My Life Journey

Berbagi, Melayani & Menebar Rahmat
Subscribe

Mengapa Tidak Langsung Bangkit

December 25, 2008 By: cipto Category: Dahlan Iskan on Global Economic Crisis

Oleh : Dahlan Iskan (Kamis, 16 Oktober 2008)

Ketika sepak bola Inggris kalah di Piala Dunia tahun lalu, siapa yang harus disalahkan?

“Margaret Thatcher!” teriak seorang politikus di sana.

Lho, apa hubungan sepak bola dengan wanita yang sudah sangat tua itu? “Waktu dia menjadi perdana menteri, subsidi susu untuk murid SD dikurangi. Akibatnya, tulang pemain Inggris banyak yang patah. Pemain sepak bola yang ikut Piala Dunia itu masih SD saat Thatcher menjadi perdana menteri,” tambahnya.

Lalu, siapa yang harus disalahkan atas terjadinya krisis keuangan di Amerika dan dunia saat ini? “Al Khawarizmi!” Apa hubungan krisis zaman ini dengan tokoh yang hidup di zaman kuno itu?

Dialah yang menemukan logaritma dan matematika. Gara-gara ilmu matematika itulah, belakangan ini muncul satu jenis produk bank yang disebut derivatif. Tanpa ilmu matematika tidak mungkin ada derivatif (bahasa Mandarinnya…)

Lalu, ada yang bilang bahwa penyebab sebenarnya adalah orang Mesir atau Tiongkok. Orang Mesirlah yang menemukan matematika dengan geometrinya saat mendirikan piramida. Atau, barangkali karena orang Tiongkok menemukan sipoa yang menjadi awal ilmu matematika-aritmatika.

Bahkan, jangan-jangan yang salah adalah Al Jabr karena dialah yang menciptakan angka. Mungkin juga kita bisa menyalahkan Girolamo Cardano yang pada tahun 1500-an menemukan teori probabilitas (ilmu peluang).

Simaklah rumus yang saya sertakan di tulisan ini. Itulah wujudnya kalau ilmu matematika, geometri, aritmatika, statistik, dan probabilitas dimasak menjadi satu. Lalu ditambahi bumbu rakus. Kokinya para banker dan pelaku pasar modal. Maka, jadilah masakan siap saji yang disebut “model”. Model itu lantas menjadi software. Lalu, dianggap sebagai ilmu kebenaran. Semua pemain derivatif menggunakan ‘’software model” derivatif itu untuk membenarkan hitungan bahwa uang yang hari itu nilainya 1 juta, lima tahun atau 10 tahun yang akan datang bisa menjadi, misalnya, 100 miliar.

Seandainya Anda punya uang Rp 1 juta, lalu ditawari untuk ikut derivatif, tentu Anda akan bertanya bagaimana caranya kok uang tersebut bisa tumbuh begitu menggiurkan? Lalu, operator derivatif akan menyodorkan rumus yang ruwet itu. Sanggupkah Anda memahami rumus itu? Yang menjelaskan sendiri bisa jadi tidak bisa benar-benar memahami. Mereka bisa langsung minta bantuan komputer untuk “memprosesnya”: Rp 1 juta x model + enter. Keluarlah angka Rp 100 miliar di laptop. Masalahnya, semua pilihan model adalah yang asumsinya baik. Tidak pernah diciptakan model yang didasarkan asumsi sebaliknya. Maka, tidak ada Rp 1 juta x model + enter = hilang.

Meski semua pihak kini sudah tahu bahwa penyebab krisis ini adalah derivatif, akan diapakan “binatang” itu masih belum ada pembicaraan. Melarangnya sama sekali kelihatannya sulit, mengingat sudah dibuktikan bahwa dengan derivatif hidup ini bisa lebih hidup. Tapi juga sudah dibuktikan bahwa derivatif membuat kekacauan.

Kalau kelak derivatif cukup dibatasi, akan menjadi perdebatan seru pembatasan itu sampai pada derivatif keturunan berapa. Sekarang ini derivatif mungkin sudah sampai 13 keturunan. Nah, apakah akan dibatasi sampai lima keturunan saja? Misalnya, swaps masih diperbolehkan. Tapi, anaknya, CDS (credit default swaps), mungkin sudah tidak boleh. Apalagi cucunya yang bernama credit default option, atau cicitnya yang disebut credit default swaption, atau cicit-cicit berikutnya lagi. Saya kira, sekian keturunan dari derivatif pasti akan dilarang.

Kalau kebangkitan hari pertama pasar modal Senin lalu tidak langsung diikuti oleh kebangkitan lebih lanjut di hari-hari berikutnya, antara lain karena soal yang mendasari krisis itu sendiri belum diselesaikan. Semua memang masih sibuk melakukan PPPK (pertolongan pertama pada kecelakaan). Yang penting pasar modal dan perbankan selamat dulu. Terutama perbankan. Usaha ini kelihatannya berhasil. Namun, untuk bisa memulihkan ke keadaan semula, tentu masih harus menunggu diselesaikannya pengaturan derivatif.

Siapa yang mengatur derivatif itu?

Selama ini tidak ada!

Bisnis yang menyangkut USD 600 triliun ini (bandingkan dengan GDP Amerika yang hanya USD 15 triliun) diatur oleh pelaku derivatif itu sendiri. Mereka membentuk persatuan pelaku derivatif. Namanya Asosiasi Swaps dan Derivatif Internasional. Asosiasi itulah yang mengatur segala sesuatu tentang bisnis ini. Mulai aturannya hingga format-format kontraknya. Tidak ada pemerintah mana pun yang mampu mencampurinya.

Padahal, korban derivatif ini luar biasa banyaknya. Mulai perorangan, perusahaan, hingga lembaga keuangan sendiri. Termasuk yang menjadi berita besar awal tahun ini: Societe General rugi USD 7,2 miliar juga oleh derivatif. Bahkan, beberapa tahun lalu sebuah pemda di Amerika, kabupaten terkenal di California bernama Orange County, juga menyatakan diri bankrut sebagai korban derivatif. Di sana pemda memang diperbolehkan mengeluarkan obligasi untuk pembangunan daerahnya. Tapi, dalam kasus Orange County ini, dana daerah dimainkan di derivatif. Kalau berhasil sih, 30 persen APBD-nya akan datang dari hasil derivatif itu. Tapi, bendaharawan kota itu salah hitung. Lalu, kota itu pun dinyatakan bangkrut.

Siapa yang kira-kira akan ambil inisiatif untuk mengatur semua itu?

Pemerintah

AS
? Bukan urusannya. Bank Dunia? Bukan bidangnya. Bank sentral masing-masing negara? Juga bukan tugasnya.

Para penemu logaritma, geometri, aritmatika, Al Khawarizmi, Al Jabr, Girolamo Cardano, barangkali, harus bangkit dulu dari kubur mereka untuk merundingkannya. (*)


Cito! Cepat Selamatkan Dulu Bank!

December 25, 2008 By: cipto Category: Dahlan Iskan on Global Economic Crisis

Oleh : Dahlan Iskan (Sabtu, 11 Oktober 2008)

Tujuh negara industri terbesar dunia berkumpul hari ini untuk mencari jalan keluar dari krisis moneter yang gawat ini. Tapi, para ahli sangat pesimistis mereka bisa menemukan jalan itu. Sudah begitu banyak masing-masing pemerintah menciptakan paket penyelamatan. Semuanya tidak bisa meredam kemerosotan pasar modal.

Bagi kita di Indonesia, harapan terbesar adalah jangan sampai unsur-unsur di dalam pemerintah berjalan sendiri-sendiri. Apalagi bertengkar. Kita semua tahu bahwa jumlah ahli ekonomi kita bukan hanya sangat banyak, tapi juga aliran ekonomi mereka berbeda-beda. Mulai dari yang beraliran konservatif sampai yang populis. Belum lagi yang menganut aliran sempalan. Masing-masing punya dasar pemikiran sendiri, merasa benar sendiri, dan saling bersikukuh mempertahankannya.

Dalam suasana krisis seperti ini, satu komando sangat diperlukan. Sampai hari ini, saya cukup bangga karena tidak terjadi perbedaan pendapat di antara elite pemerintah yang sampai mencuat ke media. Memang ada desas-desus tentang siapa yang menginginkan Bank Indonesia harus segera intervensi (untuk menstabilkan rupiah) dan siapa yang menentang. Tapi, tidak menjadi perang di bawah permukaan -apalagi di atasnya. Politisi juga cukup dewasa untuk tidak menjadikan masalah krisis sebagai bahan mencari popularitas. Sebagian mungkin memang karena tidak paham akar persoalannya yang rumit, sebagian karena rakyat juga sudah sangat dewasa. Politisi yang memanfaatkan krisis ini untuk popularitasnya justru akan dicela rakyat.

Saya amati rakyat di semua negara memang sangat kompak untuk membela negara masing-masing, lepas apakah pemerintahnya dari partai yang mereka dukung atau tidak.

***

Hari ini, pemerintah pertama-tama harus kompak dalam menyelamatkan sistem perbankan nasional kita. Nasabah dan rakyat harus ditenangkan dengan policy yang jelas dan tegas. Yang terpenting, antara lain, adalah memberikan penjaminan deposito dan tabungan masyarakat.

Saya percaya penjaminan itu tidak akan berbuntut panjang seperti saat krisis dulu. Sebab, perbankan nasional kita sekarang sudah sangat dewasa. Semua negara melakukan langkah ini meski ahli ekonomi yang menganut aliran konservatif tidak akan setuju. Teoretis, sebenarnya tidak perlu ada rush. Tapi, ketidakpercayaan masyarakat pada sistem keuangan hari-hari ini bisa membuat bank yang lagi bersaing saling menyebarkan isu rush. Yang mula-mula hanya isu bisa terjadi sungguhan. Ini sangat membahayakan sistem perbankan kita.

Kalau sistem perbankan ambruk, ekonomi akan runtuh. Rakyat akan sengsara.

Nomor satukan penyelamatan perbankan nasional kita. Gunakan semua dana penjaminan yang selama ini dikumpulkan oleh bank di rekening khusus penjaminan itu. Maksimumkan upaya ini, mumpung ini hari Sabtu. Umumkan pagi ini juga bahwa semua deposito dan tabungan dijamin pemerintah. Jangan terlambat! Kita lagi bersaing dengan kecepatan beredarnya SMS dan telepon seluler.

***

Ini persoalan dunia yang kompleksnya bukan main. Perusahaan yang terlibat derivatif lagi bertumbangan. Cobalah kita bayangkan perusahaan yang enam bulan lalu membeli minyak dengan harga USD 130 per barel. Tentu, hari ini, perusahaan tersebut belum menerima minyaknya karena dua hal. Pertama, harga itu memang untuk penyerahan minyak enam bulan kemudian. Kedua, tujuan pembeli minyak itu memang bukan untuk memiliki minyak, tapi hanya untuk menjual “hak” atas minyak itu saja. Yang membeli “hak” itu pun hanya ingin menjual lagi dengan harga yang lebih tinggi. Yang sudah dapat harga lebih tinggi itu pun masih ingin menjual lagi ke harga yang lebih tinggi. Begitu seterusnya. Minyak yang mungkin berjumlah 1 juta barel itu seolah-olah sudah menjadi 10 juta barel di pasaran.

Triliunan dolar derivatif yang menyangkut minyak ini akan memakan korban luar biasa besar. Sudah akan mengalahkan nilai kredit macet subprime mortgage yang mengawali krisis ini.

Seminggu yang lalu, harga minyak tinggal 100 dolar per barel. Anda bayangkan berapa besar kerugian perusahaan yang membeli minyak dengan harga 130 dolar itu. Membelinya pasti dengan kredit. Kini, pasti kreditnya macet. Kredit yang macet bukan sebesar harga 1 juta barel, mungkin sampai lebih 10 juta barel. Sebab, minyak tersebut sudah diderivatifkan: future, hedging, option, equity swap, dan seterusnya.

