My Life Journey

Berbagi, Melayani & Menebar Rahmat
Subscribe

Archive for the ‘Goal Setting’

Goal Setting dan Keberuntungan (Bagian Keenam)

October 31, 2009 By: cipto Category: Goal Setting, Luck Factors No Comments →

Keempat : Tujuan Yang Menantang

Tujuan yang menantang adalah tujuan yang menuntut Anda untuk mengerahkan kemampuan lebih Anda, tujuan yang membuat Anda meregang (to stretch) dan keluar dari zona nyaman (comfort zone) Anda. Untuk mencapai tujuan ini maka Anda harus bertumbuh, memiliki sikap baru, Anda perlu mempelajari ketrampilan baru, membangun hubungan baru dan mampu mengatasi rasa takut yang bakal muncul.

Menurut Brian Tracy, agar tujuan Anda menantang, buatlah tujuan yang kemungkinan suksesnya 50% atau lebih. Inilah tujuan yang ideal untuk motivasi, tidak mudah namun masih masuk akal untuk dicapai. Setelah Anda memiliki pengalaman dan merasa bergairah, tidak ada salahnya apabila Anda menetapkan tujuan yang lebih menantang lagi, misalnya yang mempunyai probabilitas 40%, 30% bahkan 20%. Semakin sulit mencapainya, semakin merasa nikmat dan bangga bila Anda berhasil.

Tujuan yang menantang bisa juga berarti tujuan terobosan (breakthrough) atau tujuan yang besar, yaitu tujuan yang memberikan perubahan besar bagi kehidupan Anda. Lebih ekstrim lagi orang menyebutnya sebagai tujuan yang membuat lompatan kuantum (quantum leap) bagi kehidupan Anda.

Sahabat saya Jamil Azzaini dalam bukunya Kubik Leadership (yang ditulisnya bersama Farid Poniman dan Indrawan Nugroho) menyebutnya sebagai bintang terang, yaitu sebuah prestasi terbesar yang ingin kita capai dalam hidup (the ultimate life achievement). ‘Bintang’ adalah mimpi kita yang tinggi laksana ‘menggapai bintang’, bukan sesuatu yang mudah dicapai. Sedangkan ‘terang’ adalah prestasi besar yang menarik dan sangat berarti bagi kita sehingga bisa dijadikan petunjuk arah dan memberikan ‘penerangan’ di masa-masa sulit. Jamil lebih lanjut mengatakan bahwa semua orang besar memiliki bintang terang. Sebagai contoh, Bill Gates memimpikan adanya komputer pribadi di setiap rumah. Henry Ford memimpikan semua orang bisa memiliki mobil. Sedangkan Tony Fernandes, CEO Air Asia, memimpikan semua orang bisa terbang dengan layanan penerbangan murahnya (low cost carrier).

Pembaca yang budiman, mudah-mudahan Anda sudah mulai tertantang. Oleh sebab itu, maka mulailah bermimpi dan membuat tujuan yang besar dan menantang (mumpung bermimpi belum dilarang dan masih gratis, sorry yang ini hanya bercanda). Ambil contoh, bila Anda sudah mengalami obesitas (overweight) alias kelebihan berat badan, katakanlah berat Anda 80 kg sedangkan tinggi badan cuma 160 cm, coba buat tujuan untuk menurunkan berat badan sebesar 22 kg (menjadi 58 kg) dalam waktu enam bulan kedepan. Apakah cukup menantang ? Bila penghasilan Anda saat ini Rp 2.500.000 per bulan, maka buatlah tujuan untuk meningkatkan penghasilan menjadi Rp 4.000.000 setahun kedepan. Masih masuk akan


kan

?

Dengan membuat tujuan yang menantang, seringkali kreativitas Anda akan muncul, Anda akan lebih ‘waspada’ terhadap setiap peluang dan segera mengubahnya menjadi keberuntungan.

Selain secara kualitatif, bagi beberapa type orang, tujuan yang menantang juga bisa dinyatakan secara kuantitatif, yaitu dengan membuat tujuan yang sangat banyak. Ini sangat cocok dengan orang-orang yang berjiwa petualang.

