My Life Journey

Berbagi, Melayani & Menebar Rahmat
Subscribe

Archive for March, 2008

Resensi Roni Yuzirman atas Buku “BeaMaL”

March 28, 2008 By: cipto Category: Luck Factors, Personal 8 Comments →

Sepuluh Rahasia Menjadi Orang yang Selalu Beruntung

By Badroni Yuzirman;

Friday, March 28, 2008
7:12 AM

*”Everything in life is luck”*, kata Donald Trump <http://www.trumpuniversity.com/blog/index.cfm>.
Jika kita baca riwayat para miliarder, banyak yang mengatakan bahwa kesuksesannya adalah karena keberuntungan, luck.

Carl Jung <http://en.wikipedia.org/wiki/Carl_Jung> mendefinisikan fenomena keberuntungan itu sebagai rentetan sinkronisitas. Orang yang beruntung adalah orang yang mengikuti aliran (flow) dalam hidupnya. *”As you flow grows, your luck grows”* katanya.Orang-orang yang sukses itu mengetahui dan mengikuti aliran tertentu di mana mereka bertumbuh dan menciptakan keberuntungan.Pertanyaannya, apa saja aliran-aliran yang harus diikuti?

Saat ini di tangan saya sudah ada buku yang menjawabnya.

Saya beruntung sekali mendapatkan kesempatan pertama untuk menikmati buku yang dikirim oleh penulisnya, Sucipto Ajisaka <http://www.suciptoajisaka.com/>, salah satu member TDA <http://tangandiatas.com/> yang tinggal di Surabaya.Wallace D. Wattles <http://en.wikipedia.org/wiki/Wallace_Wattles> dalam buku The Science of Getting Rich merumuskan bahwa untuk menjadi orang sukses harus *think, feel and act in a certain way*.Nah, buku ini juga mencoba menjawab pertanyaan itu dengan menyampaikan pesan bahwa jika kita ingin menjadi orang yang menjadi magnet keberuntungan, kita harus *think, feel and act in a certain way* juga.

Ada 10 “rahasia” yang diungkap dengan jelas dan gamblang di dalam buku berjudul Becoming A Magnet of Luck (BeaMaL) ini:

1. Bangun dan perbesarlah jejaring anda. Bangunlah network. Jalinlah silaturahmi dengan siapa saja. Di TDA saya selalu mengatakan bahwa silaturahmi membawa rezeki. Kurang lebih seperti itulah maknanya. Orang-orang yang sukses adalah mereka yang banyak teman dan gemar bersilaturahmi.

Di buku ini dijelaskan secara detil apa manfaat dari jejaring itu. Bagaimana membangun jejaring. Plus bagaimana memanfaatkan teknologi guna membangun jejaring.

2. Berpetualanglah mencari hal-hal baru. Mereka yang gemar berpetualang selalu punya rasa ingin tahu yang tinggi dan terbuka dengan hal-hal baru. Berpetualang akan membuka kemungkinan-kemungkinan, termasuk keberuntungan ke dalam hidup kita.

Saya jadi teringat dengan tokoh di novel The Alhemist karya Paulo Cuelho <http://www.paulocoelho.com.br/engl/>. Ia berpetualang mengikuti kata hatinya dan akhirnya menemukan keberuntungannya.

3. Banyak memberi dan melayani. Pertanyaan menarik yang dijawab di buku ini adalah mengapa dengan memberi kita bisa mengundang keberuntungan? Bagaimana membangun semangat memberi? Bagaimana membangun mentalitas kelimpahan (abundance)?

4. Memiliki tujuan. Bagaimana kekuatan tujuan dapat memudahkan kita mengundang keberuntungan?

5. Fleksibel dan rileks.

6. Mengikuti dan mengasah intuisi.

7. Memiliki sikap positif.

8. Bertumbuh dan belajar.

9. Berani mengambil tindakan.

10. Tuhan jualah yang menentukan.

Setelah saya buka-buka, buku mengungkap rahasia menjadi magnet keberuntungan ini dengan sistimatis, lengkap, dan penuh dengan rujukan dan contoh kisah orang-orang yang secara sadar atau tidak telah menerapkan kesepuluh rahasia itu.

