Pertama : Tujuan Yang Menggairahkan
Tujuan yang menggairahkan adalah tujuan atau sasaran yang membuat kita bergairah, senang atau gembira, antusias, memberikan energi (energizing) atau bersemangat untuk mengejarnya sampai dapat. Itulah yang disebut dengan keinginan yang menggebu-gebu (passion) atau hasrat inti (core desire).
Apabila Anda sudah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan memiliki suatu tujuan atau sasaran tertentu, namun Anda belum juga mempelajari apa yang dibutuhkan untuk menjadikannya terlaksana - apalagi mulai mengupayakannya - maka sangat mungkin karena tujuan itu tidak menggairahkan bagi Anda, atau karena tujuan itu bukan merupakan hasrat inti bagi Anda saat itu. Jadi, apabila Anda mengira sedang menginginkan sesuatu, padahal didalam hati itu bukanlah yang benar-benar Anda inginkan, maka Anda tidak akan pernah meraihnya.
Sebaliknya ketika Anda ingin bertemu dengan seseorang yang sangat spesial, sudah lama Anda dambakan dan rindukan, maka siang malam mungkin Anda akan terus memikirkannya. Kalau siang susah makan dan kalau malam susah tidur, begitu perumpamaannya. Anda akan berusaha dengan segala cara untuk mencari peluang bertemu dengannya. Anda tidak akan merasa malas betapapun jauh jarak yang harus dilalui. Mungkin Anda akan bertekad “bukit terjal akan aku daki, ngarai yang dalam ‘kan ku turuni, lautan luas ku sebrangi”. Tiba-tiba Anda merasa memiliki tenaga yang sangat besar, energi yang tiada batas dan semangat menyala-nyala. Luar biasa !!! Anda siap menaklukkan apapun yang akan menghadang di depan mata. Itulah kekuatan tujuan yang menggairahkan.
Oleh sebab itulah, maka carilah hal-hal yang membuat Anda benar-benar bersemangat untuk mencapainya. Lalu bagaimanakah kita mengetahui apa yang benar-benar kita hasratkan ? Semuanya bersumber dari dalam diri Anda, bukan sesuatu dari luar, bukan pula keinginan latah karena ikut-ikutan orang lain. Hasrat inti akan benar-benar efektif apabila bersumber dari bakat Anda, hobby Anda, pengetahuan yang Anda miliki atau ketrampilan khusus yang bisa Anda andalkan.
Michael Jordan tidak akan menjadi pemain bola basket yang dikagumi di seluruh dunia apabila ia tidak memiliki hasrat yang kuat dalam bermain bola basket. Begitu pula dengan Tiger Woods. Sejak kecil ia telah menemukan hasrat intinya dalam bermain golf. Jadi tidak heran apabila ia kaya raya hanya dengan bermain golf.
Apabila Anda masih belum bisa menemukan apa hasrat inti Anda yang sesungguhnya, maka Anda perlu menggalinya dari dalam diri Anda. Ada dua cara menggali impian, yaitu dengan memanfaatkan pertanyaan ‘ajaib’ dan dengan metode pertanyaan terbalik.
Cara pertama, beberapa pertanyaan ‘ajaib’ dibawah ini akan bisa membantu Anda menggali tujuan atau mimpi Anda yang paling menggairahkan atau yang paling Anda inginkan. Cobalah Anda menjawabnya salah satu atau beberapa pertanyaan di bawah ini.
- Apakah yang akan Anda lakukan apabila Anda memenangkan undian berhadiah uang tunai sebanyak satu milyar rupiah besok pagi ? Jawablah dalam waktu satu menit.
- Apakah yang paling suka Anda lakukan ? Apa yang memberi kepuasan batin paling kuat atau perasaan damai yang sangat mendalam ?
- Bidang pekerjaan atau aktivitas apakah yang membuat Anda benar-benar enjoy melakukannya ? Pekerjaan apakah yang membuat Anda sering lupa waktu ?
- Apakah yang membuat Anda senang ? Apakah yang membuat Anda tertawa ?
- Apakah yang ingin Anda kerjakan seandainya Anda tidak mempunyai kewajiban apapun dan punya banyak waktu ?
- Apa yang akan Anda lakukan apabila Anda mengetahui bahwa usia Anda tinggal tiga bulan lagi ?
- Apa yang selalu ingin Anda lakukan, tetapi Anda takut mencobanya ?
- Seandainya Anda tidak perlu mengkhawatirkan tentang uang, pekerjaan apakah yang Anda pilih ?
Contoh-contoh pertanyaan diatas akan memancing Anda menemukan apa yang benar-benar Anda dambakan. Tetapi kalau Anda masih ragu, cobalah sekali lagi untuk merenungkannya kembali secara perlahan, tanyakan kepada hati Anda, bukan kepada pikiran Anda.