Apabila Anda ingin tahu siapa orang yang paling pantas disebut sebagai pencapai tujuan paling fenomenal dari segi petualangannya, mungkin John Goddard-lah orangnya (Anda bisa mengeceknya di www.johngoddard.info). Pada saat berusia 15 tahun, ia telah menuliskan daftar 127 tujuan yang disebutnya sebagai “Daftar Kehidupanku” (My Life List). Daftar tujuan itu benar-benar dikejarnya. Pada saat berusia 47 tahun (tahun 1972), ia telah sukses meraih 103 tujuan. Berita terakhir, tahun ini, ketika usianya sudah mencapai 82 tahun, ia telah meraih 111 tujuan dari 127 tujuan utama ditambah sekitar 400 tujuan yang dibuatnya belakangan.

Inilah beberapa contoh tujuan yang telah diraih oleh John Goddard. Ia berhasil mendaki beberapa gunung tertinggi dunia misalnya Kilimanjaro,


,
Rainier
, Ararat, termasuk juga Bromo di Jawa Timur. Ia adalah orang pertama yang telah mengarungi sungai terpanjang di dunia, Nil, sepanjang 4160 mil, yang membuat petualangannya disebut sebagai “the most amazing adventure of this generation”. Sungai-sungai seperti Amazon, Congo di Afrika, Colorado, Rio Coco juga berhasil ditaklukkannya, termasuk juga melakukan penyelaman bawah air di Laut Merah, Kepulauan Fiji dan Bahamas. Goddard telah mengunjungi lebih dari 120 negara, melihat Tembok Besar China, Terusan Suez dan Panama, Kota Vatikan, Kepulauan Galapagos, Taj Mahal, Menara Eiffel, Menara miring Pisa dan termasuk juga mempelajari kehidupan 260 suku-suku primitif di dunia (diantaranya suku-suku primitif di pedalaman Kalimantan). Ia bangga bisa menyaksikan secara langsung upacara pembakaran jenazah Ngaben di Bali, mampu menerbangkan berbagai pesawat termasuk F-111 Fighter Bomber dengan rekor kecepatan 1500 mil per jam, belajar bahasa Perancis, bahasa Spanyol dan bahasa Arab, belajar ski, belajar bela diri jujitsu, berhasil menulis buku dan masih banyak lagi lainnya.

Tidak heran apabila koran


Times menyebut John Goddard sebagai “Indiana Jones yang sesungguhnya” (The real life

Indiana

Jones).

Contoh yang lain lagi, Lou Holtz (lahir pada tanggal 6 Januari 1937), seorang mantan pelatih American Football yang legendaris di Amerika Serikat, telah menuliskan 107 tujuan yang ingin diraihnya selama hidup di dunia. Ia terinspirasi oleh buku The Magic of Thinking Big karya David J. Schwartz yang menyebutkan bahwa kita harus menuliskan semua tujuan yang ingin dicapai dalam hidup ini. Lou saat itu (pada tahun 1966) sedang frustrasi setelah ia bangkrut dan menjadi pengangguran di usia 28 tahun sementara istrinya tengah hamil delapan bulan. Beberapa tujuan yang ditulisnya mencakup makan malam di Gedung Putih, bertemu dengan Paus, melatih klub Notre Dame, mengantarkan timnya ke kejuaraan nasional dan melakukan pukulan hole in one dalam bermain golf. Ternyata dari 107 tujuan yang dicanangkan, ia berhasil meraih 81 tujuan atau 76% keberhasilan. Bukankah ini merupakan pencapaian yang legendaris pula.

Satu contoh petualangan lainnya dilakukan oleh Jack Canfield, salah satu penulis seri buku best seller, Chicken Soup for the Soul. Ia telah membuat daftar 101 tujuan utama dalam hidupnya sebelum meninggal dunia. Dan dalam kurun waktu hanya 14 tahun, ia telah berhasil mencapai 58 tujuan, termasuk diantaranya mengunjungi salah satu negara Afrika, terbang dengan layang gantung, belajar ski, menyaksikan secara langsung Olimpiade musim panas, menulis buku anak-anak dan sebagainya.

Bagaimana dengan Anda ? Jika terinspirasi, segeralah membuat daftar 101 tujuan Anda. Nikmatilah perjalanannya dan berilah tanda centang (tick, apa ya Bahasa Indonesia-nya ?) di tiap tujuan yang berhasil Anda raih. Dan Anda akan merasa menjadi orang yang lebih beruntung.