Buku ini berhasil mengungkap bahwa keberuntungan yang sering disebut sebagai hoki, luck atau fortune itu bukanlah terjadi secara kebetulan, untung-untungan atau terkait dengan ramal-meramal. Keberuntungan juga tidak terkait dengan tahayul, feng shui.

Keberuntungan adalah tentang sikap, perilaku dan tindakan yang tepat.

Dengan demikian keberuntungan akan menjadi hak semua orang yang mengetahui dan mempraktekkan ke sepuluh rahasia itu.

Penasaran dengan isi bukunya? Silakan temukan buku penting terbitan Lutfansah Mediatama dan CEO Publishing ini di toko-toko buku terdekat. Mudah-mudahan sudah tersedia.

Penulisnya sendiri, Sucipto Ajisaka <http://www.suciptoajisaka.com/> adalah alumnus Teknik Nuklir UGM Jogja dengan predikat cum laude dan MBA dari Prasetiya Mulya

Business

School. Berpengalaman lebih dari 15 tahun sebagai praktisi bisnis dan manajemen. Saat ini berprofesi sebagai konsultan, trainer dan public speaker dalam bidang manajemen dan pengembangan diri. Ia juga tercatat sebagai NLP Practitioner dari

NF-NLP, Florida, USA.

Saya sendiri merasa senang sekali telah diberi kesempatan untuk menuliskan endorsement buku ini bersama endorser lainnya seperti Tung Desem Waringin <http://www.dahsyat.com/>, James Gwee <http://www.jamesgwee.com/>,
Wuryanano<http://wuryanano.blogspot.com/>dan Faif Yusuf <http://faifyusuf.blogspot.com/>.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Badroni Yuzirman
www.manetvision.com | www.roniyuzirman.com | mail: roni@manetvision.com |
Y!M: roniyuzirman | 0812 100 8164

Resensi Ikhwan Sopa atas Buku “Becoming a Magnet of Luck”

March 24, 2008 By: cipto Category: Luck Factors, Personal 4 Comments →

Berikut ini adalah resensi Ikhwan Sopa (Trainer “E.D.A.N”) atas buku saya “Becoming a Magnet of Luck” yang saya kutip dari Milis Bicara.

Posted by: “Ikhwan Sopa” ikhwan.sopa@gmail.com ikhwansopa

Mon Mar 24, 2008
12:47 am
(PDT)

*Buku: Becoming A Magnet of Luck
10 Faktor Keberuntungan yang Menjadikan Anda Magnet Keberuntungan*

Beberapa hari yang lalu, buku ini sampai ke tangan saya. Di kirim oleh Mas Cip teman saya. Lumayan, dapat buku bermutu gratis he…he…he.. Judulnya “Becoming A Magnet of Luck”. Kayaknya inilah yang sering kita cari selama ini; live luckily.

Tebalnya 331 halaman, termasuk berbagai cerita inspirasional tentang pengalaman “hoki” berbagai tokoh termasuk penulisnya sendiri, Mas Cip. Membacanya saja, saya sudah merasa beruntung.

Benar apa yang dikatakan oleh Pak Tung dalam endorsement-nya; sistematis. Ya, sistematis untuk sebuah fenomena “luck” atawa “hoki” yang selama ini lebih dinilai sekedar intuitif. Sekarang, Anda mendapatkan skill baru dengan buku ini yakni “hoki” yang bukan sekedar “good luck”, tapi lebih dari itu “keberuntungan” yang memang bisa dilatih dan dijadikan keahlian. Wow.

