzirachmanto.blogspot.com)
 

George Bernard Shaw adalah penulis besar kelahiran Irlandia. Kecerdasannya sangat luar biasa, sehingga Shaw pernah memperoleh hadiah Nobel untuk karya sastra, sekaligus penerima Piala Oscar untuk karyanya yang diangkat ke layar perak. Demikian mengagumkannya kecerdasan seorang George Bernard Shaw, sehingga konon dia pernah dilamar oleh seorang aktris cantik. Dengan maksud, supaya kelak menghasilkan keturunan yang rupawan seperti ibunya, dan cerdas seperti ayahnya. Namun, Shaw kemudian menjawab, “Lalu bagaimana kalau kita memiliki anak dengan otak seperti Anda, dan wajah seperti saya?”. Ya demikianlah menurut ilmu genetika. Bahwa banyak hal kita warisi secara turun temurun dari orang tua kita. Kulit kita yang sawo matang, rambut kita yang hitam, hidung kita yang tidak mancung. Hingga ke hal-hal yang sifatnya non fisik seperti misalnya sifat atau bakat tertentu. Maka banyak anak penyanyi yang kemudian menjadi penyanyi, anak jenderal jadi tentara, dan anak pedagang jadi pedagang. Maklum, bakat dari orang tua nya mengalir deras di darah mereka.

Ini yang kadang membuat saya sedikit iri dengan rekan-rekan saya yang berasal dari keluarga pebisnis. Sangat wajar jika mereka kemudian juga menekuni bisnis. Bahkan tidak jarang mereka bisa langsung mulai belajar berbisnis dengan meneruskan usaha yang telah dirintis orang tuanya. Ini jauh berbeda dengan saya, karena keluarga saya sama sekali bukan keluarga pebisnis.

Karena tidak memiliki “darah pedagang” ini, sewaktu mulai berbisnis terus terang saya sempat ragu. Benarkah jalan yang saya ambil? Bukankah saya sama sekali tidak memiliki bakat? Saya sudah cek silisilah keluarga saya dari Ayah ataupun Ibu, kalau dirunut ke atas semua adalah pegawai pemerintah. Jadi sudah yakin, pasti, 100%, positif, tidak ada gen pedagang di tubuh saya. Kalau bakat seni, mungkin sedikit-sedikit masih ada karena kedua orang tua saya menyukai seni musik. Bakat menjadi pembicara, mungkin saja ada menetes sedikit, karena Kakek saya pemimpin kampung dan pembicara yang baik sekali. Tapi berbisnis? berdagang? jual beli? Tidak ada sama sekali.

Maka ketika usaha pertama saya tidak berjalan lancar, saya kemudian mengingatkan diri saya. “Tuh kan gagal, wong tidak ada bakat dagang …”Saya bahkan sempat percaya bahwa bakat berdagang memang diwariskan. Dan mencoba menerima kenyataan bahwa saya bukan salah seorang yang mewarisi bakat tadi. Namun, kemudian pelan-pelan saya mengamati, ternyata banyak teman-teman saya yang meskipun orang tuanya pengusaha sukses, toh juga bisa mengalami kegagalan dalam bisnisnya. Ini sedikit membuka wawasan saya. Wah, ternyata sama saja, yang punya “bakat” dagang toh juga bisa gagal. Bukan bermaksud “nyukurin”, tapi ini sedikit membuka harapan saya, bahwa jangan-jangan bakat bukan faktor penentu untuk menjadi pengusaha sukses.

Atau, mungkinkah bakat seseorang memang bisa berubah?

Adalah Prof. Kazuo Murakami, seorang ahli genetika, dalam bukunya The Divine Message of The DNA yang kemudian membuka wawasan saya lebih luas. Ternyata menurut ilmu genetika memang betul, segala sesuatu yang merupakan “bakat” ditentukan oleh kode genetis yang ada dalam DNA kita. Sebagai gambaran, setiap kilogram tubuh kita terdiri dari sekiar 1 trilyun sel. Jadi seorang bayi yang baru lahir sudah memiliki sekitar 3 trilyun sel. Padahal awalnya kita hanyalah satu buah sel yang sudah dibuahi. Yang kemudian membelah menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8 dan seterusnya hingga trilyunan tadi. Setiap sel memiliki inti sel (nucleus) yang mengandung DeoxyriboNucleic Acid (DNA). DNA inilah yang menyimpan kode genetis yang menjadi cetak biru tubuh kita. Jadi akan menjadi seperti apa kita, seolah sepertinya sudah terprogram dalam DNA tadi.