Goal Setiing dan Keberuntungan (Bagian Kelima)

October 31, 2009 By: cipto Category: Goal Setting, Luck Factors No Comments →

Ketiga : Tujuan Yang Jelas dan Terukur

Tujuan yang jelas dan terukur adalah tujuan yang bersifat kualitatif sekaligus kuantitatif, yaitu tujuan yang mampu menjawab tiga pertanyaan di bawah ini :

  • Apa yang diinginkan : pemaparan tujuan secara jelas dan terperinci. Anda tahu apa yang Anda mau.
  • Berapa banyak : ukuran kuantitas yang ingin dicapai seperti berapa Rupiah, kilogram, ton, meter persegi, jumlah karyawan dan lain-lain.
  • Kapan waktunya : batas waktu tertentu bisa berupa tanggal tertentu atau lamanya waktu yang diperlukan.

Dengan memiliki tujuan yang jelas dan terukur, maka pikiran bawah sadar akan mengetahui dengan tepat apa yang harus dicapai, sehingga kita mampu mengenali peluang yang tepat pula untuk meraih keberuntungan. Semakin jelas tujuan Anda, semakin mudah Anda mengenali peluang yang tepat.

Berikut ini adalah beberapa contoh perbandingan antara tujuan yang samar-samar dan tidak terukur dengan tujuan yang jelas dan terukur.


Tujuan yang samar-samar vs. Tujuan yang jelas dan terukur

Samar-samar : Gaji yang besar

Jelas & terukur : Memiliki gaji bersih senilai Rp 25 Juta per bulan sejak awal Januari 2010.

Samar-samar : Memiliki rumah

Jelas & terukur : Memiliki rumah dengan luas tanah 500 meter persegi di daerah Pondok Indah, Jakarta, pada ulang tahunku yang ke-40.

Samar-samar : Menurunkan berat badan

Jelas & terukur: Berat badan 60 kilogram pada tanggal 30 Juni 2008 atau tiga bulan dari sekarang.

Samar-samar : Punya perusahaan

Jelas & terukur: Memiliki perusahaan sendiri di bidang perdagangan makanan beku dengan jumlah karyawan sebanyak 10 orang pada tanggal 15 September 2009.

Samar-samar : Selalu memiliki pelanggan baru

Jelas & terukur : Memiliki pelanggan baru sebanyak 10 pelanggan baru tiap bulan sejak 1 April 2009.

Goal Setting dan Keberuntungan (Bagian Keempat)

September 30, 2009 By: cipto Category: Goal Setting, Luck Factors No Comments →

Kedua : Tujuan Yang Sesuai Dengan Nilai-Nilai Pribadi

Nilai-nilai (values) adalah hal-hal yang Anda anggap penting dalam hidup ini dan sebenarnya merupakan tujuan yang tak tampak (intangible) bagi Anda. Nilai-nilai Anda mewakili keyakinan Anda yang paling dalam tentang apa yang benar dan salah, apa yang baik dan buruk, serta apa yang penting dan berarti bagi Anda. Setiap orang memiliki nilai-nilai sendiri yang mungkin tidak sama dengan nilai-nilai yang dimiliki orang lain. Nilai-nilai dibentuk mulai dari lingkungan keluarga dan dibawa sampai dewasa. Nilai-nilai Anda bisa berubah apabila Anda menemukan pengertian baru, paradigma baru atau pengalaman baru di dalam kehidupan ini.

Beberapa contoh nilai-nilai adalah kebebasan, kemandirian, kekuasaan, keluarga, persahabatan, keamanan, keindahan, kesenangan pribadi, uang, pengakuan, popularitas, gengsi, kesehatan dan nilai-nilai sosial. Manakah yang penting bagi Anda ?

Sebagai contoh, apabila nilai-nilai yang Anda anut adalah kebebasan dan kemandirian, maka sangat mungkin cita-cita yang paling cocok adalah menjadi pengusaha atau minimal self-employed (pekerja mandiri), sehingga Anda memiliki kebebasan untuk berekspresi dan mengaktualisasikan segala kreatifitas tanpa takut ‘dimarahi’ bos atau orang lain. Jadi apabila cita-cita Anda masih berkaitan dengan posisi Anda sebagai karyawan (yang notabene tidak bisa bebas berekspresi atau bertindak), maka prestasi Anda tidak akan bisa maksimal dalam jangka panjang, karena hati kecil Anda tidak akan puas bila terus menerus diperintah oleh orang lain. Sudah saatnya Anda merubah cita-cita Anda agar sesuai dengan nilai-nilai yang Anda anut.