Dengan runtut, Mas Cip menguraikan 10 poin penting tentang bagaimana mengubah diri dan kepribadian, menjadi a living magnet untuk berbagai keberuntungan.

01. Networking alias silaturahim;
02. Sikap petualang untuk hal-hal baru;
03. Memberi dan melayani;
04. Tujuan;
05. Fleksibel dan rileks;
06. Intuisi;
07. Sikap positif;
08. Tumbuh dan belajar;
09. Action;
10. Tuhan.

Setahu saya, sepuluh poin itu di dalam konsep Law of Attraction, adalah elemen-elemen yang bisa dipastikan menjadi bagian dari hukum alam. Dengan kata lain, berdasarkan sepuluh elemen itu, keberuntungan ternyata juga punya tingkat kepastian yang tinggi, nyaris seperti hukum alam yang biasa berlaku dan kita kenal sehari-hari.

Anda bersilaturahim dan bernetworking, Anda pasti banyak teman. Banyak teman Insya Allah banyak yang mendukung. Beruntung.

Bertualang untuk berbagai hal baru, tidak bisa lepas dari berbagai proses pembelajaran. Dan sesuai hukum alam, pembelajaran akan menghasilkan pelajaran. Itu pasti tak ternilai harganya. Beruntung lagi.

Punya tujuan artinya jelas dan jernih tentang apa, kemana, di mana, kapan, bagaimana, dan bahkan mengapa. Kejelasan 5 w dan 1 H seperti ini, selalu menjadi kata kunci untuk berbagai bidang ilmu yang kita pelajari. Artinya, kita sebenarnya telah memegang kunci universal dan kunci sapu jagat. Beruntung lagi.

Memberi dan melayani, adalah faktor “luck” yang paling mendasar, jelas, dan sederhana. Sesekali, berikan penganan teman teh atau kopi kepada tetangga Anda. Lihatlah bagaimana Anda beruntung. Bukan hanya balasan kue atau makanan, Anda dapatkan juga senyum dan keramahtamahan, sikap penuh perhatian, keinginan untuk menolong, atau menyantuni dari mereka. Banyak bonusnya. Beruntung lagi.

Fleksibel dan rileks, artinya punya kelenturan dan daya tahan. Mas Cip, dengan akurat memberi contoh tentang air. Fleksibel dan rileks, artinya tak mudah patah dan mudah menyesuaikan diri. Buktikan saja ke sekitar kita, siapa berciri itu maka beruntunglah ia.

Intuisi adalah gabungan berbagai kecerdasan yang biasa kita kenal dengan IQ, EQ, dan SQ. Intuisi, dalam banyak kasus sering menjadi penyelamat pada situasi darurat. Ia sering menjadi penemuan terbesar yang nyaris tak sengaja atau kebetulan. Beruntung lagi.

Sikap positif adalah pilihan terbaik bagi siapapun. Sederhana saja. Alam semesta tidak diciptakan dengan sia-sia. Itu positif. Apapun tujuan kita, pasti positif setidaknya menurut kita. Maka, kita tak punya pilihan lain kecuali melakukan “alignment” dengan segala ke-positif-an itu. Jika bisa,
beruntunglah kita karena tak bertentangan dengan tujuan penciptaan, dan sekaligus tak bertentangan dengan tujuan kita sendiri. A-line-ment. Beruntung sekali.

Hasilnya? Ya semua poin yang di atas itu!

Tumbuh dan belajar adalah bagian tak terpisahkan dari apa yang paling pasti di alam semesta ini, yaitu segalanya bergerak dan segalanya mengalami perubahan. Apa yang tetap, hanyalah apa yang dibuat-Nya tetap sampai akhir zaman. Selebihnya, bergerak dan berubah. Tanpa tumbuh dan belajar, ya selamat tinggal. Selamat ketinggalan zaman maksud saya. Tumbuh dan belajar adalah syarat utama meraih keuntungan dari segala pergerakan dan segala perubahan.