Lalu jika dalam setiap sel tubuh kita terdapat DNA yang sama, bagaimana sebuah sel tahu bahwa ia adalah bagian dari rambut, misalnya, dan kapan rambut mulai tumbuh, dsb. Menurut pakar genetika, ternyata terdapat mekanisme “nyala/padam” pada DNA tadi. Sebagai contoh, gen yang menentukan sifat kelamin laki-laki (berkumis, bersuara berat, dsb) yang semula “padam” akan “menyala” pada saat pubertas.

Bahkan, lebih jauh lagi. Proses nyala/padam tadi ternyata dapat terjadi sebagai respon lingkungan yang berubah. Dua ilmuwan dari Institut Pasteur mengamati hal ini. Bakteri E.Coli yang hanya mengkonsumsi glukosa, ternyata ketika ditempatkan pada lingkungan yang hanya ada laktosa, mampu merubah diri menjadi pemakan laktosa. Mekanisme internalnya sangat ajaib, karena bakteri adalah makhluk satu sel. Sehingga perubahan menjadi pemakan laktosa seolah-olah seperti menyalakan sebuah kemampuan yang semula tidak nampak.

Dan ini membawa konsekuensi luar biasa. Karena jika benar gen pembawa sifat tadi memiliki mekanisme nyala-padam seperti itu. Kita tidak pernah tahu potensi apa dalam diri kita yang saat ini belum kita nyalakan. Jangan-jangan saya juga memiliki bakat bermain saksofon sebagus Dave Koz, hanya saat ini belum dinyalakan saja. Atau jangan-jangan ada bakat bisnis sehebat Donald Trump yang masih terpendam dalam diri saya, dan menunggu dinyalakan?

Dan memang demikianlah menurut Prof. Murakami. Bahwa bakat seseorang dapat muncul pada umur berapapun. Banyak sekali contoh pemusik atau olahragawan yang semula hanya memperlihatkan “bakat” yang biasa-biasa, namun kemudian tumbuh secara luar biasa seiring dengan disiplin dan latihan yang dilakukan. Atau seorang yang hari ini dikenal sebagai ilmuwan genius, padahal teman SD nya mengenal dirinya dulu sebagai anak yang kurang pandai. Atau seseorang yang hari ini dikenal sebagai politisi dan orator hebat, sementara dulunya anak yang kuper. Jadi kalau anak Anda hari ini kurang pandai matematika, sumbang kalau bernyanyi, atau kurang berprestasi dalam orahraga. Anda tidak perlu buru-buru frustrasi sambil berteriak “Ah, dasar gak bakat”. Siapa tahu, gen positif pembawa bakatnya saja yang belum menyala.

Faktor penting yang akan dapat mengaktifkan gen positif Anda adalah lingkungan. Jadi yang membuat seorang Ananda Mikola pandai mengemudi mobil balap bukan semata karena ayahnya adalah pembalap. Namun karena lingkungan yang sangat mengkondisikan dia menjadi pembalap. Kalau hanya mengandalkan bakat keturunan saja, maka pembalap Formula 1 paling fenomenal hari ini, Lewis Hamilton, akan menjadi pekerja di jawatan Kereta Api seperti kakeknya, atau jadi konsultan IT seperti ayahnya. Namun, bakat membalap Lewis ternyata menyala ketika ayahnya memberikan Go Kart sebagai hadiah natal. Dan semakin berkobar ketika diasuh Ron Dennis, bos tim McLaren.

Jadi, Anda yang tidak memiliki “bakat pedagang” seperti saya tidak perlu khawatir. Gen pembawa bakat dagang Anda dapat menyala belakangan. Dan Anda yang merasa memiliki “bakat dagang”, selamat … Anda sudah punya modal awal. Namun tetap hati-hati, tanpa dukungan lingkungan dan sikap yang benar, gen pembawa bakat Anda dapat saja padam.

Take and Give ataukah Give and Receive ?

September 04, 2007 By: cipto Category: The Power of Giving No Comments →

sowreap2.jpg 

Kalau saya bertanya kepada Anda, dari dua istilah ini, manakah yang lebih populer atau lebih sering Anda dengar untuk menggambarkan hubungan timbal balik antara diri kita dengan orang lain : ‘take and give’ ataukah ‘give and receive’  ? Hampir bisa dipastikan jawabannya adalah take and give, yang berarti mengambil dulu kemudian memberi. Itu namanya ‘salah kaprah’. Padahal, pola pikir yang benar atau sikap yang seharusnya adalah ‘to give and receive’ yang berarti bahwa kita harus memberi dulu baru kemudian menerima.

Lho, koq bisa begitu ? Ya, itulah hukum alam, hukum Tuhan atau sunnatullah. Anda harus menanam terlebih dulu baru bisa menuai (sowing and reaping). Sia-sia apabila kita mengharapkan kentang sementara kita menanam biji tomat, karena itu bertentangan dengan hukum alam yang sudah berlaku dari dulu, sekarang dan di masa yang akan datang.  