Bahkan, dengan harga minyak kemarin menjadi serendah 80 dolar/barel, tingkat kemacetan pasti kian luas lagi. Maka, kinilah saatnya harga minyak akan menjadi normal sewajarnya lagi, sekitar USD 60 atau 70 dolar per barel. Kenapa harga ini normal? Sebab, biaya produksi minyak itu hanya sekitar 35 dolar per barel. Ditambah macam-macam, termasuk mahalnya investasi, jatuhnya sekitar 50 per barel. Maka, laba 30 persen adalah bisnis yang wajar. Tapi, dengan harga minyak 140 dolar per barel dan dengan biaya produksi yang tetap, bisnis ini bisa mencapai laba 300 persen. Kata “rakus” saya kira kurang kasar. Tentu ada yang murka.

Gambaran seperti itulah yang juga terjadi di bisnis jasa keuangan. Semua pedagang di Pintu Kecil Jakarta atau Kembang Jepun di Surabaya tentu tahu bahwa laba normal bisnis jasa itu sekitar 2,5 persen. Mengapa? Bisnis jasa itu tidak perlu modal besar dan risikonya kecil. Wajar kalau labanya lebih kecil. Yang penting volumenya sangat besar dan perputarannya cepat. Memang sesekali bisnis jasa bisa dapat laba 30 persen, tapi sifatnya harus hanya “sesekali”. Misalnya kalau pas lagi ada nasib baik. Satu atau dua hari. Setelah itu akan normal lagi ke laba 2,5 persen. Bahkan, kadang, laba 0,5 persen pun sering dijalani asal cash flow-nya baik.

Tapi, coba perhatikan perusahaan-perusahaan jasa keuangan dalam 10 tahun terakhir ini. Labanya bisa 30 persen. Bahkan bisa 60 persen! Ini juga rakus. Total sedunia, laba jasa keuangan ini menguasai 40 persen dari laba seluruh sektor usaha. Sedang sektor industri kurang dari 20 persen. Padahal, laba sektor industrilah yang seharusnya lebih tinggi. Sunnatullah-nya harus begitu. Sebab, di sektor industrilah orang harus benar-benar bekerja: tanam modal, membeli bahan baku, menjual bahan jadi, mengurus buruh, dan seterusnya. Benar-benar bekerja mengeluarkan keringat. Bagaimana bisa laba industri kalah oleh laba sektor jasa? Tentu ada yang murka.

Dunia secara alamiah akan kembali ke situasi 12 atau 15 tahun yang lalu. Bagi kita, 12 tahun yang lalu tidak terlalu jelek.

Asal sistem perbankan kita diselamatkan lebih dulu! Hari ini juga! Ibarat seorang dokter yang kedatangan pasien gawat, sang dokter akan langsung menulis di resepnya: cito! Bukan main urgennya. Seumpama di apotek ada antrean panjang pun, pemegang resep cito! harus langsung dilayani dulu. (*)



Saatnya Indonesia Nyalip di Tikungan

December 25, 2008 By: cipto Category: Dahlan Iskan on Global Economic Crisis

Oleh : Dahlan Iskan (Jum’at, 10 Oktober 2008)



Tepat sekali langkah pemerintah Indonesia menghentikan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia kemarin. Terlambat sedikit kita bisa lebih kacau. Inilah saatnya kita mendahulukan nasib bangsa sendiri. Kita tahu, perusahaan asing lagi perlu uang untuk menutup lubang mereka yang dalam di negeri masing-masing. Karena itu mereka perlu uang cepat. Salah satu caranya adalah menjual apa saja yang dimilikinya, termasuk yang di Indonesia. Dan yang paling cepat bisa dijual adalah saham di bursa.
Saking banyaknya pihak yang mau jual itulah yang mengakibatkan harga saham jatuh 10 persen kemarin. Mereka berani jual murah, jual rugi, asal bisa segera mendapat uang cash. Sebenarnya sekaranglah saatnya untuk membeli kembali saham Indosat, Telkomsel, atau apa pun, tapi kita belum cukup kaya untuk melakukan itu.

Penutupan sementara bursa itu juga penting untuk mengamankan perusahaan-perusahaan nasional kita. Yakni perusahaan yang terlibat hutang besar di luar negeri yang jaminannya berupa saham. Misalnya Bumi Resource dan enam perusahaan milik Bakrie Group lainnya. Termasuk kebun sawitnya yang besar. Kalau harga sahamnya terus merosot, maka nilai jaminan utangnya langsung tidak cukup. Dalam keadaan seperti ini sangat mungkin terjadi hostile take over! Sangat bisa terjadi, tiba-tiba saja tambang batubaranya yang bergitu besar disita dan menjadi milik asing. Demikian juga perkebunan sawitnya.

Karena itu, bursa tidak perlu cepat-cepat dibuka kembali. Apalagi kalau itu hanya karena tekanan asing. Harus dihitung benar untung ruginya bagi kepentingan nasional. Memang Bumi Resource adalah milik Bakrie, tapi batubaranya dari bumi Indonesia (Kaltim). Kita juga berkepentingan mengusahakan Bakrie agar tetap jaya -antara lain agar bisa menuntaskan kasus Lapindo di Sidoarjo. Apalagi Bakrie pernah jadi contoh perusahaan yang hancur oleh banyaknya utang saat krismon 1997 yang tiba-tiba mampu bangkit menjadi orang terkaya di Indonesia. Jangan sampai, kini menjadi korban hostile take over asing akibat tidak mampu bayar hutang! Nilai saham Bakrie itu kini memang tinggal 20 persennya. Sangat mudah bagi asing untuk mengambil secara hostile!

Kini negara yang paling men-Tuhankan pasar bebas pun hanya berpikir menyelamatkan negaranya masing-masing. Apalagi negara yang masih miskin seperti kita. Saya cukup bangga atas ketegasan dan kecepatan pemerintah mengambil langkah ini. Penduduk kita cukup besar untuk bisa menjadi pasar kita sendiri. Kita masih bisa menanam jagung!

Sampai kemarin memang baru Rusia dan Indonesia yang mengambil langkah menghentikan perdagangan saham. Islandia (Iceland) sudah lebih dulu membuat keputusan mem-peg mata uangnya ke dolar karena terjun bebas. Kemarin sore WIB, Inggris membuat keputusan yang lebih konsepsional daripada Amerika.

Delapan bank raksasa direkapitalisasi sebesar Rp 700 triliun dengan syarat-syarat tertentu. Misalnya harus untuk menjaga kelangsungan fungsi utama bank, termasuk memberi pinjaman pada pengusaha yang bergerak di sector riil. Di dalamnya termasuk bank-bank kelas dunia seperti HSBC, RBS, dan Standard Chartered. Inggris yang dulunya pelopor swastanisasi, kini di arah sebaliknya.

“Ini jalan keluar yang tujuannya untuk memulihkan kepercayaan, sekaligus memperkokoh sistem perbankan,” ujar Perdana Menteri Gordon Brown.

Menurut Brown, dalam mengatasi kesulitan yang begitu serius, jalan keluarnya memang harus komprehensif. Juga harus kreatif dan tidak sekadar dogmatis. Menaikkan suku bunga yang dilakukan Bank Indonesia, menurut saya termasuk yang hanya dogmatis dan kurang kreatif itu. Yakni satu dogma bahwa untuk menahan orang agar tidak ramai-ramai menukarkan uang ke dolar haruslah memberi rangsangan pada pemegang rupiah. Ya, menaikkan suku bunga tadi. Tapi dampak yang lain sangat berat. Untung naiknya hanya kecil (25 basis poin).

Kita punya batubara bermiliar ton dan hasil bumi lainnya. Ini yang harus diamankan lewat kebijaksanaan nasional. Mestinya, masih lebih baik nasib kita yang memiliki hasil bumi tersebut daripada negara yang hanya punya kertas saham atau commercial paper dengan nilai yang hancur saat ini. Kita memang tidak punya cadangan saham di mana-mana. Karena itu jangan pula yang masih kita punya itu hilang pula. Saatnya nasionalisme dipertahankan. Sambil lihat-lihat perkembangan dunia. Kalau kita pintar, kita bisa menyalip di tikungan! **


Lantaran Reruntuhan Wall Street Menimpa Main Street

December 25, 2008 By: cipto Category: Dahlan Iskan on Global Economic Crisis

Lantaran Reruntuhan Wall Street Menimpa Main Street
Oleh : Dahlan Iskan (Senin, 06 Oktober 2008)

Seberapa besarkah krisis keuangan di Amerika itu sehingga negara tersebut sampai harus “musyrik” dari agama kapitalisme dengan cara menyuntikkan dana negara USD 700 miliar? Bahkan sampai mau menelan ludah sendiri dengan cara melakukan “nasionalisasi”?

Memang sangat serius. Apalagi kalau kita menyaksikan siaran televisi CNN, CNBC, atau Bloomberg. Kalutnya bukan main. Bahkan belum diketahui pasti besarnya kerugian yang harus dihadapi. Ada pengamat yang sampai mengistilahkan bahwa AS seperti sedang menghadapi perjudian sebesar USD 60 triliun. Tentu ada juga yang hanya menghitung semua kehebohan itu menyangkut USD 5 triliun. Pokoknya sangat besar, untuk ukuran AS sekalipun.

Tapi, jangan juga dibayangkan bahwa ekonomi negara itu segera ambruk. Nilai USD 700 miliar yang akan disuntikkan tersebut memang hampir sama dengan GNP seluruh penduduk dan negara Indonesia, tapi baru hampir sama dengan anggaran pertahanan negara itu. Atau baru sama dengan tiga tahun biaya perangnya di Iraq. Atau hanya kurang 5 persen dari GNP negara tersebut.

Bahwa ketika pemerintah George Bush mengajukan permintaan anggaran USD 700 miliar tersebut heboh, yang utama bukan karena besarnya. Meski sama dengan GNP seluruh negara di Benua Afrika, nilai itu hanya sama dengan kekayaan 12 orang seperti Bill Gates. Atau sama dengan kekayaan lima perusahaan minyak di sana. Karena itu, ketika mengajukan permintaan tersebut ke DPR, Menteri Keuangan Henry Paulson hanya menyerahkan proposal tiga halaman.

Yang lebih dihebohkan adalah karena itu menyangkut rasa keadilan masyarakat dan melanggar doktrin kapitalisme dengan pasar bebasnya. “Sekali lagi, orang miskin harus membantu orang kaya,” kata umumnya opini di sana.

Atau sindiran seperti ini: Definisi kapitalisme dan pasar bebas harus diubah menjadi “boleh mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan cara apa pun dan kalau terperosok ke jurang, pemerintah harus menolong”. Atau: Solusi yang terbaik adalah biarkan mereka bangkrut.

Kebetulan, pemilu sudah dekat. Pemilu presiden maupun pemilu anggota DPR. Karena itu, sikap para anggota DPR menjadi sangat aneh. Secara ilmiah, mereka harus menyetujui permintaan bailout USD 700 miliar itu. Tapi, mereka takut pada kemarahan rakyat atas perilaku para pengusaha keuangan yang mereka sebut begitu rakus (lihat tulisan saya Kalau Langit Dianggap Kurang Tinggi di harian ini edisi 28 September 2008).

Karena itu, sikap umumnya anggota DPR adalah ini: Permintaan bailout tersebut harus kita setujui, tapi jangan saya yang harus ikut menyetujui.

Umumnya mereka tahu akibat buruk kalau DPR tidak menyetujui permintaan presiden itu. Tapi, mereka lebih takut kalau tidak terpilih. Sebab, pemungutan suara dilakukan secara terbuka. Rakyat bisa tahu siapa setuju siapa menolak.

Karena itulah, dalam pemungutan suara pada Senin pekan lalu, permintaan bailout tersebut tidak disetujui DPR dengan suara cukup telak (228 lawan 205). Bahkan, yang terbanyak menolak justru dari partai presiden sendiri.

Lalu, terjadilah sejarah itu: begitu DPR menolak, harga saham terjun bebas. Nilai penurunan tersebut mencapai USD 3,4 triliun. Dunia heboh. Lembaga keuangan panik. Wall Street (pasar modal yang terletak di Jalan Wall Street New York) berjatuhan. Reruntuhannya menimpa main street.

Penolakan DPR untuk menolong orang-orang di Wall Street ternyata berimbas langsung kepada masyarakat umum. Para pengusaha kecil yang semula merasa tidak adil kalau pemerintah menolong perusahaan raksasa kemudian ikut kelimpungan: bank tidak bisa memberi mereka kredit. Banyak perusahaan mengurangi tenaga kerja atau tutup. Kelas pegawai ternyata juga ikut susah.

