My Life Journey

Berbagi, Melayani & Menebar Rahmat
Subscribe

Archive for the ‘Attitude’

Dementor Sang Penyedot Semangat

July 10, 2008 By: cipto Category: Attitude 2 Comments →

Ditulis oleh: Agung Mbot



Gambar dementor gue pinjem dari: foroswebgratis.com

dementor.jpg

Buat para penggemar serial Harry Potter pasti tau tentang Dementor. Digambarkan oleh tokoh Lupin bahwa Dementor adalah…

Dementors are among the foulest creatures that walk this earth. They infest the darkest, filthiest places, they glory in decay and despair, they drain peace, hope, and happiness out of the air around them… Get too near a Dementor and every good feeling, every happy memory will be sucked out of you. If it can, the Dementor will feed on you long enough to reduce you to something like itself…soul-less and evil. You will be left with nothing but the worst experiences of your life.” [harry potter wikia]

Atau dengan kata lain, Dementor punya kemampuan menyedot semangat hidup manusia sampe bisa jadi putus asa.

Belakangan ini, gue menemukan bahwa ternyata Dementor bukan cuma ada dalam fiksi. Repotnya, Dementor di dunia nyata lebih sulit dikenali. Kalo di cerita Harry Potter Dementor muncul dalam sosok yang mengerikan, berkulit kelabu dengan jari-jari kurus seperti kerangka, di dunia nyata mereka tampil seperti orang biasa. Mereka bisa aja duduk di sebelah lo di kantin, berdiri di belakang lo waktu ngantri karcis busway, atau yang lebih serem lagi: duduk di balik pintu bertuliskan “BOSS”.

Persis seperti dalam cerita Harry Potter, berdekatan dengan para Dementor bisa bikin lo tiba-tiba merasa suram, putus asa, hidup tiada guna, negara serasa mau bangkrut, kiamat seakan minggu depan, kerja kayak nggak ada gunanya, dsb dsb. Pada stadium lanjutan, infeksi Dementor bisa mengakibatkan timbulnya rasa curiga kalo orang lain berhasil, sirik kalo liat orang lain senang, bahkan terasa dorongan ingin nyabot sukses orang. Dengan kata lain, Dementor itu menular, dan dampak penularannya sangat merugikan. Hati-hati!

Kenapa kita sebaiknya jangan sampe ketularan jadi Dementor?
Karena nggak ada orang yang seneng denger keluhan, termasuk diri kita sendiri. Semakin banyak lo mengeluh, semakin lo benci sama diri sendiri. Semakin lo benci sama diri sendiri, lo semakin yakin bahwa diri lo nggak berguna. Semakin lo yakin diri lo nggak berguna, semakin tertutup jalan untuk hidup lebih baik.

Kenali Dementor sejak dini
Penampilan boleh nipu, tapi Dementor sejati nggak pernah bisa menyembunyikan sifat aslinya. Ciri-ciri yang paling gampang dikenali adalah:

1. Frekuensi curhat yang sangat tinggi, dengan topik masalah pribadi yang seolah penting banget untuk diketahui semua orang, dan nggak ada solusinya.

Yang paling mengganggu dari kebiasaan Dementor yang satu ini adalah, mereka bisa bikin sebuah acara ngumpul yang tadinya ’seru’ dan ‘hore’ jadi ngedrop dengan curhatan-curhatannya.

Contoh:
“Eh si X baru beli HP lho!” kata seseorang
“Oh ya, apa merknya?” sambut yang lain antusias
“Sony Ericsson, kalo nggak salah”
“SE?! Wah siap-siap aja tuh, kan batrenya cepet bocor. Nih gue pake SE baru sebentar udah rese gini batrenya… blablabla… mana harga jualnya cepet jatuh… blablabla… mau beli lagi nggak ada duit… blablabla… apa-apa sekarang mahal… blablabla… gaji nggak naik-naik…”
Pokoknya begitu si Dementor angkat bicara, semua yang hadir tiba-tiba merasa suntuk, lesu, nggak bergairah. Atau dengan kata lain, ya itu tadi: ngedrop.