Action, ini dia. Seringkali, “keberuntungan” dikait-kaitkan dengan “sedikit kerja”. Mas Cip dengan cerdas membantah jargon lama ini. Tuhan itu Maha Tahu. Tak satupun di alam semesta ini terjadi secara tidak sengaja. Semuanya ada di dalam skenario. Dan untuk memahami cara kerja skenario-Nya, kita tak punya pilihan lain kecuali bertindak. Hanya mendengar dan meyakini saja, tak akan membawa keuntungan apa-apa. Paling tinggi, kita hanya akan mendapatkan keuntungan “kognitif”. Keuntungan yang diperoleh dari “tahu” saja. Padahal, kita toh ingin keberuntungan yang tidak hanya diketahui, tapi juga di rasakan. Holistik. Mental dan fisik. Bertindak, apalagi bertindak tepat, pastilah membawa keberuntungan yang lengkap. Tanpa tindakan, ibarat hanya membaca buku ini dan tidak mencoba mempraktekkannya, sesedikit apapun.

Tuhan. Ia-lah awal dan akhir dari setiap keberuntungan. Ia-lah yang menciptakan dan mengizinkan setiap kita mencicipi keberuntungan. Ia jugalah yang membatasinya sampai waktu tertentu dan kemudian menariknya kembali. Maka, puncak keberuntungan kita sebenarnya ada di poin ke 10 ini. Sebab, poin 1 sampai 9 di atas, jelas-jelas adalah bagian dari jalan-jalan yang telah diridhoi-Nya untuk meraih keberuntungan. Ya kan?

Sepuluh paragraf.

Alangkah beruntungnya kita, jika bisa menikmati ribuan paragraf yang terinci dan sistematis di ratusan halaman buku ini ketimbang uraian-uraian pendek di atas? Alangkah beruntungnya!

Mas Cip, ternyata seorang penulis yang punya kualifikasi hebat untuk “wow effect” dan “yes factor”. Dua hal, yang jadi rumusan paling penting dari setiap bentuk media. Jangan kaget jika halaman demi halaman, Anda akan terhenyak menarik bahu ke belakang sambil menahan nafas, atau termanggut-manggut mengiyakan. Dengan segera, Anda akan merasa hanyut dan tenggelam ke dalam berbagai keberuntungan. Sebab, semuanya memang telah ada di dalam diri Anda. Mas Cip, hanya memencet “on” tombolnya.

Seperti seorang Sucipto Ajisaka yang *cum laude* lulusan teknik nuklir. Buku ini adalah nuklir! Bayangkan energi yang dihasilkan dari buku ini. Modal Anda hanya 10, potensi keberuntungan Anda sejuta! Nuklir.

Buka dan bacalah 331 halaman buku ini, maka 331 x sejuta peluang keberuntungan akan terbuka di hadapan Anda. Kemudian, Anda tinggal membacanya!

Sssssttt! Sebenarnya, modal Anda sebelas. Bukan hanya sepuluh yang dituangkan dalam buku ini. Membacanya saja, bisa jadi keuntungan awal Anda!

*Ikhwan Sopa*

Trainer E.D.A.N.
+62 21 70096855
http://milis-bicara.blogspot.com


Dua Musuh Kesuksesan : Rasa Malas dan Menunda

March 21, 2008 By: cipto Category: Action 6 Comments →

Kita semua pasti pernah mengalami rasa malas sehingga tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Ini merupakan kondisi emosi umum yang menghambat seseorang untuk bertindak. Ketika Anda malas, Anda sebenarnya tahu bahwa Anda harus mengerjakannya, tetapi Anda tidak mengerjakannya juga.

Sebagai contoh, Anda tahu bahwa berolahraga secara teratur itu penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh Anda. Anda juga bisa melakukannya tanpa kesulitan, apakah dengan lari pagi (jogging), berenang, bermain bulu tangkis, bermain bola tenis, ikut fitness dan sebagainya. Tapi Anda toh tidak melakukannya juga. Mengapa ? Alasan yang paling umum adalah karena Anda malas melakukannnya.