Maka, opini langsung berubah. Yang menolak bailout dituding sebagai penyebab keruntuhan ekonomi secara lebih luas. Mereka menjadi sasaran kemarahan baru. Para anggota DPR pun setuju untuk bertemu lagi lima hari kemudian. Bahkan bisa lebih cepat kalau saja tidak terhalang tahun baru Yahudi yang merupakan hari libur di AS.

Suasananya mendadak berbalik. Banyak yang menyesal telah menolak bailout itu. Rencana menghemat USD 700 miliar ternyata justru menimbulkan kerugian USD 3,4 triliun dalam satu hari itu saja. Itu baru kerugian langsung. Kerugian akibat dampak berikutnya pasti lebih besar.

Inilah contoh konkret negara yang demokrasinya telah dewasa. Kesalahan bisa segera diperbaiki hanya dalam waktu lima hari. Kepentingan politik memang ada, tapi akal sehat tetap lebih utama.

Dari kejadian itu, saya semakin menghargai keputusan yang pernah diambil Presiden B.J. Habibie dan Presiden Megawati yang dengan cepat menyelesaikan utang-utang para konglomerat dulu itu. Tapi, karena suasana politik waktu itu lagi “kalut”, keduanya jadi bulan-bulanan.

Saya juga paham dan menghargai jalan pikiran seperti yang dianut Kwik Kian Gie atau umumnya ekonom kerakyatan. Memang sangat tidak adil negara mengeluarkan uang yang begitu besar untuk menolong para konglomerat. Bukankah itu kesalahan mereka sendiri? Mengapa uang rakyat yang dipakai menolong mereka? Apalagi nilainya bukan sekadar 5 persen dari GNP seperti di AS sekarang, melainkan praktis 100 persen dari GNP Indonesia (saat itu).

Bahkan, transparansinya memang patut dipersoalkan karena di masing-masing perusahaan Indonesia yang di-bailout itu umumnya mayoritas sahamnya masih dipegang satu keluarga. Kenyataannya kemudian, dengan berbagai cara, para pemilik itu sendiri yang membeli kembali dengan harga banting-bantingan.

Tapi, kejadian di AS tersebut tetap benar-benar menjadi bukti bahwa kalau utang-utang mereka tidak diselesaikan, ekonomi tidak bisa bergerak (bahkan merosot). Akibatnya, kerugian seluruh bangsa akan jauh lebih besar dari nilai uang yang dipakai menolong mereka. Nasib orang kaya, rupanya, memang lebih mujur. Jatuh pun diselamatkan kasur dan permadani. Sangat pantas kalau rakyat umumnya sangat marah.

Dalam kasus AS, akal sehat segera mencuat. Sambil marah, tetap saja bailout USD 700 miliar harus disetujui. Akhirnya, lima hari kemudian, DPR menyetujui permintaan bailout itu. Memang masih ada 171 orang yang menolak, tapi yang setuju menjadi 263 orang.

Meski DPR sudah menyetujui jalan keluar tersebut, tidak berarti ekonomi AS segera pulih. Banyak analis memperkirakan krisis itu masih akan berlangsung selama enam atau tujuh bulan lagi. Masih harus lama mencari titik keseimbangan baru.

Apalagi kalau benar bahwa bisa saja krisis keuangan tersebut menyangkut uang sampai USD 60 triliun, sebagaimana ditulis majalah Fortune terbaru. Berarti jauh lebih besar dari perkiraan semula yang hanya menyangkut USD 5 triliun. Apalagi, pemerintah AS sedang dalam masa transisi. Pemerintah Bush sudah tidak punya waktu lagi, sementara pemerintah baru belum akan efektif sampai empat bulan lagi.

Belum lagi bailout yang USD 700 miliar itu tidak bisa cair begitu saja. DPR menambahkan banyak persyaratan. Termasuk prosesnya yang harus transparan. Bahkan, mulai dipertanyakan berapa banyak konsultan yang akan dipekerjakan dan berapa gaji mereka. Itu mengingatkan kita bahwa untuk BPPN saja, kita menggunakan ratusan konsultan asing dengan total gaji ratusan miliar rupiah.

Bisa selesai dalam enam atau tujuh bulan? Kok begitu cepat?

Enam atau tujuh bulan itu adalah masa untuk mencapai titik keseimbangan baru. Tentu posisi keseimbangan baru tersebut jauh lebih rendah daripada posisi saat ini. Untuk bisa benar-benar pulih seperti sekarang, para analis sepakat diperlukan waktu lima sampai enam tahun. Berarti, siapa pun presiden baru yang terpilih bulan depan berada dalam posisi yang berat.

Tapi, tetap saja masa enam-tujuh bulan tersebut sangat cepat. Itulah kalau sebuah negara demokrasinya sudah dewasa. Persoalan tersebut bisa cepat diselesaikan justru sebelum merembet ke bidang lain. Kita pun, kalau bisa konsisten menjaga demokrasi ini, kelak akan sampai ke sana juga. Mungkin 16 tahun lagi.

Benarkah krisis yang begitu hebat akan selesai dalam tujuh bulan?

Cepat atau lambat, itu relatif. Kita bisa bilang “kok cepat” karena kita punya pengalaman buruk. Untuk pulih dari krisis 1997, kita perlu waktu tujuh tahun menormalkannya. Krisis moneter kita sempat ditunggangi oleh kerusuhan rasial dan krisis politik yang mbulet.

Kerumitan itulah yang tidak sampai menyertai krisis moneter di AS sekarang ini. Paling-paling mereka hanya akan memperbarui banyak peraturan di bidang keuangan agar lebih ketat. Misalnya, subprime mortgage akan dilarang. Demikian pula short selling di pasar modal.

Tapi, dalam waktu kurang dari 10 tahun ke depan, lubang-lubang peraturan baru itu pun sudah bisa ditemukan. Kapitalisme akan mendorong pelaku bisnis untuk terus berkelit. Kalau kena jalan buntu, jalan lingkar harus ditemukan. Tidak bisa menemukan jalan lingkar, bikin jalan baru. Tidak bisa bikin, beli! Tidak bisa beli, lakukan hostile! Kalau hostile pun tidak bisa, bikin saja jalan di angan-angan. Laksanakan di kertas atau di layar komputer. Malah tidak perlu aspal, batu, dan kontraktor.

Lalu, jual!

Kalau pembeli bertanya seberapa lebar dan di mana jalan itu, buka saja laptop! Bikin animasi yang bisa menggambarkan jalan itu lengkap dengan mobil yang lalu-lalang, tiang-tiang listrik dan gedung-gedung pencakar langit di kanan kirinya. Karena jalan jenis ini tidak perlu tanah, bikinlah banyak-banyak! Sebanyak yang ada di pikiran. Peraturan yang kian hebat membuat pebisnis kian lihai. Sampai kelak, 20 tahun yang akan datang terjadi lagi krisis yang baru.

Berapa banyakkah uang Indonesia yang terancam lenyap dari krisis di Amerika? Sejauh ini baru Bank BNI yang mengumumkan kemungkinan hilangnya uang yang ditempatkan di Lehman Brothers sebesar USD 7,8 juta (sekitar Rp 72 miliar).

Perkiraan saya total sekitar Rp 10 triliun. Di antara jumlah itu, Surabaya saya kira menyumbang sekitar Rp 1 triliun, melibatkan 100-an orang kaya. Dari Jakarta sekitar Rp 8 triliun melibatkan 1.000-an orang atau lembaga. Yang Rp 1 triliun lagi dari berbagai kota. Mudah-mudahan perkiraan saya terlalu besar. (*)

Kalau Langit Masih Kurang Tinggi

December 25, 2008 By: cipto Category: Dahlan Iskan on Global Economic Crisis

Jluntrungan Krisis Subprime di Amerika Serikat

Kalau Langit Masih Kurang Tinggi


Minggu, 28 September 2008


Oleh: Dahlan Iskan


Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya “menceritakan” secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:
Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.

Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.

Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.

Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.

Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak.

Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum perburuhan, dan seterusnya.

Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi kadang bisa rugi?

Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya. Mengapa? Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?

Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over.

Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.

Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana.

Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya. Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.

Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2 triliun!

Sudah lebih dari 60 tahun cara “membesarkan” perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.

Tapi, itu belum cukup.

Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak cukup lagi: harus computerized!

Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.

Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya.

Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah?

Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar?

Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada 1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut “Deregulasi Kontrol Moneter”. Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian.

Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata.

Begini ceritanya:

Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR, meski tidak sama).

Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.

Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.

Dengan keluarnya “jalan baru” pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para broker dan bisnis lain yang terkait.

Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka, ada lagi “jalan baru” yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni, tahun 1986.

Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.

Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen. Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga terjamin.

Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun.

Kata “mortgage” berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.

Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut.

Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?

Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh “para pelaku bisnis keuangan” sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba.

Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.

Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage-kan lagi untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.

Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras.

Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.

Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan “bank jenis lain” yang disebut investment banking.

Apakah investment banking itu bank?

Bukan. Ia perusahaan keuangan yang “hanya mirip” bank. Ia lebih bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal: menerima macam-macam “deposito” dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan! Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.

Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah “personal banking”.

Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana, saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.

Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.

Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage.

Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun.

Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.

Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.

Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.

Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.

Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar. Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?

Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu.

Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang “menabung”-kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu.

Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.

Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia. Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana. Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*)


Belajarlah Lentur Laksana Air

September 03, 2008 By: cipto Category: Luck Factors, Attitude

“Men are soft and supple; dead, they are stiff and hard. Plants are born tender and pliant; dead, they are brittle and dry. Thus whoever is stiff and inflexible is a disciple of death. Whoever is soft and yielding is a disciple of life. The hard and stiff will be broken. The soft and supple will prevail.”

(Manusia itu lembut dan luwes; yang mati itu kaku dan keras. Tanaman dilahirkan lunak dan lentur; yang mati itu rapuh dan kering. Maka siapapun yang kaku dan tidak fleksibel adalah murid dari kematian. Siapapun yang lunak dan mengalah adalah murid dari kehidupan. Yang keras dan kaku akan hancur. Yang lembut dan luwes akan menang.)

- Lao-tzu -

Dalam buku saya “Becoming a Magnet of Luck : 10 Faktor yang Menjadikan Anda Magnet Keberuntungan” disebutkan bahwa fleksibilitas, kelenturan atau keluwesan merupakan salah satu faktor yang menjadikan seseorang lebih beruntung dalam kehidupannya dibandingkan dengan orang yang kaku dan terpaku. Yang lentur akan menang, yang kaku akan kalah dan mati, seperti kata Lao-Tzu berabad-abad yang lalu. Apalagi di zaman yang begitu cepat berubah ini, kelenturan menjadi semakin penting agar kita bisa tetap bertahan dan bertumbuh (survive and grow).

Lalu apa sih fleksibel itu ? Secara sederhana, fleksibel berarti lentur, luwes, bisa diganti-ganti, tidak kaku, mudah menyesuaikan diri. Tetapi lentur bukan berarti plin plan atau tak punya pendirian, melainkan lentur yang tegas atau dengan kata lain mudah menyesuaikan diri namun tetap asertif dan berwibawa.

Menurut pendapat saya, ada tiga dimensi fleksibilitas yang bisa terjadi. Yang pertama, kita perlu tetap fleksibel terhadap keinginan, tujuan atau sasaran yang telah kita canangkan. Tujuan atau sasaran yang telah kita rencanakan bukanlah ‘harga mati’ yang tidak boleh ditawar, walaupun pada hakekatnya lebih baik kita memiliki tujuan yang jelas dalam hidup ini dibandingkan dengan tidak memiliki tujuan sama sekali. Artinya goal setting atau well formed outcome harus tetap memperhatikan flexibility.

Fleksibilitas yang kedua adalah kita perlu fleksibel dalam hal cara atau strategi mencapai tujuan tertentu. Dengan kata lain, tujuannya tetap sama tetapi caranya bisa kita ubah-ubah. Bila cara A tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya, maka cobalah cara B, begitu seterusnya.

Sedangkan dimensi yang ketiga, kita perlu fleksibel dalam arti fisik kita, penampilan kita atau keadaan fisiologis kita. Fleksibilitas secara fisik berarti kita rileks, tidak tegang, tidak stress, kalem, ‘mengalir’ dengan lentur, santai tapi serius atau yang sejenisnya.