2. Dementor selalu mampu melihat sisi jelek dari segala sesuatu, nggak peduli sebagus apapun keadaannya.

Kalo mau dibilang sebagai ‘bakat’, memang kemampuan Dementor yang satu ini nggak dimiliki kebanyakan orang. Saat semua orang terkagum-kagum atas kehebatan sesuatu, para Dementor dengan kejelian yang luar biasa selalu mampu menemukan celanya.

Contoh:
“Gue kemarin ketemu sama suaminya Ibu X. Ya ampun, orangnya ganteng sekali ya… udah gitu keliatannya baik, lagi.”
“Iya, gue juga pernah ketemu. Dia juga setia, lho…”
“Jangan lupa, pinter pulak. Kalo nggak salah dia lulusan terbaik waktu kuliah dulu.”
“Pantesan karirnya juga bagus, ya. Sekarang posisinya udah lumayan tinggi, kan?”
“…kalo tidur pasti ngorok kaya babi,” kata sang Dementor merusak suasana.

3.Dementor senang membandingkan diri dengan lawan bicara, sedemikian rupa sehingga dirinya terdengar jauh lebih apes, dan akhirnya lawan bicara menjadi sungkan.

Contoh:
“Hai, gue denger abis pindah rumah ya?”
“Iya nih, biasa… pinjeman dari kantor…”
“Ih enak ya, kantornya ngasih pinjemen rumah.. gue dong masih ngontrak mulu…”
“Oh…”
“Mana gaji nggak naik-naik, buat bayar kontrakan aja udah ngepas, gimana mau nabung buat beli rumah?”
“Ehm… tapi…”
“Udah mana sekarang BBM naik, apa-apa ikut naik, makin cekak aja deh rasanya… Kalo elu kan enak, gaji gede, fasilitas banyak…”
“Eh… permisi dulu ya, mau gantung diri dulu bentar boleh?”

4. Dementor gemar mematikan semangat orang lain.

Seperti pasukan pemadam kebakaran ngeliat api, semakin besar apinya, semakin giat upayanya untuk memadamkan.

Contoh:
“Gue mau coba bisnis baru nih!”
“Bisnis apa?”
“Jualan baju anak-anak”
“Yahhh… hari gini jualan baju! Nggak liat tuh, di ITC yang jualan baju udah segambreng?”
“…tapi koleksi gue unik-unik lho! Lain daripada yang lain deh!”
“Alaaah… unik kaya apa sih, paling sebentar lagi juga pasaran.
Liatin aja!”
“Euh… gue juga berencana ngikutin perkembangan tren lho…”
“Emangnya lu kira gampang? Gue pernah tuh, coba jualan baju kayak elu. Awalnya semangat, eh terakhirnya malah rugi. Mana barang dagangan dibawa kabur orang…”
dst dst dst.

Kiat menghadapi Dementor
Cara paling aman adalah: jangan dideketin. Begitu seseorang yang ada di dekat lo menunjukkan ciri-ciri seorang Dementor, segeralah jauh-jauh. Cari alasan apa aja, bilang mau beli rokok ke Ujung Kulon kek, mau nguras sumur kek, terserah. Yang penting jangan deket-deket mereka. Ingat, Dementor itu sangat menular!

Checklist Dementor
Sedangkan bagi kalian yang selama ini telah menjadi Dementor tapi nggak menyadarinya, coba teliti daftar berikut. Kalo kalian merasa setuju dengan 5 pernyataan atau lebih, hati-hati, kalian sedang menjelma menjadi Dementor.
Segeralah minta pertolongan profesional, sebelum terlambat.