Cara kedua, Anda bisa mengidentifikasikan keinginan Anda dengan metode pertanyaan terbalik (clarity through contrast) yaitu dengan menyebutkan hal-hal yang tidak Anda inginkan atau yang sangat Anda benci. Kebanyakan orang lebih gampang menyebutkan apa yang dibencinya daripada apa yang didambakannya. Sebutlah apa saja hal-hal yang Anda benci atau hal-hal yang tidak Anda inginkan. Setelah itu, Anda tinggal membaliknya menjadi hal-hal yang Anda inginkan.
Contoh, ketika ditanyakan mengenai karir Anda, apakah yang sangat Anda benci ? Kalau jawaban Anda adalah, “Saya tidak ingin terus menerus bekerja ‘ikut orang’ berangkat pagi pulang petang penghasilan pas-pasan”. Maka sangat mungkin impian Anda adalah “ingin memiliki kebebasan waktu dengan menjadi pekerja mandiri”, atau “ingin menjadi pengusaha agar dapat menjadi bos bagi diri sendiri”. Ilustrasi lain, “Saya tidak suka dengan pekerjaan yang statis hanya duduk di belakang meja menghadapi komputer dan kertas-kertas”. Maka bisa jadi keinginan Anda adalah “ingin menjadi salesman” atau mungkin “ingin menjadi seorang entertainer (pelawak, presenter, artis, dan sebagainya)”.
Contoh lainnya, dalam bidang kesehatan, katakanlah untuk para Ibu; Apakah yang Anda tidak inginkan ? Misalnya, “Saya tidak ingin tampak gemuk dan kelihatan tua”. Kalau begitu apakah tujuan Anda “Saya ingin memiliki berat badan yang ideal”, atau “Saya ingin tampil cantik dan menarik di hadapan suami dengan cara ikut senam body language dua kali seminggu” dan sebagainya.
Dengan kedua cara diatas, saya yakin Anda akan terbantu untuk menemukan hasrat inti Anda, sesuatu yang benar-benar Anda inginkan, bukan hanya sekedar keinginan yang tidak memiliki greget untuk diperjuangkan. Dan apabila Anda telah berhasil menemukan hasrat inti Anda, maka hambatan-hambatan yang akan Anda hadapi akan terasa lebih kecil, rasa penat dan lelah akan terlalui, perasaan malas akan hilang dan rasa takut akan berkurang dengan sendirinya. Dengan demikian maka apa yang Anda cita-citakan akan mudah dicapai dan Anda akan menjadi orang yang beruntung.
Agar lebih menggairahkan lagi, sebaiknya bahwa Anda memiliki alasan yang kuat mengapa perlu mencapai tujuan itu. Alasan yang kuat berasal dari dua kecenderungan otak manusia, yaitu yang pertama untuk selalu menghindari kesengsaraan atau penderitaan (to avoid pain) dan yang kedua untuk mencari kesenangan atau kenikmatan (to gain pleasure). Artinya Anda perlu mengetahui apa ruginya apabila Anda tidak mencapai tujuan itu dan apa juga untungnya jika Anda berhasil mencapainya. Bayangkan, dengarkan dan rasakan secara detail dan emosional atas penderitaan (atau kesengsaraan) yang sangat mendalam apabila Anda tidak mencapai tujuan tersebut. Bayangkan, dengarkan dan rasakan secara detail dan emosional juga atas puncak kesenangan (atau kenikmatan) jika Anda mencapai tujuan itu.
Contoh, apabila Anda adalah seorang karyawan dan bercita-cita untuk menjadi seorang entrepreneur setahun kedepan, apa sajakah alasan utamanya agar Anda mau keluar dari zona nyaman sekarang dan mau menyeberang ke dunia lain yang penuh resiko ? Apa penderitaannya ? Apakah penderitaan Anda karena harus bangun di pagi buta, berangkat kerja ke kantor pada saat anak-anak Anda belum bangun dari tidurnya ? Apakah perjalanan ke kantor yang dua jam lamanya karena setiap hari terjebak kemacetan di jalan ? Apakah karena Anda baru tiba di rumah di malam hari ketika anak-anak Anda sudah tertidur pulas ?. Apakah karena setiap hari Anda mendengarkan omelan atasan Anda yang selalu marah-marah seperti musik rock yang sumbang dan memekakkan telinga ? Apakah karena penghasilan Anda yang hanya cukup untuk makan sebulan padahal anak-anak Anda merengek minta dibelikan baju dan mainan yang belum pernah Anda kabulkan?. Bayangkan, tuliskan dan rasakan semua penderitaannya jika Anda tidak segera bertindak atau berubah.
Anda juga perlu menuliskan kenikmatan-kenikmatan yang bakal Anda rasakan bila berhasil menjadi seorang pengusaha. Apakah Anda senang karena menjadi manusia yang merdeka seutuhnya ? Apakah Anda bangga karena telah mempekerjakan banyak orang di saat pengangguran merajalela ? Apakah Anda memiliki kepuasan karena telah mampu mewujudkan aktualisasi diri Anda ? Apakah Anda sangat menikmati penghasilan yang meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan ketika menjadi karyawan ? Begitu seterusnya sampai Anda menemukan alasan yang sangat kuat, merasakan puncak emosi yang sangat tinggi sehingga membuat Anda segera melakukan tindakan.