Air adalah contoh yang paling sempurna dari suatu kelenturan. Ketika ia mengalir secara normal di sungai, ia mengalir dengan penuh kelenturan. Ia tidak pernah memaksa batu karang agar minggir meninggalkan tempatnya. Ia tetap membiarkan sebatang pohon tetap berdiri tegak dengan akar-akarnya. Ia juga tak terlalu peduli dengan penghalang-penghalang yang lain. Namun air tetap mengalir dan bisa mencapai tujuannya. Ia berhasil melewati semua penghalangnya.

Air begitu lentur. Ia bisa meresap ke dalam tanah, pori-pori kayu, lapisan kertas, udara dan masih banyak yang lain.

Ia bisa sangat cair, lunak dan bisa juga keras seperi es batu. Air bisa bening atau keruh. Ia bisa menyatu dengan cairan yang lain tapi memisahkan diri dengan minyak. Ia mudah menyesuaikan diri dengan wadah dimana ia berada. Ia tidak melakukan perlawanan. Tapi jangan dikira ia lemah. Ia sanggup menghanyutkan kayu atau membawa onggokan sampah ke hilir. Jika perlu, ia bahkan bisa menghanyutkan rumah atau menenggelamkan sebuah pulau sekalipun.

Air juga sangat tekun. Dengan perlahan tapi pasti, tetesannya yang kecil akan mampu melubangi batu pualam yang keras.

Air adalah sumber keberuntungan. Ketika bertemu api, ia memadamkan dan mendinginkan panasnya. Ketika bertemu angin, ia menyejukkan dan menahan lajunya. Ketika bertemu tanah, ia menyuburkan dan membasahi yang kerontang. Ketika bertemu makhluk hidup, ia menghidupkan dan menyegarkan mereka.

Umpama pasukan perang, air tidak mengalahkan, tapi juga tidak mengalah. Mungkin mirip dengan falsafah Jawa “digdaya tanpo aji, nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasoraske” yang berarti “sakti tanpa ilmu kesaktian, datang tanpa pasukan, menang tanpa mengalahkan.”

Umpama pendekar kung fu, ia mirip jurus Tai Chi. Keperkasaannya melawan musuh bukan ditentukan oleh otot-otot yang tegang atau kekakuannya, melainkan oleh kelenturan gerakan tangan, kaki dan seluruh tubuhnya. Ia menundukkan kekerasan dengan kelembutan. Ia mengikuti dan menyesuaikan diri dengan gerakan lawan. Sang pendekar bergerak dengan gemulai, seolah tak bertenaga, tapi sangat dahsyat tenaganya. Ia mampu mengatasi kekuatan satu ton hanya dengan beberapa ratus kilo tenaga saja. Itulah kekuatan kelenturan yang seimbang.

Oleh sebab itu, maka belajarlah dari kelenturan air. Lentur yang seimbang. Lentur yang penuh ketegasan. Maka hidup Anda akan selalu dipenuhi dengan kesuksesan dan keberuntungan. Wish You Always Luck. (SA).


Dementor Sang Penyedot Semangat

July 10, 2008 By: cipto Category: Attitude

Ditulis oleh: Agung Mbot



Gambar dementor gue pinjem dari: foroswebgratis.com

dementor.jpg

Buat para penggemar serial Harry Potter pasti tau tentang Dementor. Digambarkan oleh tokoh Lupin bahwa Dementor adalah…

Dementors are among the foulest creatures that walk this earth. They infest the darkest, filthiest places, they glory in decay and despair, they drain peace, hope, and happiness out of the air around them… Get too near a Dementor and every good feeling, every happy memory will be sucked out of you. If it can, the Dementor will feed on you long enough to reduce you to something like itself…soul-less and evil. You will be left with nothing but the worst experiences of your life.” [harry potter wikia]

Atau dengan kata lain, Dementor punya kemampuan menyedot semangat hidup manusia sampe bisa jadi putus asa.

Belakangan ini, gue menemukan bahwa ternyata Dementor bukan cuma ada dalam fiksi. Repotnya, Dementor di dunia nyata lebih sulit dikenali. Kalo di cerita Harry Potter Dementor muncul dalam sosok yang mengerikan, berkulit kelabu dengan jari-jari kurus seperti kerangka, di dunia nyata mereka tampil seperti orang biasa. Mereka bisa aja duduk di sebelah lo di kantin, berdiri di belakang lo waktu ngantri karcis busway, atau yang lebih serem lagi: duduk di balik pintu bertuliskan “BOSS”.

Persis seperti dalam cerita Harry Potter, berdekatan dengan para Dementor bisa bikin lo tiba-tiba merasa suram, putus asa, hidup tiada guna, negara serasa mau bangkrut, kiamat seakan minggu depan, kerja kayak nggak ada gunanya, dsb dsb. Pada stadium lanjutan, infeksi Dementor bisa mengakibatkan timbulnya rasa curiga kalo orang lain berhasil, sirik kalo liat orang lain senang, bahkan terasa dorongan ingin nyabot sukses orang. Dengan kata lain, Dementor itu menular, dan dampak penularannya sangat merugikan. Hati-hati!

Kenapa kita sebaiknya jangan sampe ketularan jadi Dementor?
Karena nggak ada orang yang seneng denger keluhan, termasuk diri kita sendiri. Semakin banyak lo mengeluh, semakin lo benci sama diri sendiri. Semakin lo benci sama diri sendiri, lo semakin yakin bahwa diri lo nggak berguna. Semakin lo yakin diri lo nggak berguna, semakin tertutup jalan untuk hidup lebih baik.

Kenali Dementor sejak dini
Penampilan boleh nipu, tapi Dementor sejati nggak pernah bisa menyembunyikan sifat aslinya. Ciri-ciri yang paling gampang dikenali adalah:

1. Frekuensi curhat yang sangat tinggi, dengan topik masalah pribadi yang seolah penting banget untuk diketahui semua orang, dan nggak ada solusinya.

Yang paling mengganggu dari kebiasaan Dementor yang satu ini adalah, mereka bisa bikin sebuah acara ngumpul yang tadinya ’seru’ dan ‘hore’ jadi ngedrop dengan curhatan-curhatannya.

Contoh:
“Eh si X baru beli HP lho!” kata seseorang
“Oh ya, apa merknya?” sambut yang lain antusias
“Sony Ericsson, kalo nggak salah”
“SE?! Wah siap-siap aja tuh, kan batrenya cepet bocor. Nih gue pake SE baru sebentar udah rese gini batrenya… blablabla… mana harga jualnya cepet jatuh… blablabla… mau beli lagi nggak ada duit… blablabla… apa-apa sekarang mahal… blablabla… gaji nggak naik-naik…”
Pokoknya begitu si Dementor angkat bicara, semua yang hadir tiba-tiba merasa suntuk, lesu, nggak bergairah. Atau dengan kata lain, ya itu tadi: ngedrop.

2. Dementor selalu mampu melihat sisi jelek dari segala sesuatu, nggak peduli sebagus apapun keadaannya.

Kalo mau dibilang sebagai ‘bakat’, memang kemampuan Dementor yang satu ini nggak dimiliki kebanyakan orang. Saat semua orang terkagum-kagum atas kehebatan sesuatu, para Dementor dengan kejelian yang luar biasa selalu mampu menemukan celanya.

Contoh:
“Gue kemarin ketemu sama suaminya Ibu X. Ya ampun, orangnya ganteng sekali ya… udah gitu keliatannya baik, lagi.”
“Iya, gue juga pernah ketemu. Dia juga setia, lho…”
“Jangan lupa, pinter pulak. Kalo nggak salah dia lulusan terbaik waktu kuliah dulu.”
“Pantesan karirnya juga bagus, ya. Sekarang posisinya udah lumayan tinggi, kan?”
“…kalo tidur pasti ngorok kaya babi,” kata sang Dementor merusak suasana.

3.Dementor senang membandingkan diri dengan lawan bicara, sedemikian rupa sehingga dirinya terdengar jauh lebih apes, dan akhirnya lawan bicara menjadi sungkan.

Contoh:
“Hai, gue denger abis pindah rumah ya?”
“Iya nih, biasa… pinjeman dari kantor…”
“Ih enak ya, kantornya ngasih pinjemen rumah.. gue dong masih ngontrak mulu…”
“Oh…”
“Mana gaji nggak naik-naik, buat bayar kontrakan aja udah ngepas, gimana mau nabung buat beli rumah?”
“Ehm… tapi…”
“Udah mana sekarang BBM naik, apa-apa ikut naik, makin cekak aja deh rasanya… Kalo elu kan enak, gaji gede, fasilitas banyak…”
“Eh… permisi dulu ya, mau gantung diri dulu bentar boleh?”

4. Dementor gemar mematikan semangat orang lain.

Seperti pasukan pemadam kebakaran ngeliat api, semakin besar apinya, semakin giat upayanya untuk memadamkan.

Contoh:
“Gue mau coba bisnis baru nih!”
“Bisnis apa?”
“Jualan baju anak-anak”
“Yahhh… hari gini jualan baju! Nggak liat tuh, di ITC yang jualan baju udah segambreng?”
“…tapi koleksi gue unik-unik lho! Lain daripada yang lain deh!”
“Alaaah… unik kaya apa sih, paling sebentar lagi juga pasaran.
Liatin aja!”
“Euh… gue juga berencana ngikutin perkembangan tren lho…”
“Emangnya lu kira gampang? Gue pernah tuh, coba jualan baju kayak elu. Awalnya semangat, eh terakhirnya malah rugi. Mana barang dagangan dibawa kabur orang…”
dst dst dst.

Kiat menghadapi Dementor
Cara paling aman adalah: jangan dideketin. Begitu seseorang yang ada di dekat lo menunjukkan ciri-ciri seorang Dementor, segeralah jauh-jauh. Cari alasan apa aja, bilang mau beli rokok ke Ujung Kulon kek, mau nguras sumur kek, terserah. Yang penting jangan deket-deket mereka. Ingat, Dementor itu sangat menular!

Checklist Dementor
Sedangkan bagi kalian yang selama ini telah menjadi Dementor tapi nggak menyadarinya, coba teliti daftar berikut. Kalo kalian merasa setuju dengan 5 pernyataan atau lebih, hati-hati, kalian sedang menjelma menjadi Dementor.
Segeralah minta pertolongan profesional, sebelum terlambat.

  • Sebagian besar orang lebih beruntung dari gue
  • Nggak ada orang yang bisa hidup layak dengan gaji sekecil gue
  • Semakin lama, kondisi perekonomian semakin buruk. Gue nggak tau bulan depan masih bisa hidup atau enggak
  • Gue nggak tau gue ingin jadi apa
  • Gue benci sama kantor gue, tapi kalo gue resign nanti nggak ada kantor lain yang mau nerima
  • Naik pangkat? Jangan ah. Ntar kalo gagal gimana?
  • Tentu aja dia naik pangkat. Rajin jilat pantat, pasti.
  • Dari dulu memang gue ditakdirkan apes
  • Gue nggak pinter, makanya nggak bisa sukses kayak orang lain
  • Orang tua gue asal-asalan nyekolahin gue, makanya gue jadi kaya gini sekarang
  • Gue nggak kebayang gimana caranya biar bisa hidup lebih baik
  • Orang emang gampang kasih nasehat. Mereka belum ngerasain susahnya hidup gue, sih.
  • Percuma gue kerja keras, toh tiap bulan gajinya cuma segitu-segitu aja
  • Orang lain enak punya duit buat refreshing. Gue boro-boro refreshing, makan aja susah. Makanya harap maklum kalo gue stress.
  • Gue udah ketuaan untuk nyoba hal baru
  • Kenapa sih nggak ada orang yang ngertiin gue
  • Orang lain enak, punya orang tua kaya buat minjem duit kalo butuh. Giliran gue, yang ada emak gue nodong mulu buat beli beras
  • Kalo ada orang baik sama gue, pasti ada maunya
  • Boss muji gue? Pasti dia salah orang.
  • “7 Habits”-nya Steven Covey? Itu kan buatan Amerika, mana bisa berlaku di sini
  • Luna Maya aja masih ngejomblo, apalagi gue yang jelek begini
  • Emang dunia makin parah. Kucing aja makin hari makin kurang ajar.

Pesan bagi para Dementor
Tema utama hidup kalian adalah: merasa diri sebagai orang paling apes sedunia.