  • Sebagian besar orang lebih beruntung dari gue
  • Nggak ada orang yang bisa hidup layak dengan gaji sekecil gue
  • Semakin lama, kondisi perekonomian semakin buruk. Gue nggak tau bulan depan masih bisa hidup atau enggak
  • Gue nggak tau gue ingin jadi apa
  • Gue benci sama kantor gue, tapi kalo gue resign nanti nggak ada kantor lain yang mau nerima
  • Naik pangkat? Jangan ah. Ntar kalo gagal gimana?
  • Tentu aja dia naik pangkat. Rajin jilat pantat, pasti.
  • Dari dulu memang gue ditakdirkan apes
  • Gue nggak pinter, makanya nggak bisa sukses kayak orang lain
  • Orang tua gue asal-asalan nyekolahin gue, makanya gue jadi kaya gini sekarang
  • Gue nggak kebayang gimana caranya biar bisa hidup lebih baik
  • Orang emang gampang kasih nasehat. Mereka belum ngerasain susahnya hidup gue, sih.
  • Percuma gue kerja keras, toh tiap bulan gajinya cuma segitu-segitu aja
  • Orang lain enak punya duit buat refreshing. Gue boro-boro refreshing, makan aja susah. Makanya harap maklum kalo gue stress.
  • Gue udah ketuaan untuk nyoba hal baru
  • Kenapa sih nggak ada orang yang ngertiin gue
  • Orang lain enak, punya orang tua kaya buat minjem duit kalo butuh. Giliran gue, yang ada emak gue nodong mulu buat beli beras
  • Kalo ada orang baik sama gue, pasti ada maunya
  • Boss muji gue? Pasti dia salah orang.
  • “7 Habits”-nya Steven Covey? Itu kan buatan Amerika, mana bisa berlaku di sini
  • Luna Maya aja masih ngejomblo, apalagi gue yang jelek begini
  • Emang dunia makin parah. Kucing aja makin hari makin kurang ajar.

Pesan bagi para Dementor
Tema utama hidup kalian adalah: merasa diri sebagai orang paling apes sedunia.

Padahal sekarang penduduk dunia ada 6.7 miliar orang. Jadi, lo harus mengalahkan keapesannya 6.699.999.999 orang. Itu nggak gampang, lho. Apa iya lo sehebat itu?



Antusiasme, Rahasia Keberhasilan Yang Jarang Dikenal

May 16, 2008 By: cipto Category: Luck Factors, Attitude 2 Comments →

“Success is going from failure to failure without loss of enthusiasm.”

(Keberhasilan berjalan dari kegagalan ke kegagalan tanpa kehilangan antusiasme)

- Winston Churchill -

Kata antusias (enthusiast) atau antusiasme (enthusiasm) berasal dari bahasa Yunani kuno “entheos” yang berarti “Tuhan di dalam” dan antusias berarti “diilhami dari Tuhan”. Sedangkan menurut kamus Webster, antusiasme berarti “kegairahan yang kuat terhadap salah satu sebab atau subyek; semangat atau minat yang berapi-api; kegairahan.”

Sikap antusias akan membawa kita pada pikiran, perasaan dan tindakan yang positif. Sikap antusias menimbulkan gairah positif yang meningkatkan kualitas hubungan dengan orang lain, membuat kita lebih terbuka terhadap ide-ide atau peluang baru dan bahkan meningkatkan kualitas kesehatan kita.

Dale Carnegie telah membuktikan keampuhan antusiasme bagi kesuksesan dirinya, sebagaimana telah ditulis dalam bukunya yang berjudul “Rahasia Keberhasilan yang Jarang Dikenal.” Ia pernah mengatakan bahwa “antusiasme yang murni dan sepenuh hati adalah satu dari faktor-faktor kesuksesan dalam hampir segala usaha.” Dalam wawancaranya dengan berbagai tokoh sukses dunia, Dale Carnegie juga mendapatkan kesimpulan yang sama tentang kekuatan antusiasme. Frederick Williamson, Presiden Direktur New York Central Railway pada saatnya, mengungkap rahasia keberhasilannya kepada Carnegie dengan mengatakan : “Semakin lama saya hidup, semakin saya yakin bahwa antusiasme adalah rahasia keberhasilan yang jarang dikenal. Perbedaan nyata dalam ketrampilan, kemampuan dan kecerdasan antara mereka yang sukses dan yang gagal biasanya tidak begitu besar dan menyolok. Tetapi bila ada dua orang hampir setara dalam segala hal, maka dia yang antusias akan lebih unggul. Dan orang dengan kemampuan biasa-biasa saja tetapi memiliki antusiasme sering melebihi orang dengan kemampuan hebat tetapi tanpa antusiasme.” Charles Schwab - seseorang yang gajinya satu juta dolar setahun pada masanya - juga mengatakan kepada Carnegie bahwa rahasia keberhasilannya adalah antusiasme. Dia menyatakan bahwa seseorang dapat berhasil dalam bidang apa saja apabila dia memiliki antusiasme tak terbatas.