Mengapa bisa malas ? Alasannya bermacam-macam. Bisa jadi Anda malas karena kurangnya motivasi, tidak merasa perlu, tidak merasa harus atau merasa kurang bermanfaat. Bisa juga karena Anda sudah bosan, jemu, lagi stress, sedang marah atau sedang tidak mood. Atau barangkali juga disebabkan oleh fisik kita yang sedang lelah, lemah, loyo atau kurang stamina. Semuanya bisa membuat kita malas.

Rasa malas memiliki ’saudara’ yang disebut ‘menunda’. Tidak jelas siapa yang ‘lebih tua’, yang pasti keduanya sangat berkaitan. Bisa jadi Anda menunda suatu pekerjaan karena malas. Tetapi bisa juga Anda merasa malas karena telah menunda (merasa terlambat atau kehilangan momentum).

Orang yang suka menunda biasanya selalu punya jawaban atau alasan penundaannya misalnya : “Saya akan melakukannya besok”, “Nanti saja”, “Lain kali saja ya”, “Saya sibuk sekali hari ini” atau “Nanti kalau saya punya cukup waktu” dan sebagainya. Padahal yang seharusnya adalah “Lakukan saja sekarang”, “Just Do It” atau Act TNT (today not tomorrow).

Frank J. Bruno dalam bukunya “Stop Procrastinating” membagi penundaan menjadi


lima

macam.

Yang pertama adalah penundaan fungsional, yaitu menunda karena sebab-sebab yang bisa dipertanggungjawabkan. Contohnya adalah Anda menunda karena adanya skala prioritas sehingga Anda perlu mendahulukan pekerjaan yang lebih penting dan mendesak. Mungkin juga Anda menunda karena benar-benar sedang sakit atau kelelahan, belum memiliki informasi yang cukup dan sebagainya. Penundaan semacam ini bisa diterima, karena kalau kita memaksa untuk melakukannya sekarang, mungkin hasilnya akan kurang baik.

Yang kedua adalah penundaan disfungsional, yaitu penundaan tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, misalnya karena malas, kurang mood dan lain-lain. Jenis penundaan ini sangat merugikan karena bisa menyebabkan kita kehilangan peluang atau kesempatan.

Jenis yang ketiga adalah penundaan jangka pendek, misalnya Anda punya target waktu satu hari tapi tidak segera memulainya sehingga pekerjaan menjadi molor atau tertunda. Yang dimaksud jangka pendek bisa selama beberapa jam atau beberapa hari tergantung target harinya. Misalnya Anda mempunyai jadwal pertemuan dengan seseorang dan harus berangkat jam 7 malam, tetapi sampai jam 6.45 Anda masih belum bersiap-siap.

Berikutnya adalah penundaan jangka panjang, misalnya Anda ingin berwisata ke Bali, ingin punya bisnis sendiri, ingin menyekolahkan anak Anda ke luar negeri, ingin menulis buku dan sebagainya. Anda punya keinginan di masa yang akan datang atau suatu rencana penting yang tidak mendesak, namun Anda tak pernah melakukan langkah awal yang diperlukan.

Jenis penundaan yang terakhir adalah penundaan kronis atau bisa juga disebut penundaan disfungsional kronis. Ini adalah sikap menunda-nunda yang sudah menjadi kebiasaan sehingga susah dihentikan dan sangat merugikan Anda sendiri. Ia bagaikan pencuri, karena telah mencuri waktu Anda dan merampok kepuasan yang mestinya Anda bisa peroleh. Inilah jenis penundaan yang paling berbahaya.