Padahal sekarang penduduk dunia ada 6.7 miliar orang. Jadi, lo harus mengalahkan keapesannya 6.699.999.999 orang. Itu nggak gampang, lho. Apa iya lo sehebat itu?



Antusiasme, Rahasia Keberhasilan Yang Jarang Dikenal

May 16, 2008 By: cipto Category: Luck Factors, Attitude

“Success is going from failure to failure without loss of enthusiasm.”

(Keberhasilan berjalan dari kegagalan ke kegagalan tanpa kehilangan antusiasme)

- Winston Churchill -

Kata antusias (enthusiast) atau antusiasme (enthusiasm) berasal dari bahasa Yunani kuno “entheos” yang berarti “Tuhan di dalam” dan antusias berarti “diilhami dari Tuhan”. Sedangkan menurut kamus Webster, antusiasme berarti “kegairahan yang kuat terhadap salah satu sebab atau subyek; semangat atau minat yang berapi-api; kegairahan.”

Sikap antusias akan membawa kita pada pikiran, perasaan dan tindakan yang positif. Sikap antusias menimbulkan gairah positif yang meningkatkan kualitas hubungan dengan orang lain, membuat kita lebih terbuka terhadap ide-ide atau peluang baru dan bahkan meningkatkan kualitas kesehatan kita.

Dale Carnegie telah membuktikan keampuhan antusiasme bagi kesuksesan dirinya, sebagaimana telah ditulis dalam bukunya yang berjudul “Rahasia Keberhasilan yang Jarang Dikenal.” Ia pernah mengatakan bahwa “antusiasme yang murni dan sepenuh hati adalah satu dari faktor-faktor kesuksesan dalam hampir segala usaha.” Dalam wawancaranya dengan berbagai tokoh sukses dunia, Dale Carnegie juga mendapatkan kesimpulan yang sama tentang kekuatan antusiasme. Frederick Williamson, Presiden Direktur New York Central Railway pada saatnya, mengungkap rahasia keberhasilannya kepada Carnegie dengan mengatakan : “Semakin lama saya hidup, semakin saya yakin bahwa antusiasme adalah rahasia keberhasilan yang jarang dikenal. Perbedaan nyata dalam ketrampilan, kemampuan dan kecerdasan antara mereka yang sukses dan yang gagal biasanya tidak begitu besar dan menyolok. Tetapi bila ada dua orang hampir setara dalam segala hal, maka dia yang antusias akan lebih unggul. Dan orang dengan kemampuan biasa-biasa saja tetapi memiliki antusiasme sering melebihi orang dengan kemampuan hebat tetapi tanpa antusiasme.” Charles Schwab - seseorang yang gajinya satu juta dolar setahun pada masanya - juga mengatakan kepada Carnegie bahwa rahasia keberhasilannya adalah antusiasme. Dia menyatakan bahwa seseorang dapat berhasil dalam bidang apa saja apabila dia memiliki antusiasme tak terbatas.

Charles F. Kettering, seorang penemu dan pakar otomotif terkenal, mengemukakan kaitan antara antusiasme dengan kesempatan. Ia mengatakan : “Kita baru memasuki suatu era dimana dalam tiap bidang yang dapat dibayangkan, ada kesempatan yang tidak pernah diimpikan sebelumnya. Kesempatan-kesempatan ini akan datang kepada mereka yang memiliki antusiasme.”

Albert Carr, dalam bukunya How to Attract Good Luck tidak menyebut kata antusiasme, tetapi sebagai gantinya ia menyebut kata “semangat” (”zest”) - yang kurang lebih sama artinya dengan antusias - sebagai jalan pintas menuju keberuntungan (the shortcut to luck). Ada alasan yang mendasar mengapa Carr mengambil kesimpulan begitu. Alasannya adalah bahwa “semangat” yang kita pancarkan kepada orang lain akan melemparkan ‘kabel’ kemujuran sehingga mengalirlah “arus kemujuran” dengan cepat kepada kita. Seringkali semangat juga memperlihatkan pengaruhnya atas keberuntungan secara lebih halus dan dalam periode waktu yang lebih lama. Carr memberi contoh bagaimana Winston Churchill menuai keberuntungan yang besar karena semangatnya yang tinggi. Kualitas semangatnya sudah berkobar-kobar semenjak ia masih muda, sebelum terjun ke dunia politik. Ketika ia menjadi wartawan muda, rekan-rekannya sesama jurnalis (yang kebanyakan lebih senior) menjulukinya dengan sinis sebagai “si setan mujur Churchill”, karena ia berhasil memperoleh beberapa berita penting dari nara sumber yang berpangkat jenderal (pada masa Perang Boer), sementara wartawan yang lain kesulitan mendapatkannya. Hal itu ternyata disebabkan oleh semangat Churchill yang berhasil ‘mencuri hati’ sang jenderal. Ia memang beruntung, tetapi yang tidak mereka lihat adalah sejauh mana keberuntungan itu “diundang” Churchill dengan kesiapan bersemangat dalam setiap petualangannya. Dan dalam sejarah, ia diakui oleh dunia sebagai orang yang paling bersemangat di zamannya.

Antusiasme atau semangat memang dahsyat kekuatannya, karena telah menimbulkan kesan yang mendalam bagi orang lain yang kita ajak bicara. Pengaruhnya akan lebih kuat lagi jika ditambahi dengan keramahtamahan, apalagi dengan orang asing atau orang yang baru kita kenal. Hal ini akan melipatgandakan manfaat dari networking yang kita lakukan. Bila dengan networking kita bisa memperbesar kemungkinan mendapatkan peluang, maka dengan tambahan antusiasme dan keramahan, peluang itu akan lebih cepat ditemukan, bahkan bisa “menyambar” kita dengan cepat. Itulah kekuatan dari antusiasme atau semangat. Jadi tidak salah apabila Bertrand Russell menyebut semangat sebagai “tanda paling khusus dan universal dari orang-orang bahagia.” (SA).

Ingin Lebih Sehat dan Awet Muda? Bersikaplah Positif!

April 30, 2008 By: cipto Category: Attitude

Salah satu manfaat dari bersikap positif adalah membuat kita lebih sehat dan awet muda. Mengapa bisa begitu ? Karena kesehatan fisik manusia sangat dipengaruhi oleh kesehatan mentalnya.

Banyak study dan penelitian menunjukkan bahwa kesehatan mental, misalnya memiliki sikap positif dan sikap optimis, bisa mempengaruhi kesehatan fisik seseorang.

Sebuah hasil penelitian di Belanda, yang diterbitkan di Archives of General Psychiatry edisi November 2004, menunjukkan bahwa orang-orang yang lebih optimis memiliki resiko kematian yang lebih rendah terhadap suatu penyakit.

Penelitian ini melibatkan lebih dari 900 orang, pria dan wanita, berumur antara 65 tahun sampai 85 tahun, berdasarkan isian kuesioner yang meliputi kesehatan, harga diri, moral, optimisme dan hubungan dengan orang lain. Dilaporkan bahwa orang-orang yang tingkat optimismenya tinggi memiliki resiko kematian 55% lebih rendah untuk semua penyakit dan 23% lebih rendah untuk resiko kematian akibat penyakit jantung (cardiovascular) dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki tingkat pesimisme yang tinggi.

Penelitian berikutnya yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Wisconsin-Madison, yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences juga menunjukkan bahwa aktivitas otak yang berkaitan dengan ‘pikiran negatif’ memperlemah sistem kekebalan tubuh.

Orang-orang yang memiliki aktivitas otak yang sangat tinggi di daerah otak ‘pre-frontal cortex’ bagian kanan, yang berkaitan dengan ‘pikiran negatif’ (misalnya sikap pesimis) memiliki respon yang lebih buruk terhadap vaksin influenza. Sedangkan orang-orang yang memiliki aktivitas otak yang tinggi di bagian ‘pre-frontal cortex’ kiri, yang berkaitan dengan emosi positif, lebih bagus respon-nya terhadap vaksin.

Study menarik lainnya dilakukan oleh Dr. Judith Tedlie Moskowitz dari University of California -San Francisco
, yang membuktikan hubungan antara ‘positive feeling’ dengan resiko kematian akibat penyakit AIDS. Penelitian ini melibatkan 407 orang pria penderita HIV/AIDS dari daerah San Francisco antara tahun 1984 sampai 1993 dan lebih dari separohnya kemudian meninggal dunia.

Dr. Judith menemukan bahwa orang-orang yang memiliki skala ‘positive feeling’ tinggi telah menurunkan resiko kematiannya. Namun tidak demikian dengan ‘negative feeling’ yang ternyata tidak memiliki pengaruh yang ’significant’. Artinya bahwa ‘positive feeling’ merupakan ‘active ingredient’ di dalam penanganan penderita pasca terkena HIV/AIDS, untuk memberikan tambahan unsur pelindung atas sistem kekebalan tubuhnya.

Yang terakhir, Dr. Kazuo Murakami, sebagaimana tertulis dalam bukunya The Divine Message of the DNA, bekerjasama dengan perusahaan raksasa hiburan Jepang, Yoshimoto Kogyo Co. Ltd., melakukan eksperimen untuk mempelajari pengaruh dari tawa (salah satu pertanda atau indikasi emosi positif) terhadap penderita diabetes stadium dua.

Dalam penelitian ini, pertama Murakami mengukur glukosa darah para penderita diabetes setelah berpuasa. Setelah itu, sebagian dari mereka diminta mendengarkan kuliah atau ceramah yang tidak lucu sementara sebagian yang lain menonton sebuah pertunjukan komedi. Kemudian, makanan pun dihidangkan lalu diukur kembali kadar glukosa darah mereka setelah makan.

Hasilnya, mereka yang mengikuti kuliah mengalami peningkatan kadar glukosa darah sebesar 123 mg/dl, sementara mereka yang menonton acara komedi hanya mengalami peningkatan sebesar 77 mg/dl. Murakami mengulang percobaan tersebut, dan sekali lagi, mereka yang menyaksikan acara komedi mengalami peningkatan glukosa darah yang jauh lebih kecil daripada mereka yang tidak menyaksikannya.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tawa memiliki pengaruh positif karena dapat menghambat peningkatan kadar glukosa darah yang bermanfaat bagi penderita diabetes. Lebih lanjut Murakami menemukan bahwa dua puluh tiga gen terkativasi berkat tawa. Dan untuk pertama kalinya terbukti bahwa emosi positif dapat memicu tombol genetik manusia. Hasil penemuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care edisi Mei 2003 dan jurnal Psychotherapy and Psychosomatics pada 2006 dan dilaporkan oleh Reuters ke seluruh dunia.

Jelaslah bahwa sikap positif, emosi positif, positive feeling dan sejenisnya memberikan pengaruh yang significant terhadap kesehatan fisik kita. Jadi, bila Anda ingin lebih sehat dan awet muda, milikilah sikap positif, selain tentunya tetap berolah raga secara rutin dan mengatur pola nutrisi Anda. (SA).


Resensi Roni Yuzirman atas Buku “BeaMaL”

March 28, 2008 By: cipto Category: Luck Factors, Personal

Sepuluh Rahasia Menjadi Orang yang Selalu Beruntung

By Badroni Yuzirman;

Friday, March 28, 2008
7:12 AM

*”Everything in life is luck”*, kata Donald Trump <http://www.trumpuniversity.com/blog/index.cfm>.
Jika kita baca riwayat para miliarder, banyak yang mengatakan bahwa kesuksesannya adalah karena keberuntungan, luck.

Carl Jung <http://en.wikipedia.org/wiki/Carl_Jung> mendefinisikan fenomena keberuntungan itu sebagai rentetan sinkronisitas. Orang yang beruntung adalah orang yang mengikuti aliran (flow) dalam hidupnya. *”As you flow grows, your luck grows”* katanya.Orang-orang yang sukses itu mengetahui dan mengikuti aliran tertentu di mana mereka bertumbuh dan menciptakan keberuntungan.Pertanyaannya, apa saja aliran-aliran yang harus diikuti?

Saat ini di tangan saya sudah ada buku yang menjawabnya.