Charles F. Kettering, seorang penemu dan pakar otomotif terkenal, mengemukakan kaitan antara antusiasme dengan kesempatan. Ia mengatakan : “Kita baru memasuki suatu era dimana dalam tiap bidang yang dapat dibayangkan, ada kesempatan yang tidak pernah diimpikan sebelumnya. Kesempatan-kesempatan ini akan datang kepada mereka yang memiliki antusiasme.”

Albert Carr, dalam bukunya How to Attract Good Luck tidak menyebut kata antusiasme, tetapi sebagai gantinya ia menyebut kata “semangat” (”zest”) - yang kurang lebih sama artinya dengan antusias - sebagai jalan pintas menuju keberuntungan (the shortcut to luck). Ada alasan yang mendasar mengapa Carr mengambil kesimpulan begitu. Alasannya adalah bahwa “semangat” yang kita pancarkan kepada orang lain akan melemparkan ‘kabel’ kemujuran sehingga mengalirlah “arus kemujuran” dengan cepat kepada kita. Seringkali semangat juga memperlihatkan pengaruhnya atas keberuntungan secara lebih halus dan dalam periode waktu yang lebih lama. Carr memberi contoh bagaimana Winston Churchill menuai keberuntungan yang besar karena semangatnya yang tinggi. Kualitas semangatnya sudah berkobar-kobar semenjak ia masih muda, sebelum terjun ke dunia politik. Ketika ia menjadi wartawan muda, rekan-rekannya sesama jurnalis (yang kebanyakan lebih senior) menjulukinya dengan sinis sebagai “si setan mujur Churchill”, karena ia berhasil memperoleh beberapa berita penting dari nara sumber yang berpangkat jenderal (pada masa Perang Boer), sementara wartawan yang lain kesulitan mendapatkannya. Hal itu ternyata disebabkan oleh semangat Churchill yang berhasil ‘mencuri hati’ sang jenderal. Ia memang beruntung, tetapi yang tidak mereka lihat adalah sejauh mana keberuntungan itu “diundang” Churchill dengan kesiapan bersemangat dalam setiap petualangannya. Dan dalam sejarah, ia diakui oleh dunia sebagai orang yang paling bersemangat di zamannya.

Antusiasme atau semangat memang dahsyat kekuatannya, karena telah menimbulkan kesan yang mendalam bagi orang lain yang kita ajak bicara. Pengaruhnya akan lebih kuat lagi jika ditambahi dengan keramahtamahan, apalagi dengan orang asing atau orang yang baru kita kenal. Hal ini akan melipatgandakan manfaat dari networking yang kita lakukan. Bila dengan networking kita bisa memperbesar kemungkinan mendapatkan peluang, maka dengan tambahan antusiasme dan keramahan, peluang itu akan lebih cepat ditemukan, bahkan bisa “menyambar” kita dengan cepat. Itulah kekuatan dari antusiasme atau semangat. Jadi tidak salah apabila Bertrand Russell menyebut semangat sebagai “tanda paling khusus dan universal dari orang-orang bahagia.” (SA).

Ingin Lebih Sehat dan Awet Muda? Bersikaplah Positif!

April 30, 2008 By: cipto Category: Attitude 1 Comment →

Salah satu manfaat dari bersikap positif adalah membuat kita lebih sehat dan awet muda. Mengapa bisa begitu ? Karena kesehatan fisik manusia sangat dipengaruhi oleh kesehatan mentalnya.

Banyak study dan penelitian menunjukkan bahwa kesehatan mental, misalnya memiliki sikap positif dan sikap optimis, bisa mempengaruhi kesehatan fisik seseorang.

