My Life Journey

Berbagi, Melayani & Menebar Rahmat
Subscribe

Archive for the ‘Inspirational Story’

Racun Yang Mencerahkan

December 14, 2007 By: cipto Category: Inspirational Story, Attitude 1 Comment →

Dahulu kala di negeri Tiongkok, seorang gadis yang bernama Li-Li baru saja menikah dengan seorang pemuda kaya. Li-Li kemudian beserta suaminya tinggal bersama di rumah sang metua.

Dalam waktu singkat, Li-Li tahu bahwa ia sangat tidak cocok tinggal serumah dengan ibu mertuanya. Karakter mereka sangat jauh berbeda. Dan Li-Li sangat tidak menyukai kebiasaan ibu mertuanya.

Hari berganti hari, begitu pula bulan berganti bulan. Li-Li dan ibu mertuanya tak pernah berhenti berdebat dan bertengkar. Yang makin membuat Li-Li kesal adalah adat kuno Cina yang mengharuskan ia untuk selalu menundukkan kepala untuk menghormati mertuanya dan mentaati semua kemauannya.

Semua kemarahan dan ketidakbahagiaan di dalam rumah itu menyebabkan kesedihan yang mendalam pada hati suami Li-Li, seorang yang berjiwa sederhana.

Akhirnya, Li-Li tidak tahan lagi terhadap sifat buruk dan kelakuan ibu mertuanya. Dan ia benar-benar telah bertekad untuk melakukan sesuatu.

Li-Li pergi menjumpai seorang teman ayahnya yaitu Sinshe Wang yang pandai membuat ramuan obat tradisional untuk segala penyakit. Ia menceritakan situasinya dan minta dibuatkan ramuan racun yang kuat untuk diberikan pada ibu mertuanya.

Sinshe Wang berpikir keras sejenak. Lalu ia berkata, “Li-Li, saya mau membantu kamu menyelesaikan masalahmu, tetapi kamu harus mendengarkan saya dan mentaati apa yang saya sarankan.”

Li-Li berkata, “Baik Pak Wang, saya akan mengikuti apa saja yang Bapak katakana dan apa yang harus saya perbuat.”

Sinshe Wang masuk ke dalam, dan tak lama ia kembali dengan menggenggam sebungkus ramuan. Ia berkata kepada Li-Li, “Kamu tidak bisa memakai racun keras yang mematikan seketika, untuk meyingkirkan ibu mertuamu, karena hal itu akan membuat semua orang menjadi curiga. Oleh karena itu, saya memberi kamu ramuan beberapa jenis tanaman obat yang secara perlahan-lahan akan menjadi racun di dalam tubuhnya.

Sinshe Wang melanjutkan, “Setiap hari, sediakan makanan yang enak-enak dan masukkan sedikit ramuan obat ini ke dalamnya. Lalu, supaya tidak ada yang curiga saat ia mati nanti, kamu harus hati-hati sekali dan bersikap sangat bersahabat dengannya. Jangan berdebat dengannya, taati semua kehendaknya, dan perlakukan dia seperti seorang ratu.”

Li-Li sangat senang. Ia berterima kasih kepada pak Wang dan buru-buru pulang ke rumah untuk memulai rencana membunuh ibu mertuanya. Minggu demi minggu, bulan demi bulan pun berlalu.

Setiap hari Li-Li melayani mertuanya dengan makanan yang enak-enak, yang sudah “dibumbuinya”. Ia mengingat semua petunjuk dari Sinshe Wang tentang hal mencegah kecurigaan. Maka ia mulai belajar untuk mengendalikan amarahnya, mentaati perintah ibu mertuanya, dan memperlakukannya seperti ibunya sendiri.

Setelah enam bulan lewat, suasana di dalam rumah itu berubah secara drastis. Li-Li sudah mampu mengendalikan amarahnya sedemikian rupa sehingga ia menemukan dirinya tidak pernah lagi marah atau kesal.

Ia tidak pernah berdebat lagi dengan ibu mertuanya selama enam bulan terakhir karena ia mendapatkan bahwa ibu mertuanya kini tampak lebih ramah kepadanya. Sikap si ibu mertua terhadap Li-Li telah berubah, dan mulai mencintai Li-Li seperti puterinya sendiri. Ia terus menceritakan kepada kawan-kawan dan sanak familinya bahwa Li-Li adalah menantu yang paling baik yang ia peroleh.

Li-Li dan ibu mertuanya saling memperlakukan satu sama lain seperti layaknya seorang ibu dan anak yang sesungguhnya. Suami Li-Li sangat bahagia menyaksikan semua yang terjadi.

Suatu hari, Li-Li pergi menjumpai Sinshe Wang dan meminta bantuannya sekali lagi. Ia berkata, “Pak Wang, tolong saya untuk mencegah supaya racun yang saya berikan kepada ibu mertua saya tidak sampai membunuhnya!”