Saya beruntung sekali mendapatkan kesempatan pertama untuk menikmati buku yang dikirim oleh penulisnya, Sucipto Ajisaka <http://www.suciptoajisaka.com/>, salah satu member TDA <http://tangandiatas.com/> yang tinggal di Surabaya.Wallace D. Wattles <http://en.wikipedia.org/wiki/Wallace_Wattles> dalam buku The Science of Getting Rich merumuskan bahwa untuk menjadi orang sukses harus *think, feel and act in a certain way*.Nah, buku ini juga mencoba menjawab pertanyaan itu dengan menyampaikan pesan bahwa jika kita ingin menjadi orang yang menjadi magnet keberuntungan, kita harus *think, feel and act in a certain way* juga.

Ada 10 “rahasia” yang diungkap dengan jelas dan gamblang di dalam buku berjudul Becoming A Magnet of Luck (BeaMaL) ini:

1. Bangun dan perbesarlah jejaring anda. Bangunlah network. Jalinlah silaturahmi dengan siapa saja. Di TDA saya selalu mengatakan bahwa silaturahmi membawa rezeki. Kurang lebih seperti itulah maknanya. Orang-orang yang sukses adalah mereka yang banyak teman dan gemar bersilaturahmi.

Di buku ini dijelaskan secara detil apa manfaat dari jejaring itu. Bagaimana membangun jejaring. Plus bagaimana memanfaatkan teknologi guna membangun jejaring.

2. Berpetualanglah mencari hal-hal baru. Mereka yang gemar berpetualang selalu punya rasa ingin tahu yang tinggi dan terbuka dengan hal-hal baru. Berpetualang akan membuka kemungkinan-kemungkinan, termasuk keberuntungan ke dalam hidup kita.

Saya jadi teringat dengan tokoh di novel The Alhemist karya Paulo Cuelho <http://www.paulocoelho.com.br/engl/>. Ia berpetualang mengikuti kata hatinya dan akhirnya menemukan keberuntungannya.

3. Banyak memberi dan melayani. Pertanyaan menarik yang dijawab di buku ini adalah mengapa dengan memberi kita bisa mengundang keberuntungan? Bagaimana membangun semangat memberi? Bagaimana membangun mentalitas kelimpahan (abundance)?

4. Memiliki tujuan. Bagaimana kekuatan tujuan dapat memudahkan kita mengundang keberuntungan?

5. Fleksibel dan rileks.

6. Mengikuti dan mengasah intuisi.

7. Memiliki sikap positif.

8. Bertumbuh dan belajar.

9. Berani mengambil tindakan.

10. Tuhan jualah yang menentukan.

Setelah saya buka-buka, buku mengungkap rahasia menjadi magnet keberuntungan ini dengan sistimatis, lengkap, dan penuh dengan rujukan dan contoh kisah orang-orang yang secara sadar atau tidak telah menerapkan kesepuluh rahasia itu.

Buku ini berhasil mengungkap bahwa keberuntungan yang sering disebut sebagai hoki, luck atau fortune itu bukanlah terjadi secara kebetulan, untung-untungan atau terkait dengan ramal-meramal. Keberuntungan juga tidak terkait dengan tahayul, feng shui.

Keberuntungan adalah tentang sikap, perilaku dan tindakan yang tepat.

Dengan demikian keberuntungan akan menjadi hak semua orang yang mengetahui dan mempraktekkan ke sepuluh rahasia itu.

Penasaran dengan isi bukunya? Silakan temukan buku penting terbitan Lutfansah Mediatama dan CEO Publishing ini di toko-toko buku terdekat. Mudah-mudahan sudah tersedia.

Penulisnya sendiri, Sucipto Ajisaka <http://www.suciptoajisaka.com/> adalah alumnus Teknik Nuklir UGM Jogja dengan predikat cum laude dan MBA dari Prasetiya Mulya

Business

School. Berpengalaman lebih dari 15 tahun sebagai praktisi bisnis dan manajemen. Saat ini berprofesi sebagai konsultan, trainer dan public speaker dalam bidang manajemen dan pengembangan diri. Ia juga tercatat sebagai NLP Practitioner dari

NF-NLP, Florida, USA.

Saya sendiri merasa senang sekali telah diberi kesempatan untuk menuliskan endorsement buku ini bersama endorser lainnya seperti Tung Desem Waringin <http://www.dahsyat.com/>, James Gwee <http://www.jamesgwee.com/>,
Wuryanano<http://wuryanano.blogspot.com/>dan Faif Yusuf <http://faifyusuf.blogspot.com/>.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Badroni Yuzirman
www.manetvision.com | www.roniyuzirman.com | mail: roni@manetvision.com |
Y!M: roniyuzirman | 0812 100 8164

Resensi Ikhwan Sopa atas Buku “Becoming a Magnet of Luck”

March 24, 2008 By: cipto Category: Luck Factors, Personal

Berikut ini adalah resensi Ikhwan Sopa (Trainer “E.D.A.N”) atas buku saya “Becoming a Magnet of Luck” yang saya kutip dari Milis Bicara.

Posted by: “Ikhwan Sopa” ikhwan.sopa@gmail.com ikhwansopa

Mon Mar 24, 2008
12:47 am
(PDT)

*Buku: Becoming A Magnet of Luck
10 Faktor Keberuntungan yang Menjadikan Anda Magnet Keberuntungan*

Beberapa hari yang lalu, buku ini sampai ke tangan saya. Di kirim oleh Mas Cip teman saya. Lumayan, dapat buku bermutu gratis he…he…he.. Judulnya “Becoming A Magnet of Luck”. Kayaknya inilah yang sering kita cari selama ini; live luckily.

Tebalnya 331 halaman, termasuk berbagai cerita inspirasional tentang pengalaman “hoki” berbagai tokoh termasuk penulisnya sendiri, Mas Cip. Membacanya saja, saya sudah merasa beruntung.

Benar apa yang dikatakan oleh Pak Tung dalam endorsement-nya; sistematis. Ya, sistematis untuk sebuah fenomena “luck” atawa “hoki” yang selama ini lebih dinilai sekedar intuitif. Sekarang, Anda mendapatkan skill baru dengan buku ini yakni “hoki” yang bukan sekedar “good luck”, tapi lebih dari itu “keberuntungan” yang memang bisa dilatih dan dijadikan keahlian. Wow.

Dengan runtut, Mas Cip menguraikan 10 poin penting tentang bagaimana mengubah diri dan kepribadian, menjadi a living magnet untuk berbagai keberuntungan.

01. Networking alias silaturahim;
02. Sikap petualang untuk hal-hal baru;
03. Memberi dan melayani;
04. Tujuan;
05. Fleksibel dan rileks;
06. Intuisi;
07. Sikap positif;
08. Tumbuh dan belajar;
09. Action;
10. Tuhan.

Setahu saya, sepuluh poin itu di dalam konsep Law of Attraction, adalah elemen-elemen yang bisa dipastikan menjadi bagian dari hukum alam. Dengan kata lain, berdasarkan sepuluh elemen itu, keberuntungan ternyata juga punya tingkat kepastian yang tinggi, nyaris seperti hukum alam yang biasa berlaku dan kita kenal sehari-hari.

Anda bersilaturahim dan bernetworking, Anda pasti banyak teman. Banyak teman Insya Allah banyak yang mendukung. Beruntung.

Bertualang untuk berbagai hal baru, tidak bisa lepas dari berbagai proses pembelajaran. Dan sesuai hukum alam, pembelajaran akan menghasilkan pelajaran. Itu pasti tak ternilai harganya. Beruntung lagi.

Punya tujuan artinya jelas dan jernih tentang apa, kemana, di mana, kapan, bagaimana, dan bahkan mengapa. Kejelasan 5 w dan 1 H seperti ini, selalu menjadi kata kunci untuk berbagai bidang ilmu yang kita pelajari. Artinya, kita sebenarnya telah memegang kunci universal dan kunci sapu jagat. Beruntung lagi.

Memberi dan melayani, adalah faktor “luck” yang paling mendasar, jelas, dan sederhana. Sesekali, berikan penganan teman teh atau kopi kepada tetangga Anda. Lihatlah bagaimana Anda beruntung. Bukan hanya balasan kue atau makanan, Anda dapatkan juga senyum dan keramahtamahan, sikap penuh perhatian, keinginan untuk menolong, atau menyantuni dari mereka. Banyak bonusnya. Beruntung lagi.

Fleksibel dan rileks, artinya punya kelenturan dan daya tahan. Mas Cip, dengan akurat memberi contoh tentang air. Fleksibel dan rileks, artinya tak mudah patah dan mudah menyesuaikan diri. Buktikan saja ke sekitar kita, siapa berciri itu maka beruntunglah ia.

Intuisi adalah gabungan berbagai kecerdasan yang biasa kita kenal dengan IQ, EQ, dan SQ. Intuisi, dalam banyak kasus sering menjadi penyelamat pada situasi darurat. Ia sering menjadi penemuan terbesar yang nyaris tak sengaja atau kebetulan. Beruntung lagi.

Sikap positif adalah pilihan terbaik bagi siapapun. Sederhana saja. Alam semesta tidak diciptakan dengan sia-sia. Itu positif. Apapun tujuan kita, pasti positif setidaknya menurut kita. Maka, kita tak punya pilihan lain kecuali melakukan “alignment” dengan segala ke-positif-an itu. Jika bisa,
beruntunglah kita karena tak bertentangan dengan tujuan penciptaan, dan sekaligus tak bertentangan dengan tujuan kita sendiri. A-line-ment. Beruntung sekali.

Hasilnya? Ya semua poin yang di atas itu!

Tumbuh dan belajar adalah bagian tak terpisahkan dari apa yang paling pasti di alam semesta ini, yaitu segalanya bergerak dan segalanya mengalami perubahan. Apa yang tetap, hanyalah apa yang dibuat-Nya tetap sampai akhir zaman. Selebihnya, bergerak dan berubah. Tanpa tumbuh dan belajar, ya selamat tinggal. Selamat ketinggalan zaman maksud saya. Tumbuh dan belajar adalah syarat utama meraih keuntungan dari segala pergerakan dan segala perubahan.

Action, ini dia. Seringkali, “keberuntungan” dikait-kaitkan dengan “sedikit kerja”. Mas Cip dengan cerdas membantah jargon lama ini. Tuhan itu Maha Tahu. Tak satupun di alam semesta ini terjadi secara tidak sengaja. Semuanya ada di dalam skenario. Dan untuk memahami cara kerja skenario-Nya, kita tak punya pilihan lain kecuali bertindak. Hanya mendengar dan meyakini saja, tak akan membawa keuntungan apa-apa. Paling tinggi, kita hanya akan mendapatkan keuntungan “kognitif”. Keuntungan yang diperoleh dari “tahu” saja. Padahal, kita toh ingin keberuntungan yang tidak hanya diketahui, tapi juga di rasakan. Holistik. Mental dan fisik. Bertindak, apalagi bertindak tepat, pastilah membawa keberuntungan yang lengkap. Tanpa tindakan, ibarat hanya membaca buku ini dan tidak mencoba mempraktekkannya, sesedikit apapun.

Tuhan. Ia-lah awal dan akhir dari setiap keberuntungan. Ia-lah yang menciptakan dan mengizinkan setiap kita mencicipi keberuntungan. Ia jugalah yang membatasinya sampai waktu tertentu dan kemudian menariknya kembali. Maka, puncak keberuntungan kita sebenarnya ada di poin ke 10 ini. Sebab, poin 1 sampai 9 di atas, jelas-jelas adalah bagian dari jalan-jalan yang telah diridhoi-Nya untuk meraih keberuntungan. Ya kan?

Sepuluh paragraf.

Alangkah beruntungnya kita, jika bisa menikmati ribuan paragraf yang terinci dan sistematis di ratusan halaman buku ini ketimbang uraian-uraian pendek di atas? Alangkah beruntungnya!

Mas Cip, ternyata seorang penulis yang punya kualifikasi hebat untuk “wow effect” dan “yes factor”. Dua hal, yang jadi rumusan paling penting dari setiap bentuk media. Jangan kaget jika halaman demi halaman, Anda akan terhenyak menarik bahu ke belakang sambil menahan nafas, atau termanggut-manggut mengiyakan. Dengan segera, Anda akan merasa hanyut dan tenggelam ke dalam berbagai keberuntungan. Sebab, semuanya memang telah ada di dalam diri Anda. Mas Cip, hanya memencet “on” tombolnya.