Sebuah hasil penelitian di Belanda, yang diterbitkan di Archives of General Psychiatry edisi November 2004, menunjukkan bahwa orang-orang yang lebih optimis memiliki resiko kematian yang lebih rendah terhadap suatu penyakit.

Penelitian ini melibatkan lebih dari 900 orang, pria dan wanita, berumur antara 65 tahun sampai 85 tahun, berdasarkan isian kuesioner yang meliputi kesehatan, harga diri, moral, optimisme dan hubungan dengan orang lain. Dilaporkan bahwa orang-orang yang tingkat optimismenya tinggi memiliki resiko kematian 55% lebih rendah untuk semua penyakit dan 23% lebih rendah untuk resiko kematian akibat penyakit jantung (cardiovascular) dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki tingkat pesimisme yang tinggi.

Penelitian berikutnya yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Wisconsin-Madison, yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences juga menunjukkan bahwa aktivitas otak yang berkaitan dengan ‘pikiran negatif’ memperlemah sistem kekebalan tubuh.

Orang-orang yang memiliki aktivitas otak yang sangat tinggi di daerah otak ‘pre-frontal cortex’ bagian kanan, yang berkaitan dengan ‘pikiran negatif’ (misalnya sikap pesimis) memiliki respon yang lebih buruk terhadap vaksin influenza. Sedangkan orang-orang yang memiliki aktivitas otak yang tinggi di bagian ‘pre-frontal cortex’ kiri, yang berkaitan dengan emosi positif, lebih bagus respon-nya terhadap vaksin.

Study menarik lainnya dilakukan oleh Dr. Judith Tedlie Moskowitz dari University of California -San Francisco
, yang membuktikan hubungan antara ‘positive feeling’ dengan resiko kematian akibat penyakit AIDS. Penelitian ini melibatkan 407 orang pria penderita HIV/AIDS dari daerah San Francisco antara tahun 1984 sampai 1993 dan lebih dari separohnya kemudian meninggal dunia.

Dr. Judith menemukan bahwa orang-orang yang memiliki skala ‘positive feeling’ tinggi telah menurunkan resiko kematiannya. Namun tidak demikian dengan ‘negative feeling’ yang ternyata tidak memiliki pengaruh yang ’significant’. Artinya bahwa ‘positive feeling’ merupakan ‘active ingredient’ di dalam penanganan penderita pasca terkena HIV/AIDS, untuk memberikan tambahan unsur pelindung atas sistem kekebalan tubuhnya.

Yang terakhir, Dr. Kazuo Murakami, sebagaimana tertulis dalam bukunya The Divine Message of the DNA, bekerjasama dengan perusahaan raksasa hiburan Jepang, Yoshimoto Kogyo Co. Ltd., melakukan eksperimen untuk mempelajari pengaruh dari tawa (salah satu pertanda atau indikasi emosi positif) terhadap penderita diabetes stadium dua.

Dalam penelitian ini, pertama Murakami mengukur glukosa darah para penderita diabetes setelah berpuasa. Setelah itu, sebagian dari mereka diminta mendengarkan kuliah atau ceramah yang tidak lucu sementara sebagian yang lain menonton sebuah pertunjukan komedi. Kemudian, makanan pun dihidangkan lalu diukur kembali kadar glukosa darah mereka setelah makan.

Hasilnya, mereka yang mengikuti kuliah mengalami peningkatan kadar glukosa darah sebesar 123 mg/dl, sementara mereka yang menonton acara komedi hanya mengalami peningkatan sebesar 77 mg/dl. Murakami mengulang percobaan tersebut, dan sekali lagi, mereka yang menyaksikan acara komedi mengalami peningkatan glukosa darah yang jauh lebih kecil daripada mereka yang tidak menyaksikannya.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tawa memiliki pengaruh positif karena dapat menghambat peningkatan kadar glukosa darah yang bermanfaat bagi penderita diabetes. Lebih lanjut Murakami menemukan bahwa dua puluh tiga gen terkativasi berkat tawa. Dan untuk pertama kalinya terbukti bahwa emosi positif dapat memicu tombol genetik manusia. Hasil penemuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care edisi Mei 2003 dan jurnal Psychotherapy and Psychosomatics pada 2006 dan dilaporkan oleh Reuters ke seluruh dunia.