Termasuk jenis yang manakah Anda ? Mudah-mudahan penundaan yang Anda lakukan hanyalah penundaan fungsional. Amit-amit jika Anda merupakan tipe seorang penunda disfungsional, apalagi yang kronis.(SA).

Memperkuat Rasa Syukur

March 10, 2008 By: cipto Category: Spiritual 7 Comments →

Di artikel sebelumnya telah saya jelaskan bahwa, rasa syukur yang tulus akan mengaktifkan Law of Attraction atau keberuntungan dalam hidup kita. Lalu bagaimanakah caranya memupuk dan mengembangkan rasa syukur kita ?

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan, terutama bagi Anda yang belum menjadikan syukur sebagai sesuatu yang otomatis.

Cara pertama adalah dengan membuat Jurnal Rasa Syukur, yaitu sebuah buku atau catatan harian yang berisi semua ungkapan rasa syukur, ucapan terima kasih, kesenangan atau peristiwa keberuntungan yang Anda alami selama ini. Michael Losier menyebutnya sebagai Jurnal Bukti Kemakmuran (Journal of Abundance Evidence). Saya lebih senang menyebutnya sebagai Buku Harian Keberuntungan (Lucky Diary) sebagaimana istilah yang dikemukakan oleh Richard Wiseman dalam bukunya Luck Factor.

Dengan membuat Buku Harian Keberuntungan, maka kita akan menyadari bahwa nikmat yang diberikan Tuhan itu sangat banyak yang sudah kita rasakan, walaupun sebenarnya sangat jauh lebih banyak dari yang kita mampu menghitungnya. Dengan membuat Buku Harian Keberuntungan, kita akan lebih menyadari betapa Tuhan mencintai makhlukNya. Betapa beruntungnya kita. Dengan kesadaran itu, maka kita akan mudah bersyukur kepadaNya. Buku Harian Keberuntungan juga akan membuat kita terus merasa berkelimpahan. Perasaan kita jadi enak (feel good) dan pada akhirnya akan mengaktifkan Hukum Ketertarikan.

Bagi orang-orang yang merasa bahwa hidupnya belum beruntung, penuh dengan kesialan dan penderitaan, maka cara ini cocok untuk dilakukan. Karena jika orang-orang semacam ini terus mengeluh dan mengeluh terus, maka mereka akan semakin jauh dari keberuntungan. Hukum Ketertarikan tidak akan bekerja pada orang-orang yang feel bad. Oleh sebab itu bersyukurlah agar bisa feel good. Bersyukurlah terhadap hal-hal rutin yang jarang kita syukuri, misalnya kesehatan kita, keluarga kita dan sebagainya.

Cara kedua adalah dengan “melihat ke bawah”, yaitu memperhatikan orang-orang yang lebih “tidak beruntung” dibandingkan kita, antara lain orang-orang yang lebih miskin, lebih bodoh, lebih susah, lebih menderita, lebih gendut, lebih jelek, lebih sial dan sejenisnya.

Bersyukurlah karena Anda memiliki pekerjaan, sementara banyak orang terpaksa harus mengemis untuk hidup. (Lihat di jalanan, banyak anak-anak terpaksa mengemis agar tetap survive). Bersyukurlah Anda dapat mengenyam pendidikan yang layak, sementara banyak orang yang membacapun tidak bisa. (Lihat di daerah terpencil dimana para orang tua belum sadar dengan pentingnya pendidikan). Bersyukurlah Anda masih dapat makan tiga kali sehari, sementara di belahan dunia yang lain banyak orang yang menjadi kurus kering dan kurang gizi (Lihat di beberapa negara Afrika yang rakyatnya menderita karena perang dan kelaparan). Dan bersyukurlah karena Anda masih dapat bernafas, sementara banyak orang yang untuk bernafas saja masih memerlukan bantuan. (Lihat di berbagai rumah sakit dimana orang memerlukan alat dan ‘mesin’ agar bisa tetap bernafas).