Contoh lain, apabila keluarga merupakan sesuatu yang sangat penting bagi Anda (mengingat tidak semua orang menomorsatukan keluarga), tentu cita-cita seperti menjadi pelaut tidak cocok bagi Anda. Adalah sangat susah bagi Anda untuk memiliki banyak waktu bersama keluarga, menyenangkan hati istri (atau suami) serta anak-anak Anda, sementara Anda hanya bisa pulang ke rumah enam bulan sekali sebagai seorang pelaut.

Satu contoh lagi. Apabila Anda menganggap bahwa nilai-nilai sosial (kepedulian terhadap sesama) itu penting bagi Anda, maka Anda cocok bila bekerja di di bidang-bidang yang mempunyai fungsi sosial yang tinggi, misalnya di rumah sakit atau yang sejenisnya. Sebaliknya apabila Anda tidak menganggap nilai-nilai sosial sebagai suatu prioritas, sedangkan pekerjaan Anda mengharuskan untuk memiliki kepedulian sosial yang tinggi misalnya di rumah sakit, maka Anda tidak akan bekerja dengan sepenuh hati. Seorang Bunda Teresa namanya tidak akan dikenang seperti sekarang apabila ia tidak memiliki nilai-nilai sosial yang sangat tinggi. Ia menjadi tokoh sosial yang kharismatik karena mencintai pekerjaan yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya.

Jadi, temukanlah nilai-nilai Anda, kemudian buatlah tujuan atau cita-cita atau keinginan Anda sejalan dengan nilai-nilai tersebut. Maka Anda akan termotivasi dengan tujuan Anda tersebut karena tidak ada konflik antara tujuan yang ingin Anda capai dengan nilai-nilai yang Anda pegang teguh. Sebaliknya apabila tujuan Anda tidak sejalan (konflik) dengan nilai-nilai Anda, maka Anda akan merasakan ada ‘ganjalan’ di hati Anda yang akan menghambat Anda sendiri untuk mengejar tujuan Anda secara maksimal.


Goal Setting dan Keberuntungan (Bagian Ketiga)

September 30, 2009 By: cipto Category: Goal Setting, Luck Factors No Comments →

Pertama : Tujuan Yang Menggairahkan


Tujuan yang menggairahkan adalah tujuan atau sasaran yang membuat kita bergairah, senang atau gembira, antusias, memberikan energi (energizing) atau bersemangat untuk mengejarnya sampai dapat. Itulah yang disebut dengan keinginan yang menggebu-gebu (passion) atau hasrat inti (core desire).

Apabila Anda sudah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan memiliki suatu tujuan atau sasaran tertentu, namun Anda belum juga mempelajari apa yang dibutuhkan untuk menjadikannya terlaksana - apalagi mulai mengupayakannya - maka sangat mungkin karena tujuan itu tidak menggairahkan bagi Anda, atau karena tujuan itu bukan merupakan hasrat inti bagi Anda saat itu. Jadi, apabila Anda mengira sedang menginginkan sesuatu, padahal didalam hati itu bukanlah yang benar-benar Anda inginkan, maka Anda tidak akan pernah meraihnya.

Sebaliknya ketika Anda ingin bertemu dengan seseorang yang sangat spesial, sudah lama Anda dambakan dan rindukan, maka siang malam mungkin Anda akan terus memikirkannya. Kalau siang susah makan dan kalau malam susah tidur, begitu perumpamaannya. Anda akan berusaha dengan segala cara untuk mencari peluang bertemu dengannya. Anda tidak akan merasa malas betapapun jauh jarak yang harus dilalui. Mungkin Anda akan bertekad “bukit terjal akan aku daki, ngarai yang dalam ‘kan ku turuni, lautan luas ku sebrangi”. Tiba-tiba Anda merasa memiliki tenaga yang sangat besar, energi yang tiada batas dan semangat menyala-nyala. Luar biasa !!! Anda siap menaklukkan apapun yang akan menghadang di depan mata. Itulah kekuatan tujuan yang menggairahkan.

Oleh sebab itulah, maka carilah hal-hal yang membuat Anda benar-benar bersemangat untuk mencapainya. Lalu bagaimanakah kita mengetahui apa yang benar-benar kita hasratkan ? Semuanya bersumber dari dalam diri Anda, bukan sesuatu dari luar, bukan pula keinginan latah karena ikut-ikutan orang lain. Hasrat inti akan benar-benar efektif apabila bersumber dari bakat Anda, hobby Anda, pengetahuan yang Anda miliki atau ketrampilan khusus yang bisa Anda andalkan.