Jelaslah bahwa sikap positif, emosi positif, positive feeling dan sejenisnya memberikan pengaruh yang significant terhadap kesehatan fisik kita. Jadi, bila Anda ingin lebih sehat dan awet muda, milikilah sikap positif, selain tentunya tetap berolah raga secara rutin dan mengatur pola nutrisi Anda. (SA).


Racun Yang Mencerahkan

December 14, 2007 By: cipto Category: Inspirational Story, Attitude 1 Comment →

Dahulu kala di negeri Tiongkok, seorang gadis yang bernama Li-Li baru saja menikah dengan seorang pemuda kaya. Li-Li kemudian beserta suaminya tinggal bersama di rumah sang metua.

Dalam waktu singkat, Li-Li tahu bahwa ia sangat tidak cocok tinggal serumah dengan ibu mertuanya. Karakter mereka sangat jauh berbeda. Dan Li-Li sangat tidak menyukai kebiasaan ibu mertuanya.

Hari berganti hari, begitu pula bulan berganti bulan. Li-Li dan ibu mertuanya tak pernah berhenti berdebat dan bertengkar. Yang makin membuat Li-Li kesal adalah adat kuno Cina yang mengharuskan ia untuk selalu menundukkan kepala untuk menghormati mertuanya dan mentaati semua kemauannya.

Semua kemarahan dan ketidakbahagiaan di dalam rumah itu menyebabkan kesedihan yang mendalam pada hati suami Li-Li, seorang yang berjiwa sederhana.

Akhirnya, Li-Li tidak tahan lagi terhadap sifat buruk dan kelakuan ibu mertuanya. Dan ia benar-benar telah bertekad untuk melakukan sesuatu.

Li-Li pergi menjumpai seorang teman ayahnya yaitu Sinshe Wang yang pandai membuat ramuan obat tradisional untuk segala penyakit. Ia menceritakan situasinya dan minta dibuatkan ramuan racun yang kuat untuk diberikan pada ibu mertuanya.

Sinshe Wang berpikir keras sejenak. Lalu ia berkata, “Li-Li, saya mau membantu kamu menyelesaikan masalahmu, tetapi kamu harus mendengarkan saya dan mentaati apa yang saya sarankan.”

Li-Li berkata, “Baik Pak Wang, saya akan mengikuti apa saja yang Bapak katakana dan apa yang harus saya perbuat.”

Sinshe Wang masuk ke dalam, dan tak lama ia kembali dengan menggenggam sebungkus ramuan. Ia berkata kepada Li-Li, “Kamu tidak bisa memakai racun keras yang mematikan seketika, untuk meyingkirkan ibu mertuamu, karena hal itu akan membuat semua orang menjadi curiga. Oleh karena itu, saya memberi kamu ramuan beberapa jenis tanaman obat yang secara perlahan-lahan akan menjadi racun di dalam tubuhnya.

Sinshe Wang melanjutkan, “Setiap hari, sediakan makanan yang enak-enak dan masukkan sedikit ramuan obat ini ke dalamnya. Lalu, supaya tidak ada yang curiga saat ia mati nanti, kamu harus hati-hati sekali dan bersikap sangat bersahabat dengannya. Jangan berdebat dengannya, taati semua kehendaknya, dan perlakukan dia seperti seorang ratu.”

Li-Li sangat senang. Ia berterima kasih kepada pak Wang dan buru-buru pulang ke rumah untuk memulai rencana membunuh ibu mertuanya. Minggu demi minggu, bulan demi bulan pun berlalu.

Setiap hari Li-Li melayani mertuanya dengan makanan yang enak-enak, yang sudah “dibumbuinya”. Ia mengingat semua petunjuk dari Sinshe Wang tentang hal mencegah kecurigaan. Maka ia mulai belajar untuk mengendalikan amarahnya, mentaati perintah ibu mertuanya, dan memperlakukannya seperti ibunya sendiri.