Cara ini juga bisa dipakai jika Anda mengalami suatu kesialan atau kejadian yang tidak menguntungkan. Pandanglah kesialan Anda dari sisi yang positif, perlunaklah dampak kesialan itu dan bayangkan bahwa keadaan bisa lebih buruk lagi. Ungkapan-ungkapan seperti, “Untung cuma kepleset, coba kalau jatuh”, “Untung masih selamat, penumpang yang lain pada mati”, “Syukurlah hanya rugi sedikit, belum sampai satu milyar”, “Tidak naik kelas nggak apa-apa, berarti guru-gurumu masih menyayangimu”, “Gajiku hanya naik 5%, tapi aku bersyukur karena di perusahaan lain banyak yang tidak naik gaji” dan sebagainya, adalah contoh-contoh memandang kesialan atau ketidakberuntungan secara positif agar Anda tidak semakin larut dalam kesedihan dan Anda akan tetap bersyukur. Saya kira dalam falsafah Jawa sangat dikenal prinsip ini, makanya banyak orang tua memberi nama anaknya “Untung” atau “Bejo”.

Mungkin Anda bertanya, “Lha, kalau kita bersyukur terus, kapan majunya, apakah ini tidak berarti pasrah dengan keadaan dan tak mau berusaha agar lebih baik ?” Pertanyaan yang bagus. Tetapi harus diingat bahwa kita berbicara mengenai hal yang telah terjadi, bukan masa depan. Ini hanyalah masalah waktu terjadinya (kalau di dalam pelajaran Bahasa Inggris disebut dengan tenses, ada past tense ada juga future tense). Kunci jawabannya adalah “semua yang telah terjadi harus disyukuri”, karena tidak ada gunanya disesali. Aa Gym sering membuat perumpamaan, “Kalau nasi sudah menjadi bubur, ya sudah. Tambahkan santan, kasih irisan daging ayam, kasih bawang goreng dan krupuk. Maka jadilah bubur ayam.” Jadi, ambil sisi positif dari kejadian yang sudah terjadi. Sedangkan yang menyangkut masa depan, boleh disyukuri dan sangat disarankan untuk mengharapkan yang lebih baik. Bisa dipahami kan ?

Kembali ke cara bersyukur, cara yang ketiga adalah dengan banyak memberi, bersedekah, bermurah hati dan melayani orang lain. Dengan banyak memberi (bukan hanya uang, tetapi apapun juga), maka akan tercipta mentalitas kelimpahan (abundance consciousness) sehingga kita akan lebih bersyukur lagi dan akan mengaktivasi Hukum Ketertarikan. Akhirnya hidup kita akan lebih beruntung lagi. Begitu seterusnya, yang akan berulang lagi seperti sebuah siklus atau lingkaran, tapi lingkaran malaikat, bukan lingkaran setan.

Dan cara keempat, mulai dan akhiri hidup Anda setiap hari dengan rasa syukur. Ketika mau tidur, ucapkan syukur kepada Tuhan, masukkanlah ke dalam hati, rasakan betapa Tuhan telah melindungi hidup Anda selama seharian penuh. Teruslah mengucap syukur sampai Anda terlelap dalam tidur (saat otak dalam gelombang alpha atau theta). Dengan demikian maka tidur Anda akan tenang dan damai, tidur yang berkualitas, tidur yang bisa menghadirkan ide-ide segar ketika Anda ‘pasif’ di gelombang alpha, theta dan delta. Demikian pula, lakukan hal yang sama ketika Anda bangun tidur di pagi hari. Bersyukurlah karena Tuhan (melalui para malaikatNya) telah menjaga Anda sepanjang malam. Bersyukurlah karena Anda bisa bangun dengan segar di pagi hari dan siap untuk melakukan aktivitas dengan bersemangat lagi di hari yang baru. Dengan cara itu maka hidup Anda akan selalu diliputi oleh rasa syukur. Wish You Luck. (SA).