Michael Jordan tidak akan menjadi pemain bola basket yang dikagumi di seluruh dunia apabila ia tidak memiliki hasrat yang kuat dalam bermain bola basket. Begitu pula dengan Tiger Woods. Sejak kecil ia telah menemukan hasrat intinya dalam bermain golf. Jadi tidak heran apabila ia kaya raya hanya dengan bermain golf.

Apabila Anda masih belum bisa menemukan apa hasrat inti Anda yang sesungguhnya, maka Anda perlu menggalinya dari dalam diri Anda. Ada dua cara menggali impian, yaitu dengan memanfaatkan pertanyaan ‘ajaib’ dan dengan metode pertanyaan terbalik.

Cara pertama, beberapa pertanyaan ‘ajaib’ dibawah ini akan bisa membantu Anda menggali tujuan atau mimpi Anda yang paling menggairahkan atau yang paling Anda inginkan. Cobalah Anda menjawabnya salah satu atau beberapa pertanyaan di bawah ini.


  • Apakah yang akan Anda lakukan apabila Anda memenangkan undian berhadiah uang tunai sebanyak satu milyar rupiah besok pagi ? Jawablah dalam waktu satu menit.
  • Apakah yang paling suka Anda lakukan ? Apa yang memberi kepuasan batin paling kuat atau perasaan damai yang sangat mendalam ?
  • Bidang pekerjaan atau aktivitas apakah yang membuat Anda benar-benar enjoy melakukannya ? Pekerjaan apakah yang membuat Anda sering lupa waktu ?
  • Apakah yang membuat Anda senang ? Apakah yang membuat Anda tertawa ?
  • Apakah yang ingin Anda kerjakan seandainya Anda tidak mempunyai kewajiban apapun dan punya banyak waktu ?
  • Apa yang akan Anda lakukan apabila Anda mengetahui bahwa usia Anda tinggal tiga bulan lagi ?
  • Apa yang selalu ingin Anda lakukan, tetapi Anda takut mencobanya ?
  • Seandainya Anda tidak perlu mengkhawatirkan tentang uang, pekerjaan apakah yang Anda pilih ?


Contoh-contoh pertanyaan diatas akan memancing Anda menemukan apa yang benar-benar Anda dambakan. Tetapi kalau Anda masih ragu, cobalah sekali lagi untuk merenungkannya kembali secara perlahan, tanyakan kepada hati Anda, bukan kepada pikiran Anda.

Cara kedua, Anda bisa mengidentifikasikan keinginan Anda dengan metode pertanyaan terbalik (clarity through contrast) yaitu dengan menyebutkan hal-hal yang tidak Anda inginkan atau yang sangat Anda benci. Kebanyakan orang lebih gampang menyebutkan apa yang dibencinya daripada apa yang didambakannya. Sebutlah apa saja hal-hal yang Anda benci atau hal-hal yang tidak Anda inginkan. Setelah itu, Anda tinggal membaliknya menjadi hal-hal yang Anda inginkan.

Contoh, ketika ditanyakan mengenai karir Anda, apakah yang sangat Anda benci ? Kalau jawaban Anda adalah, “Saya tidak ingin terus menerus bekerja ‘ikut orang’ berangkat pagi pulang petang penghasilan pas-pasan”. Maka sangat mungkin impian Anda adalah “ingin memiliki kebebasan waktu dengan menjadi pekerja mandiri”, atau “ingin menjadi pengusaha agar dapat menjadi bos bagi diri sendiri”. Ilustrasi lain, “Saya tidak suka dengan pekerjaan yang statis hanya duduk di belakang meja menghadapi komputer dan kertas-kertas”. Maka bisa jadi keinginan Anda adalah “ingin menjadi salesman” atau mungkin “ingin menjadi seorang entertainer (pelawak, presenter, artis, dan sebagainya)”.

Contoh lainnya, dalam bidang kesehatan, katakanlah untuk para Ibu; Apakah yang Anda tidak inginkan ? Misalnya, “Saya tidak ingin tampak gemuk dan kelihatan tua”. Kalau begitu apakah tujuan Anda “Saya ingin memiliki berat badan yang ideal”, atau “Saya ingin tampil cantik dan menarik di hadapan suami dengan cara ikut senam body language dua kali seminggu” dan sebagainya.