Setelah enam bulan lewat, suasana di dalam rumah itu berubah secara drastis. Li-Li sudah mampu mengendalikan amarahnya sedemikian rupa sehingga ia menemukan dirinya tidak pernah lagi marah atau kesal.

Ia tidak pernah berdebat lagi dengan ibu mertuanya selama enam bulan terakhir karena ia mendapatkan bahwa ibu mertuanya kini tampak lebih ramah kepadanya. Sikap si ibu mertua terhadap Li-Li telah berubah, dan mulai mencintai Li-Li seperti puterinya sendiri. Ia terus menceritakan kepada kawan-kawan dan sanak familinya bahwa Li-Li adalah menantu yang paling baik yang ia peroleh.

Li-Li dan ibu mertuanya saling memperlakukan satu sama lain seperti layaknya seorang ibu dan anak yang sesungguhnya. Suami Li-Li sangat bahagia menyaksikan semua yang terjadi.

Suatu hari, Li-Li pergi menjumpai Sinshe Wang dan meminta bantuannya sekali lagi. Ia berkata, “Pak Wang, tolong saya untuk mencegah supaya racun yang saya berikan kepada ibu mertua saya tidak sampai membunuhnya!”

“Ia telah berubah menjadi seorang wanita yang begitu baik, sehingga saya sangat mencintainya seperti kepada ibu saya sendiri. Saya tidak mau ia mati karena racun yang saya berikan kepadanya.”

Sinshe Wang tersenyum. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Li-Li, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Saya tidak pernah memberi kamu racun. Ramuan yang saya berikan kepadamu itu hanyalah ramuan penguat badan untuk menjaga kesehatan beliau.”

“Satu-satunya racun yang ada, adalah yang terdapat di dalam pikiranmu sendiri, dan di dalam sikapmu terhadapnya, …” “… tetapi semuanya itu telah disapu bersih dengan cinta yang kamu berikan kepadanya …”

Moral dari Cerita ini :

Sadarkah Anda bahwa sebagaimana Anda memperlakukan orang lain maka demikianlah persis bagaimana mereka akan memperlakukan Anda ?

Ada pepatah Tiongkok kuno mengatakan: “Orang yang mencintai orang lain, akan dicintai juga sebagai balasannya.” Walaupun dalam kenyataannya orang yang kita cintai tidak selalu mencintai kita, tetapi TETAPLAH mencintai, karena TUHAN tidak pernah tidur dan karena apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. WISH YOU LUCK. (SA).


Prinsip 90/10 ala Stephen Covey

October 20, 2007 By: cipto Category: Attitude 1 Comment →

Selama ini kita mengetahui apa yang disebut dengan Prinsip 80/20 yang lebih dikenal dengan Prinsip Pareto. Prinsip ini mengatakan bahwa lebih kurang 80% HASIL berasal dari 20% (atau kurang) PENYEBAB.

Meminjam analogi Prinsip 80/20, Stephen Covey, pengarang buku laris The Seven Habits of Highly Effective People, mempopulerkan Prinsip 90/10. Prinsip ini mengatakan bahwa 10% dari hidup kita ditentukan oleh apa yang terjadi dan 90% ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi terhadap kejadian-kejadian itu.

Maksudnya adalah bahwa kita tidak bisa mengontrol terhadap 10% dari apa yang terjadi kepada kita. Sebagai contoh kita tidak bisa mengontrol kemacetan di jalan raya. Kita tidak bisa mengontrol bila pesawat yang kita tumpangi ternyata delay. Kita juga tidak bisa mengontrol harga minyak dunia yang terus melambung.

Tetapi tentu sangat berbeda dengan 90% sisanya. Anda bisa mengendalikannya. Bagaimana caranya ? Yaitu melalui reaksi atau respon yang Anda pilih.