Seperti seorang Sucipto Ajisaka yang *cum laude* lulusan teknik nuklir. Buku ini adalah nuklir! Bayangkan energi yang dihasilkan dari buku ini. Modal Anda hanya 10, potensi keberuntungan Anda sejuta! Nuklir.

Buka dan bacalah 331 halaman buku ini, maka 331 x sejuta peluang keberuntungan akan terbuka di hadapan Anda. Kemudian, Anda tinggal membacanya!

Sssssttt! Sebenarnya, modal Anda sebelas. Bukan hanya sepuluh yang dituangkan dalam buku ini. Membacanya saja, bisa jadi keuntungan awal Anda!

*Ikhwan Sopa*

Trainer E.D.A.N.
+62 21 70096855
http://milis-bicara.blogspot.com


Dua Musuh Kesuksesan : Rasa Malas dan Menunda

March 21, 2008 By: cipto Category: Action

Kita semua pasti pernah mengalami rasa malas sehingga tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Ini merupakan kondisi emosi umum yang menghambat seseorang untuk bertindak. Ketika Anda malas, Anda sebenarnya tahu bahwa Anda harus mengerjakannya, tetapi Anda tidak mengerjakannya juga.

Sebagai contoh, Anda tahu bahwa berolahraga secara teratur itu penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh Anda. Anda juga bisa melakukannya tanpa kesulitan, apakah dengan lari pagi (jogging), berenang, bermain bulu tangkis, bermain bola tenis, ikut fitness dan sebagainya. Tapi Anda toh tidak melakukannya juga. Mengapa ? Alasan yang paling umum adalah karena Anda malas melakukannnya.

Mengapa bisa malas ? Alasannya bermacam-macam. Bisa jadi Anda malas karena kurangnya motivasi, tidak merasa perlu, tidak merasa harus atau merasa kurang bermanfaat. Bisa juga karena Anda sudah bosan, jemu, lagi stress, sedang marah atau sedang tidak mood. Atau barangkali juga disebabkan oleh fisik kita yang sedang lelah, lemah, loyo atau kurang stamina. Semuanya bisa membuat kita malas.

Rasa malas memiliki ’saudara’ yang disebut ‘menunda’. Tidak jelas siapa yang ‘lebih tua’, yang pasti keduanya sangat berkaitan. Bisa jadi Anda menunda suatu pekerjaan karena malas. Tetapi bisa juga Anda merasa malas karena telah menunda (merasa terlambat atau kehilangan momentum).

Orang yang suka menunda biasanya selalu punya jawaban atau alasan penundaannya misalnya : “Saya akan melakukannya besok”, “Nanti saja”, “Lain kali saja ya”, “Saya sibuk sekali hari ini” atau “Nanti kalau saya punya cukup waktu” dan sebagainya. Padahal yang seharusnya adalah “Lakukan saja sekarang”, “Just Do It” atau Act TNT (today not tomorrow).

Frank J. Bruno dalam bukunya “Stop Procrastinating” membagi penundaan menjadi


lima

macam.

Yang pertama adalah penundaan fungsional, yaitu menunda karena sebab-sebab yang bisa dipertanggungjawabkan. Contohnya adalah Anda menunda karena adanya skala prioritas sehingga Anda perlu mendahulukan pekerjaan yang lebih penting dan mendesak. Mungkin juga Anda menunda karena benar-benar sedang sakit atau kelelahan, belum memiliki informasi yang cukup dan sebagainya. Penundaan semacam ini bisa diterima, karena kalau kita memaksa untuk melakukannya sekarang, mungkin hasilnya akan kurang baik.

Yang kedua adalah penundaan disfungsional, yaitu penundaan tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, misalnya karena malas, kurang mood dan lain-lain. Jenis penundaan ini sangat merugikan karena bisa menyebabkan kita kehilangan peluang atau kesempatan.

Jenis yang ketiga adalah penundaan jangka pendek, misalnya Anda punya target waktu satu hari tapi tidak segera memulainya sehingga pekerjaan menjadi molor atau tertunda. Yang dimaksud jangka pendek bisa selama beberapa jam atau beberapa hari tergantung target harinya. Misalnya Anda mempunyai jadwal pertemuan dengan seseorang dan harus berangkat jam 7 malam, tetapi sampai jam 6.45 Anda masih belum bersiap-siap.

Berikutnya adalah penundaan jangka panjang, misalnya Anda ingin berwisata ke Bali, ingin punya bisnis sendiri, ingin menyekolahkan anak Anda ke luar negeri, ingin menulis buku dan sebagainya. Anda punya keinginan di masa yang akan datang atau suatu rencana penting yang tidak mendesak, namun Anda tak pernah melakukan langkah awal yang diperlukan.

Jenis penundaan yang terakhir adalah penundaan kronis atau bisa juga disebut penundaan disfungsional kronis. Ini adalah sikap menunda-nunda yang sudah menjadi kebiasaan sehingga susah dihentikan dan sangat merugikan Anda sendiri. Ia bagaikan pencuri, karena telah mencuri waktu Anda dan merampok kepuasan yang mestinya Anda bisa peroleh. Inilah jenis penundaan yang paling berbahaya.

Termasuk jenis yang manakah Anda ? Mudah-mudahan penundaan yang Anda lakukan hanyalah penundaan fungsional. Amit-amit jika Anda merupakan tipe seorang penunda disfungsional, apalagi yang kronis.(SA).

Memperkuat Rasa Syukur

March 10, 2008 By: cipto Category: Spiritual

Di artikel sebelumnya telah saya jelaskan bahwa, rasa syukur yang tulus akan mengaktifkan Law of Attraction atau keberuntungan dalam hidup kita. Lalu bagaimanakah caranya memupuk dan mengembangkan rasa syukur kita ?

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan, terutama bagi Anda yang belum menjadikan syukur sebagai sesuatu yang otomatis.

Cara pertama adalah dengan membuat Jurnal Rasa Syukur, yaitu sebuah buku atau catatan harian yang berisi semua ungkapan rasa syukur, ucapan terima kasih, kesenangan atau peristiwa keberuntungan yang Anda alami selama ini. Michael Losier menyebutnya sebagai Jurnal Bukti Kemakmuran (Journal of Abundance Evidence). Saya lebih senang menyebutnya sebagai Buku Harian Keberuntungan (Lucky Diary) sebagaimana istilah yang dikemukakan oleh Richard Wiseman dalam bukunya Luck Factor.

Dengan membuat Buku Harian Keberuntungan, maka kita akan menyadari bahwa nikmat yang diberikan Tuhan itu sangat banyak yang sudah kita rasakan, walaupun sebenarnya sangat jauh lebih banyak dari yang kita mampu menghitungnya. Dengan membuat Buku Harian Keberuntungan, kita akan lebih menyadari betapa Tuhan mencintai makhlukNya. Betapa beruntungnya kita. Dengan kesadaran itu, maka kita akan mudah bersyukur kepadaNya. Buku Harian Keberuntungan juga akan membuat kita terus merasa berkelimpahan. Perasaan kita jadi enak (feel good) dan pada akhirnya akan mengaktifkan Hukum Ketertarikan.

Bagi orang-orang yang merasa bahwa hidupnya belum beruntung, penuh dengan kesialan dan penderitaan, maka cara ini cocok untuk dilakukan. Karena jika orang-orang semacam ini terus mengeluh dan mengeluh terus, maka mereka akan semakin jauh dari keberuntungan. Hukum Ketertarikan tidak akan bekerja pada orang-orang yang feel bad. Oleh sebab itu bersyukurlah agar bisa feel good. Bersyukurlah terhadap hal-hal rutin yang jarang kita syukuri, misalnya kesehatan kita, keluarga kita dan sebagainya.

Cara kedua adalah dengan “melihat ke bawah”, yaitu memperhatikan orang-orang yang lebih “tidak beruntung” dibandingkan kita, antara lain orang-orang yang lebih miskin, lebih bodoh, lebih susah, lebih menderita, lebih gendut, lebih jelek, lebih sial dan sejenisnya.

Bersyukurlah karena Anda memiliki pekerjaan, sementara banyak orang terpaksa harus mengemis untuk hidup. (Lihat di jalanan, banyak anak-anak terpaksa mengemis agar tetap survive). Bersyukurlah Anda dapat mengenyam pendidikan yang layak, sementara banyak orang yang membacapun tidak bisa. (Lihat di daerah terpencil dimana para orang tua belum sadar dengan pentingnya pendidikan). Bersyukurlah Anda masih dapat makan tiga kali sehari, sementara di belahan dunia yang lain banyak orang yang menjadi kurus kering dan kurang gizi (Lihat di beberapa negara Afrika yang rakyatnya menderita karena perang dan kelaparan). Dan bersyukurlah karena Anda masih dapat bernafas, sementara banyak orang yang untuk bernafas saja masih memerlukan bantuan. (Lihat di berbagai rumah sakit dimana orang memerlukan alat dan ‘mesin’ agar bisa tetap bernafas).

Cara ini juga bisa dipakai jika Anda mengalami suatu kesialan atau kejadian yang tidak menguntungkan. Pandanglah kesialan Anda dari sisi yang positif, perlunaklah dampak kesialan itu dan bayangkan bahwa keadaan bisa lebih buruk lagi. Ungkapan-ungkapan seperti, “Untung cuma kepleset, coba kalau jatuh”, “Untung masih selamat, penumpang yang lain pada mati”, “Syukurlah hanya rugi sedikit, belum sampai satu milyar”, “Tidak naik kelas nggak apa-apa, berarti guru-gurumu masih menyayangimu”, “Gajiku hanya naik 5%, tapi aku bersyukur karena di perusahaan lain banyak yang tidak naik gaji” dan sebagainya, adalah contoh-contoh memandang kesialan atau ketidakberuntungan secara positif agar Anda tidak semakin larut dalam kesedihan dan Anda akan tetap bersyukur. Saya kira dalam falsafah Jawa sangat dikenal prinsip ini, makanya banyak orang tua memberi nama anaknya “Untung” atau “Bejo”.

Mungkin Anda bertanya, “Lha, kalau kita bersyukur terus, kapan majunya, apakah ini tidak berarti pasrah dengan keadaan dan tak mau berusaha agar lebih baik ?” Pertanyaan yang bagus. Tetapi harus diingat bahwa kita berbicara mengenai hal yang telah terjadi, bukan masa depan. Ini hanyalah masalah waktu terjadinya (kalau di dalam pelajaran Bahasa Inggris disebut dengan tenses, ada past tense ada juga future tense). Kunci jawabannya adalah “semua yang telah terjadi harus disyukuri”, karena tidak ada gunanya disesali. Aa Gym sering membuat perumpamaan, “Kalau nasi sudah menjadi bubur, ya sudah. Tambahkan santan, kasih irisan daging ayam, kasih bawang goreng dan krupuk. Maka jadilah bubur ayam.” Jadi, ambil sisi positif dari kejadian yang sudah terjadi. Sedangkan yang menyangkut masa depan, boleh disyukuri dan sangat disarankan untuk mengharapkan yang lebih baik. Bisa dipahami kan ?

Kembali ke cara bersyukur, cara yang ketiga adalah dengan banyak memberi, bersedekah, bermurah hati dan melayani orang lain. Dengan banyak memberi (bukan hanya uang, tetapi apapun juga), maka akan tercipta mentalitas kelimpahan (abundance consciousness) sehingga kita akan lebih bersyukur lagi dan akan mengaktivasi Hukum Ketertarikan. Akhirnya hidup kita akan lebih beruntung lagi. Begitu seterusnya, yang akan berulang lagi seperti sebuah siklus atau lingkaran, tapi lingkaran malaikat, bukan lingkaran setan.

Dan cara keempat, mulai dan akhiri hidup Anda setiap hari dengan rasa syukur. Ketika mau tidur, ucapkan syukur kepada Tuhan, masukkanlah ke dalam hati, rasakan betapa Tuhan telah melindungi hidup Anda selama seharian penuh. Teruslah mengucap syukur sampai Anda terlelap dalam tidur (saat otak dalam gelombang alpha atau theta). Dengan demikian maka tidur Anda akan tenang dan damai, tidur yang berkualitas, tidur yang bisa menghadirkan ide-ide segar ketika Anda ‘pasif’ di gelombang alpha, theta dan delta. Demikian pula, lakukan hal yang sama ketika Anda bangun tidur di pagi hari. Bersyukurlah karena Tuhan (melalui para malaikatNya) telah menjaga Anda sepanjang malam. Bersyukurlah karena Anda bisa bangun dengan segar di pagi hari dan siap untuk melakukan aktivitas dengan bersemangat lagi di hari yang baru. Dengan cara itu maka hidup Anda akan selalu diliputi oleh rasa syukur. Wish You Luck. (SA).