Dengan kedua cara diatas, saya yakin Anda akan terbantu untuk menemukan hasrat inti Anda, sesuatu yang benar-benar Anda inginkan, bukan hanya sekedar keinginan yang tidak memiliki greget untuk diperjuangkan. Dan apabila Anda telah berhasil menemukan hasrat inti Anda, maka hambatan-hambatan yang akan Anda hadapi akan terasa lebih kecil, rasa penat dan lelah akan terlalui, perasaan malas akan hilang dan rasa takut akan berkurang dengan sendirinya. Dengan demikian maka apa yang Anda cita-citakan akan mudah dicapai dan Anda akan menjadi orang yang beruntung.

Agar lebih menggairahkan lagi, sebaiknya bahwa Anda memiliki alasan yang kuat mengapa perlu mencapai tujuan itu. Alasan yang kuat berasal dari dua kecenderungan otak manusia, yaitu yang pertama untuk selalu menghindari kesengsaraan atau penderitaan (to avoid pain) dan yang kedua untuk mencari kesenangan atau kenikmatan (to gain pleasure). Artinya Anda perlu mengetahui apa ruginya apabila Anda tidak mencapai tujuan itu dan apa juga untungnya jika Anda berhasil mencapainya. Bayangkan, dengarkan dan rasakan secara detail dan emosional atas penderitaan (atau kesengsaraan) yang sangat mendalam apabila Anda tidak mencapai tujuan tersebut. Bayangkan, dengarkan dan rasakan secara detail dan emosional juga atas puncak kesenangan (atau kenikmatan) jika Anda mencapai tujuan itu.

Contoh, apabila Anda adalah seorang karyawan dan bercita-cita untuk menjadi seorang entrepreneur setahun kedepan, apa sajakah alasan utamanya agar Anda mau keluar dari zona nyaman sekarang dan mau menyeberang ke dunia lain yang penuh resiko ? Apa penderitaannya ? Apakah penderitaan Anda karena harus bangun di pagi buta, berangkat kerja ke kantor pada saat anak-anak Anda belum bangun dari tidurnya ? Apakah perjalanan ke kantor yang dua jam lamanya karena setiap hari terjebak kemacetan di jalan ? Apakah karena Anda baru tiba di rumah di malam hari ketika anak-anak Anda sudah tertidur pulas ?. Apakah karena setiap hari Anda mendengarkan omelan atasan Anda yang selalu marah-marah seperti musik rock yang sumbang dan memekakkan telinga ? Apakah karena penghasilan Anda yang hanya cukup untuk makan sebulan padahal anak-anak Anda merengek minta dibelikan baju dan mainan yang belum pernah Anda kabulkan?. Bayangkan, tuliskan dan rasakan semua penderitaannya jika Anda tidak segera bertindak atau berubah.

Anda juga perlu menuliskan kenikmatan-kenikmatan yang bakal Anda rasakan bila berhasil menjadi seorang pengusaha. Apakah Anda senang karena menjadi manusia yang merdeka seutuhnya ? Apakah Anda bangga karena telah mempekerjakan banyak orang di saat pengangguran merajalela ? Apakah Anda memiliki kepuasan karena telah mampu mewujudkan aktualisasi diri Anda ? Apakah Anda sangat menikmati penghasilan yang meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan ketika menjadi karyawan ? Begitu seterusnya sampai Anda menemukan alasan yang sangat kuat, merasakan puncak emosi yang sangat tinggi sehingga membuat Anda segera melakukan tindakan.


Goal Setting dan Keberuntungan (Bagian Kedua)

August 28, 2009 By: cipto Category: Goal Setting, Luck Factors No Comments →

CIRI-CIRI TUJUAN YANG MEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Setelah Anda menyadari tentang pentingnya tujuan untuk menemukan peluang keberuntungan, maka sangat mungkin di dalam benak Anda akan timbul pertanyaan berikutnya seperti “tujuan macam manakah yang bisa mendekatkan kita kepada keberuntungan” atau “bagaimanakah cara membuat tujuan yang bisa membawa kita menuju keberhasilan” atau “apa sajakah ciri-ciri tujuan yang bisa menjadi magnet bagi keberuntungan dalam hidup kita” ? Anda tidak perlu khawatir karena pada tulisan-tulisan selanjutnya saya akan menjelaskan tentang sepuluh ciri-ciri tujuan yang bisa menjadi magnet bagi keberuntungan kita.