Anda tidak bisa mengontrol kemacetan di jalan, tetapi Anda bisa mengontrol apa yang akan Anda lakukan ketika menemui kemacetan. Anda bisa melamun saja, menggerutu, mengumpat atau menyalahkan pemerintah yang tak segera membangun jalan baru. Atau Anda bisa mendengarkan musik kesukaan, mendengarkan audio CD motivasi, menghubungi relasi atau membalas e-mail penting melalui PDA atau smartphone Anda (tentu yang ini bila Anda punya sopir atau tidak sedang dibelakang kemudi). Intinya, Anda punya porsi 90% untuk melakukan apapun apakah yang tidak bermanfaat atau yang bermanfaat.

Anda tidak tahu bila ternyata pesawat yang akan Anda tumpangi delay, tetapi Anda bisa memilih reaksi Anda ketika petugas di bandara mengumumkan bahwa pesawat Anda delay dua jam. Anda bisa kesal, marah-marah atau mengajak berantem si petugas karena pengumumannya terlambat. Anda bisa sabar menunggu sambil membaca koran, tidur di ruang tunggu keberangkatan, surfing internet, mencari kenalan baru atau pergi ke cafe. Anda punya banyak sekali pilihan.

Begitu juga, Anda tidak bisa mengontrol melambungnya harga minyak yang mendekati US$100 per barrel. Apa yang bisa Anda lakukan ? Bahkan Presiden OPEC-pun tak bisa berbuat banyak, sami mawon dengan Presiden SBY yang notabene bakal pusing juga karena negara ini ‘net importer’ minyak. Tetapi di balik itu, Anda tetap bisa mengontrol agar biaya produksi barang-barang Anda tidak melambung tinggi. Anda bisa memakai energi alternatif selain minyak, Anda bisa melakukan negosiasi ulang dengan transporter atau forwarding atau rekanan ekspedisi Anda, Anda bisa melakukan efisiensi di berbagai bidang, Anda bisa menaikkan produktivitas melalui SDM, mesin atau sistem yang Anda miliki atau bila memungkinkan Anda bisa menaikkan harga jual atau apapun agar perusahaan Anda bisa tetap profitable dan competitive. Biarlah anjing menggonggong (maksud saya ‘harga minyak melambung’) kafilah tetap berlalu (maksud saya ‘produksi harus tetap jalan’, ‘dapur harus tetap mengepul’).

Jutaan orang menderita karena keadaan. Ada yang kehilangan pekerjaan, ditinggal sahabat, sedih, stress, depresi, bahkan banyak yang bunuh diri. Bagi mereka seolah-olah dunia ini bersekongkol untuk memusuhi mereka. Hari-hari jelek diikuti oleh hari-hari jelek berikutnya. Semuanya terasa suram, termasuk masa depan mereka. Ada yang pasrah dengan mengatakan : “Ah memang nasibku begini”. Ada juga yang ujung-ujungnya menyalahkan Tuhan yang dituduh tidak adil.

Di lain pihak, pada situasi dan kondisi yang sama, jutaan orang yang lain tetap bisa menikmati hidup bahkan semakin berbahagia. Mereka terus bisa berkarya dan bisa bermanfaat bagi orang lain dan dirinya sendiri. Mereka tidak fokus pada kejadian yang tidak bisa dikendalikannya, tetapi mereka fokus kepada apa yang bisa dilakukannya. Mereka menemukan solusi di setiap masalah. Mereka melihat peluang di setiap krisis.

Apa yang membedakan ‘nasib’ kedua kelompok ini ? Karena kelompok pertama hanya berfokus pada yang 10%, hal-hal yang tak bisa dikendalikannya, sedangkan kelompok yang kedua berfokus kepada yang 90%, respon mereka, apa yang bisa mereka lakukan.

Keduanya mulai dari titik ’start’ yang sama, situasi dan kondisi yang sama. Tetapi cara pandang keduanya berbeda, paradigma berpikirnya berbeda, maka tindakannya berbeda. Hasilnya sudah pasti berbeda.

Bagaimana dengan Anda ? Terserah mau pilih yang mana. Tetapi untuk mengubah hidup Anda menjadi lebih baik, hanya ada satu pilihan. Terapkan Prinsip 90/10 dalam setiap kejadian. Terjadilah yang 10% dan kendalikanlah yang 90%. Wish You Luck. (SA).