“Ia telah berubah menjadi seorang wanita yang begitu baik, sehingga saya sangat mencintainya seperti kepada ibu saya sendiri. Saya tidak mau ia mati karena racun yang saya berikan kepadanya.”

Sinshe Wang tersenyum. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Li-Li, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Saya tidak pernah memberi kamu racun. Ramuan yang saya berikan kepadamu itu hanyalah ramuan penguat badan untuk menjaga kesehatan beliau.”

“Satu-satunya racun yang ada, adalah yang terdapat di dalam pikiranmu sendiri, dan di dalam sikapmu terhadapnya, …” “… tetapi semuanya itu telah disapu bersih dengan cinta yang kamu berikan kepadanya …”

Moral dari Cerita ini :

Sadarkah Anda bahwa sebagaimana Anda memperlakukan orang lain maka demikianlah persis bagaimana mereka akan memperlakukan Anda ?

Ada pepatah Tiongkok kuno mengatakan: “Orang yang mencintai orang lain, akan dicintai juga sebagai balasannya.” Walaupun dalam kenyataannya orang yang kita cintai tidak selalu mencintai kita, tetapi TETAPLAH mencintai, karena TUHAN tidak pernah tidur dan karena apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. WISH YOU LUCK. (SA).


Dibayar Lunas Dengan Segelas Susu

October 26, 2007 By: cipto Category: Inspirational Story, The Power of Giving No Comments →

Suatu hari, seorang bocah miskin sedang berjualan dari rumah ke rumah demi untuk membiayai sekolahnya. Ia merasa lapar dan haus, tetapi sayang sekali uang hasil penjualannya tidak cukup untuk membeli makanan.

Maka anak itu kemudian memutuskan untuk meminta makanan dari rumah terdekat. Tetapi, saat seorang ibu muda membukakan pintu, ia kehilangan keberaniannya.

Akhirnya ia hanya meminta segelas air putih untuk menawarkan dahaganya. Ibu muda itu berpikir pastilah anak ini merasa lapar dan haus, maka diberikanlah segelas besar susu buat anak tersebut.

Ia meminumnya dengan lahap kemudian bertanya, “Berapa hutang saya kepada anda ?”

“Kamu tidak berhutang apapun kepadaku”, jawabnya. “Orang tuaku dulu mengajarkan agar tidak menerima bayaran untuk perbuatan baik yang aku lakukan.”

Anak itu menjawab, “Kalau begitu, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam atas segala kebaikanmu.”

Akhirnya si anak kecil itu meninggalkan rumah si ibu muda dengan badan lebih segar, perasaan lebih senang dan hati yang penuh syukur kepada Tuhan. Padahal, anak yang bernama Howard Kelly itu, sebelumnya sudah merasa putus asa dan hampir menyerah.

Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari ibu muda (yang telah tua) tersebut mengalami sakit parah. Dokter yang menanganinya merasa bingung dan akhirnya mengirim wanita itu ke kota besar untuk mendapatkan pertolongan dari dokter yang lebih ahli. Dan Dr. Howard Kelly-lah salah satu dokter ahli itu..

Ketika ia mendengar nama kota tempat asal si pasien, Dr. Howard Kelly segera pergi ke kamar tempat dimana wanita tersebut dirawat. Ia langsung mengenali dan memutuskan untuk melakukan hal terbaik yang bisa ia usahakan untuk menolongnya.

Sejak hari itu, ia memberikan perhatian khusus dan tulus agar ibu itu bisa sembuh. “Aku akan melakukan yang terbaik demi kesembuhannya”, pikirnya. Setelah melewati perjuangan yang melelahkan, Dr. Kelly akhirnya berhasil menyembuhkan wanita itu.

Pada saat kondisi ibu itu benar-benar membaik, Dr. Kelly meminta Bagian Keuangan rumah sakit untuk memberikan semua tagihan ibu itu kepadanya. Setelah memeriksanya kemudian Dr. Kelly memberikan catatan di bagian tagihan itu.

Tagihan itu lalu dikirim ke kamar perawatan si wanita. Namun, wanita tersebut merasa takut untuk membukanya, karena ia merasa yakin bahwa ia tidak akan sanggup membayar tagihan rumah sakit yang sudah pasti sangat mahal itu. Akhirnya dengan menguatkan hati, ia melihat ke tagihan itu. Sebuah tulisan pada tagihan telah menarik perhatiannya. Ia membaca tulisan itu : “Telah Di Bayar Lunas Dengan Segelas Susu”.
Tertanda, Dr. Howard Kelly.

Air mata mengalir dari matanya saat hatinya yang bahagia mengucapkan doa dan rasa syukur: “Terima kasih Tuhan, kasihMu telah memancar melalui hati dan tangan manusia yang mulia”

Moral cerita :

If you give, then you’ll receive. Apa yang kita berikan tidak akan hilang, melainkan akan menjadi ‘emotional bank account’ untuk kita. Kebaikan akan berbuah kebaikan, kejelekan juga akan menuai kejelekan.

Wish You Luck. (SA).