Saya tidak akan menjelaskan tentang langkah-langkah menetapkan tujuan secara sistematis. Tetapi saya yakin dengan mengetahui ciri-ciri atau sifat-sifat tujuan di bawah ini, Anda akan lebih mudah untuk menentukan tujuan yang tepat dengan ‘


gaya

‘ Anda sendiri. Karena memang tidak ada satu cara tunggal untuk menetapkan tujuan. Hidup ini milik Anda, maka Anda sendirilah yang tahu pasti tentang cara-cara yang paling memotivasi Anda untuk menggapai keberuntungan Anda sendiri.

Perlu disadari pula bahwa tidak semua tujuan memiliki kesepuluh ciri di bawah ini secara lengkap, terutama tujuan-tujuan yang sifatnya umum, misalnya yang menyangkut tujuan hidup utama. Semakin bersifat umum dan long term, semakin susah untuk dipaksakan agar memiliki ciri semuanya. Dan Andapun tak perlu memaksakan diri agar tujuan-tujuan Anda memiliki semua ciri-ciri dibawah ini. Apabila Anda merasa kesulitan atau merasa kurang sreg dengan salah satu sifat yang ada, maka penuhilah secara bertahap atau tinggalkanlah. Mulailah dengan sifat yang paling memotivasi atau yang paling cocok buat Anda. Atau pilihlah salah satu atau beberapa sifat yang Anda rasakan paling sesuai bagi Anda saat ini.

Adapun kesepuluh ciri-ciri tujuan yang bisa membawa keberuntungan itu antara lain :

1. Tujuan Yang Menggairahkan

2. Tujuan Yang Sesuai Dengan Nilai-Nilai Pribadi

3. Tujuan Yang Jelas dan Terukur

4. Tujuan Yang Menantang

5. Tujuan Yang Realistis

6. Tujuan Yang Mulia

7. Tujuan Yang Seimbang

8. Tujuan Yang Dituliskan

9. Tujuan Yang Divisualisasikan

10. Tujuan Yang Ditegaskan

Pembaca yang budiman, Anda ingin membaca detail masing-masing? Bersabarlah, karena satu persatu akan saya jelaskan di tulisan-tulisan selanjutnya.


Goal Setting dan Keberuntungan (Bagian Pertama)

August 28, 2009 By: cipto Category: Goal Setting, Luck Factors No Comments →

“If a man knows what harbor he seeks, any wind is the right wind.”

(Jika seseorang mengetahui pelabuhan yang dicarinya, maka angin apapun adalah adalah yang tepat)

- Seneca -


Yang saya maksud dengan tujuan (goal) adalah sesuatu yang ingin Anda raih atau wujudkan dalam hidup ini, tidak perduli apakah itu bersifat sempit dan berjangka pendek ataupun yang bersifat luas dan berjangka panjang. Definisi ini sengaja saya buat sangat umum dan sederhana agar semua orang bisa dengan bebas mengekspresikan tujuannya masing-masing untuk menemukan banyak peluang keberuntungan dalam hidup ini.

Walaupun serupa tapi tak sama, tujuan yang saya maksudkan disini bisa mencakup tujuan hidup (life purpose), misi (mission), visi (vision), aspirasi (aspiration), impian atau cita-cita (dreams), tujuan (objective), niat atau maksud (intention), kemauan atau kehendak (will atau juga wish), keinginan (desire), hasrat yang membara (passion), harapan (expectation), sasaran (target atau goal) atau hasil yang ingin dicapai (outcome). Terserah Anda mau pilih istilah yang mana dan pilihlah yang cocok menurut perasaan atau hati Anda.

Jadi, yang perlu Anda lakukan adalah menetapkan tujuan atau istilah kerennya melakukan goal setting. Steven Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People malahan menyebutnya dengan lebih sarat makna sebagai ‘memulai dari akhir pikiran’ (to begin with the end in mind) atau memulai dengan pengertian yang jelas tentang tujuan Anda. Pemikiran Covey ini didasarkan pada prinsip bahwa ’segala sesuatu diciptakan dua kali’, yang pertama adalah ciptaan mental barulah yang kedua berupa ciptaan fisik. Sebagai contoh kalau Anda ingin membangun sebuah rumah, maka yang pertama Anda harus menciptakannya dulu di pikiran Anda (luas bangunan, ada berapa kamar tidur, berapa kamar mandi, ada taman atau tidak, bentuk ruang tamu dan sebagainya), kemudian menggambarnya (membuat blueprint) barulah yang kedua benar-benar membangunnya secara fisik (membuat pondasi dan melaksanakan pekerjaan fisik lainnya). Begitu juga di dalam mengarungi kehidupan ini, kita harus memiliki gambaran mental tentang sesuatu yang kita inginkan, barulah kita mengejarnya di alam nyata.