Begitu juga dalam kehidupan kita. Kita harus menanam benih kebaikan terlebih dahulu untuk menuai kesuksesan hidup. Kita harus memberi dulu untuk mendapatkan penghargaan. Kita harus berbuat baik dulu agar masuk sorga. Makna memberi sangat luas, bukan hanya memberikan uang, tetapi bisa juga memberi perhatian, memberi senyuman, memberikan pertolongan, menyemangati, melayani, berkorban dan sebagainya. Contoh yang sangat simple, ketika Anda bertemu muka dengan orang lain, cobalah Anda tersenyum (kalau tidak bisa tersenyum manis, minimal tersenyum kecut juga nggak apa-apa). Apa yang akan Anda dapatkan ? Sudah pasti, senyuman balasan. Senyum dibalas senyum. Tidak mungkin ketika Anda tersenyum, orang dihadapan Anda membalasnya dengan ‘mulut monyong’, kecuali lawan bicara Anda lagi punya banyak masalah (banyak utang misalnya) atau sedang tidak waras.  

Sebaliknya juga demikian. Ketika Anda besikap ‘cuek bebek’ alias ‘masa bodo’ maka lawan bicara Anda akan berusaha ‘menjaga jarak’ dengan Anda. Artinya, kita akan mendapatkan  perlakuan yang sama dengan apa yang kita perbuat untuk orang lain. Bagi Anda karyawan, resep inilah kunci untuk mendapatkan promosi  (tentu saja kalau ada peluang atau ada posisi yang ‘vacant’ untuk diisi). Berikan yang terbaik yang Anda miliki untuk pekerjaan Anda atau untuk perusahaan tempat Anda bekerja, maka Anda akan menikmati hasilnya. Jika tidak mendapatkan promosi (karena memang belum ada peluang), minimal Anda akan lebih disayang boss atau akan lebih diperhatikan atasan. 

Bagi Anda  marketer atau salesman, maka berikan produk yang terbaik, layani customer Anda dengan tulus, buatlah senang (delight) pelanggan Anda. Maka secara otomatis Anda akan menikmati hasilnya, customer akan lebih loyal, penjualan melonjak, profitabilitas perusahaan akan meningkat dan pada akhirnya Anda akan mendapatkan reward yang setimpal dengan ‘harga’ yang telah Anda bayarkan.  Dalam melakukan proses negosiasi-pun juga sami mawon alias sama saja prinsipnya. Anda sudah kenal dengan istilah win-win solution’ kan ? Ya, win-win solution adalah suatu kondisi dimana Anda dan lawan Anda saling mempertukarkan konsesi sehingga masing-masing pihak merasa puas denga keputusannya. Sebenarnya win-win solution’ doank tidaklah cukup, yang lebih dasyat adalah apabila lawan Anda (orang lain) merasa menang (duluan), baru Anda akan menikmati kemenangan juga (setelahnya). Jadi, jangan ragu untuk memberikan konsesi duluan, buat lawan Anda merasa ‘menang’ duluan, baru kemudian Anda akan merasakan ‘kemenangan’ yang lebih banyak lagi. Artinya, Anda perlu menerapkan prinsip ‘win (orang lain dulu) – win (baru saya) solution’. Orang lain dibuat ‘win’ dulu, maka Anda akan lebih gampang (dan lebih banyak) ‘win’ nantinya. Prinsip memberi juga berlaku bagi para entrepreneur. Mereka harus menginvestasikan uangnya terlebih dahulu, atau minimal harus menyetor ‘modal’ berupa waktu, tenaga atau ide kalau bukan berbentuk uang. Barulah setelah itu mereka bisa menikmati hasilnya. Adalah merupakan hil yang mustahal (begitu kata Almarhum Asmuni) mengharapkan hasil tanpa investasi atau mengharapkan keuntungan tanpa pengorbanan.  Itulah keajaiban memberi atau melayani. Itulah the power of giving yang berakar dari hukum sebab akibat atau hukum menabur dan menuai. Itulah hukum alam. Ia akan tetap berlaku walaupun Anda tidak mempercayainya, tidak perduli apakah Anda mengetahui atau tidak mengetahuinya, ia tidak pandang bulu, tanpa kenal waktu apakah kemarin, hari ini atau esok pagi.  

Maka banyaklah memberi, banyaklah melayani orang lain, tetaplah memberi dan tetaplah melayani orang lain. Dengan banyak memberi dan melayani, maka Anda akan lebih banyak menerima dan menikmati kesuksesan dan keberuntungan. Wish You Luck ! (SA).