MENGAPA PUNYA TUJUAN BISA MENDATANGKAN KEBERUNTUNGAN ?


Orang yang mengetahui dengan jelas apa impian, keinginan atau tujuan hidupnya akan mempunyai peluang yang lebih besar terhadap datangnya ‘hoki’ atau keberuntungan atau kemujuran dibandingkan dengan orang yang tidak jelas tujuan hidupnya. Mengapa ? Ada dua alasan yang akan saya jelaskan satu persatu.

Alasan pertama, orang-orang yang memiliki tujuan akan lebih ‘awas’ atau lebih ‘waspada’ terhadap datangnya kesempatan atau peluang yang bisa membawanya menuju keberuntungan. Ia akan memiliki ‘kewaspadaan mental’ (mental alertness) yang lebih tinggi untuk menemukan peluang yang tepat baginya ditengah-tengah banyak hal yang dialami atau dihadapinya.

Dalam perjalanan hidup kita, seringkali hanya diperlukan SATU kesempatan saja untuk menjadi beruntung dan seringkali hanya diperlukan SATU jenis keberuntungan saja untuk mengubah nasib kita 180o dari miskin menjadi kaya raya atau dari orang gagal menjadi orang sukses luar biasa. Bagaimana agar kesempatan yang membawa ‘hoki’ bisa kita kenali ? Salah satu jawabannya adalah dengan memiliki tujuan atau ‘target‘ yang jelas tentang apa yang kita inginkan. Dengan memiliki tujuan atau ‘target‘ maka kemanapun kita beraktivitas, kita akan lebih ‘aware‘ terhadap adanya kesempatan yang bisa datang setiap saat tanpa kita ketahui asalnya. Dibalik setiap aktivitas yang kita lakukan bisa mengandung peluang atau kesempatan. Ketika Anda mendatangi resepsi perkawinan, tiba-tiba Anda bertemu dengan teman lama yang menawarkan bisnis yang Anda dambakan. Anda juga bisa menemukan peluang pada saat berolahraga di pagi hari, berbelanja ke hypermarket, berkenalan dengan orang baru, bercakap-cakap atau berdiskusi dengan teman, menonton televisi, membaca buku dan sebagainya.

Bila kita memiliki tujuan, bahkan tidak melakukan aktivitas gerakpun kita akan bisa menemukan peluang atau kesempatan, yaitu melalui aktivitas pikiran misalnya ‘melamun’ di toilet atau kamar mandi (pada saat B.A.B., tentu saja melamunkan hal-hal positif, bukan melamun jorok) atau merenung atau ketika melakukan relaksasi dan meditasi. Seluk-beluk mengenai aktivitas pikiran ini dibahas lebih mendalam di Faktor # 6 tentang Intuisi.

Sebaliknya orang yang tidak punya tujuan atau tidak memiliki keinginan tertentu maka ia tidak akan berusaha memikirkan ada apa dibalik peristiwa yang dialaminya. Dia akan melewatkan kesempatan itu berlalu karena mereka memang tidak menyadari adanya kesempatan dan tidak ada yang mereka cari.

Alasan kedua, orang-orang yang memiliki niat atau tujuan yang jelas akan mengaktifkan Hukum Daya Tarik (The Law of Attraction) yang sering disingkat LOA. Hukum ini mengatakan bahwa pikiran manusia akan menarik realitas yang akan kita alami, atau apa yang kita pikirkan dan rasakan akan menarik kejadian-kejadian yang kemudian kita alami. Sebuah tujuan yang diinginkan, dibayangkan (divisualisasikan) kemudian diperkuat dengan emosi yang mendalam dengan penuh rasa syukur akan menggerakkan pikiran kita dan pikiran kita akan menggerakkan alam semesta untuk ‘membantu’ atau ‘mendukung’ kita mencapainya melalui tindakan-tindakan yang kita lakukan atau usahakan.