Syukur dan Keberuntungan

February 17, 2008 By: cipto Category: Spiritual, Luck Factors

“Many people who order their lives rightly in all other ways are kept in poverty by their lack of gratitude. Having received one gift from God, they cut the wires which connect them with Him by failing to make aknowledgement.”

(Banyak orang yang menjalani hidup dengan cukup benar, tetapi tetap miskin karena kurang bersyukur. Setelah menerima kemurahan Tuhan, mereka memotong kabel yang menghubungkan mereka dengan Tuhan dengan cara mengingkari nikmatNya)

- Wallace Wattles (1860 - 1911) -

Seperti kata Wallace Wattles (penulis buku klasik The Science of Getting Rich yang menjadi salah satu dasar The Secret) diatas, tak dapat dipungkiri bahwa perasaan syukur merupakan salah satu faktor penarik keberuntungan dan kesuksesan hidup manusia.

Rasa syukur akan membuat kita memiliki mentalitas berkecukupan (abundance mentality) dan menghilangkan mentalitas kekurangan (scarcity mentality). Pada saat kita merasa berkecukupan, maka hati kita jadi bahagia, perasaan kita jadi enak (feel good) dan kita mampu berpikir positif. Pikiran dan perasaan positif inilah yang mengaktifkan Hukum Ketertarikan (Law of Attraction = LOA). Dengan bahasa yang lain Michael Losier mengatakan bahwa rasa syukur, terima kasih dan penghargaan akan mampu memancarkan vibrasi positif yang dahsyat untuk mengaktifkan Hukum Ketertarikan.

Lalu, syukur yang seperti apakah yang lebih mudah mengaktivasi LOA ?

Untuk menjawabnya, saya perlu menjelaskan adanya dua tingkatan syukur. Tingkatan syukur yang pertama, adalah syukur yang sudah sering kita lakukan, yaitu syukur bersyarat atau syukur parsial. Kita bersyukur atas sesuatu yang kita miliki atau kondisi baik yang kita alami. Syukur semacam ini mirip seperti rasa syukur atau ucapan terima kasih yang dilontarkan anak kecil setelah dibelikan mainan atau permen oleh bundanya. Artinya, syukur merupakan akibat. Sebagai contoh, Anda merasa bersyukur setelah mendapatkan kenaikan gaji. Anda bersyukur karena penjualan toko Anda naik 20%. Anda bersyukur ketika anak Anda lulus sekolah dengan baik, Anda bersyukur setelah membeli mobil baru atau Anda bersyukur karena Anda selamat dari kecelakaan. Itulah beberapa contoh syukur bersyarat.

Tentu saja tidak ada jeleknya dan tidak ada salahnya dengan tingkatan syukur semacam ini. Anda harus terus melakukannya, karena inilah bentuk rasa syukur yang umum kita lakukan. Namun perlu Anda sadari bahwa tingkatan rasa syukur seperti ini relatif lemah untuk mengaktivasi Hukum Ketertarikan. Mengapa ? Karena seringkali kita tidak benar-benar bersyukur dengan tulus, melainkan hanya merupakan ungkapan puas diri sesaat. Atau malahan rasa syukur ini bisa jadi perasaan negatif terhadap suatu keadaan. Anda hanya berusaha untuk melihatnya dari sisi yang positif, padahal yang sebenarnya Anda merasa tidak enak atau kurang puas. Rasa syukur semacam ini juga tidak tahan lama dan hanya sebagian saja.

Tingkatan syukur yang kedua adalah rasa syukur tak bersyarat atau syukur yang menyeluruh (holistic), yang mencakup juga semua rasa syukur yang berada di tingkatan syukur pertama (syukur parsial). Rasa syukur ini tidak terikat pada situasi dan kondisi serta menyatu pada diri Anda atau menjadi identitas Anda. Beberapa contoh syukur di tingkatan ini antara lain rasa syukur terhadap hidup Anda, dunia seisinya, waktu dan ruang, masalah dan tantangan, pikiran dan perasaan Anda, kebebasan Anda memilih, syukur terhadap ide dan konsep Anda dan sebagainya. Pada dasarnya rasa syukur ini mengatakan, “Betapa indahnya hidup ini.” Sikon (situasi dan kondisi) tidak relevan lagi karena tingkatan syukur ini merupakan sebuah pilihan yang tidak memerlukan alasan. Perumpamaannya adalah mirip kita sedang bermain video game atau Play Station. Semuanya terasa menyenangkan, musiknya, gambarnya, permainannya, karakternya dan sebagainya. Tidak jadi masalah apakah Anda menang atau kalah karena pengalaman bermainlah yang terpenting. Artinya Anda perlu melepaskan semua alasan dibalik rasa syukur Anda. Bersyukurlah terhadap keberadaan Anda sendiri, maka Anda telah bergerak dari melakukan syukur (doing grateful) ke menjadi bersyukur (being grateful). Dan Anda akan mampu mengaktivasi Hukum Ketertarikan karena Anda telah memancarkan rasa syukur setiap saat dan kapan saja. Ingat ! Being grateful bukan hanya sekedar doing grateful.

Dengan sikap semacam ini, insyallah, keberuntungan akan menjadi milik Anda. Wish You Luck. (SA)


Change Your Question Change Your Life

January 08, 2008 By: cipto Category: Self Help

Salah satu teknik pemecahan masalah (problem solving) yang relatif sederhana tapi ampuh adalah dengan mengajukan pertanyaan memakai 5W+1H, yaitu Why, What, Where, When, Who dan How. Dengan lima kata tanya ini maka kita akan berusaha menyelidiki atau memecahkan suatu masalah secara menyeluruh dari segala aspek. Ada juga cara yang lebih ampuh yaitu dengan teknik 5W (Five Why’s) yaitu dengan bertanya lima kali why secara bertingkat mengapa suatu peristiwa terjadi, sehingga akan ditemukan alasan utama atau penyebab dasar (root cause) terjadinya sesuatu (bukan hanya sekedar symptom atau gejala).

Kedua teknik bertanya ini dipakai oleh para manajer, sejarawan, peneliti, ilmuwan atau siapapun untuk memecahkan berbagai persoalan dan terbukti cukup efektif untuk menemukan solusi.

Tetapi di dalam pengembangan pribadi, agar hidup kita bertumbuh, semakin berkualitas, dan memiliki tanggungjawab, maka kita perlu memilih pertanyaan-pertanyaan yang tepat, khususnya kepada diri sendiri (self talk) dan juga kepada orang lain.

Marilah kita perhatikan beberapa contoh pertanyaan berikut ini :

“Mengapa anak buahku susah diatur ?”

“Mengapa hal ini terjadi padaku ?”

“Mengapa susah sekali menjual produk ini ?”

Pertanyaan-pertanyaan diatas akan membuat kita merasa tidak baik (feel bad), tak berdaya dan seolah-olah memposisikan diri kita sebagai korban keadaan. Pertanyaan-pertanyaan ini memiliki ‘aura’ negatif yang pada gilirannya akan menghadirkan sikap negatif pula buat kita.

Berikutnya mari kita ucapkan beberapa pertanyaan yang lain di bawah ini :

“Kapan harga produk kita bisa lebih bersaing ?”

“Kapan saya dapat menemukan orang-orang yang berkualitas ?”

“Kapan ia dapat lebih menghargai posisiku ?”

Pertanyaan-pertanyaan ini juga tak lebih baik karena akan memberikan kesan seolah-olah kita hanya bisa menunggu, menunda atau pasrah pada keadaan. Walaupun saya yakin Anda tidak bermaksud untuk menunggu atau menunda, tapi itulah yang kita tangkap dari pertanyaan-pertanyaan ini.

Dan mari kita simak satu jenis pertanyaan lagi berikut ini :

“Siapa yang menyebabkan masalah ini ?”

“Siapa yang bisa lebih baik dari saya ?”

“Siapa yang bisa menjelaskan visi perusahaan ?”

Sekali lagi, mari kita rasakan. Tanpa kita sadari bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan ini sesungguhnya kita telah mencari ‘kambing hitam’, tidak mau introspeksi dan melemparkan tanggung jawab kepada pihak lain.

Apa arti ini semua ?” Kita perlu hati-hati dalam membuat pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang salah akan membuat kita merasa tak berdaya, pesimis, pasrah pada keadaan, semakin lari dari tanggungjawab dan menyalahkan orang lain, yang pada akhirnya akan membuat kita semakin jauh dari kesuksesan.

Kemudian marilah kita berpaling kepada pertanyaan-pertanyaan berikut :

“Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaiki situasi ?”

“Bagaimanakah caranya agar penjualan saya bulan ini bisa meningkat 10% ?”

“Apa benefit tambahan yang bisa saya tawarkan kepada customer ?”

“Bagaimana caranya agar saya lebih kreatif ?”

“Apa yang bisa saya kerjakan agar team ini menang ?”

“Bagaimana caranya agar prestasi saya bisa lebih baik ?”

Sekarang bagaimana rasanya ? Saya yakin dengan memakai kata “Apa” dan “Bagaimana”, Anda akan merasa lebih enak (feel good), lebih berdaya, dan lebih bertanggungjawab dibandingkan tiga jenis pertanyaan sebelumnya yang menggunakan kata “Mengapa”, “Kapan” dan “Siapa”.

John G. Miller dalam bukunya “The Question Behind The Question”, memberikan tips agar pertanyaan-pertanyaan Anda lebih berbobot sehingga bisa membuat Anda bertumbuh, lebih bertanggungjawab dan mampu mengubah kehidupan Anda ke arah lebih baik. Inilah tips nya :

  • Mulai pertanyaan dengan “Apa” atau “Bagaimana”, bukan “Mengapa”, “Kapan” atau “Siapa”.
  • Pertanyaan diusahakan mengandung kata “Saya”, bukan “Mereka”, “Kamu” atau “Kami”
  • Berfokus kepada tindakan, misalnya mengandung kata-kata “melakukan”, “mencapai”, “membuat” atau yang sejenisnya.

Tips diatas bukan berarti kita tidak boleh membuat pertanyaan dengan memakai kata-kata “Mengapa”, “Kapan” atau “Siapa”. Tentu saja boleh-boleh saja menggunakan ketiga kata itu untuk menggali gagasan, melakukan analisis, memecahkan masalah atau melakukan tindak lanjut. Tetapi untuk melakukan perubahan dan tindakan yang positif, maka yang terbaik adalah memulai dengan “Apa” atau “Bagaimana”, memakai kata ganti orang pertama (”Saya”) dan action oriented.

Marilah mulai saat ini kita mengubah pertanyaan-pertanyaan kita dengan memakai formula diatas. Dengan mengubah pertanyaan, maka hidup Anda anda berubah. Wish You Luck. (SA).


Racun Yang Mencerahkan

December 14, 2007 By: cipto Category: Inspirational Story, Attitude

Dahulu kala di negeri Tiongkok, seorang gadis yang bernama Li-Li baru saja menikah dengan seorang pemuda kaya. Li-Li kemudian beserta suaminya tinggal bersama di rumah sang metua.

Dalam waktu singkat, Li-Li tahu bahwa ia sangat tidak cocok tinggal serumah dengan ibu mertuanya. Karakter mereka sangat jauh berbeda. Dan Li-Li sangat tidak menyukai kebiasaan ibu mertuanya.

Hari berganti hari, begitu pula bulan berganti bulan. Li-Li dan ibu mertuanya tak pernah berhenti berdebat dan bertengkar. Yang makin membuat Li-Li kesal adalah adat kuno Cina yang mengharuskan ia untuk selalu menundukkan kepala untuk menghormati mertuanya dan mentaati semua kemauannya.

Semua kemarahan dan ketidakbahagiaan di dalam rumah itu menyebabkan kesedihan yang mendalam pada hati suami Li-Li, seorang yang berjiwa sederhana.

Akhirnya, Li-Li tidak tahan lagi terhadap sifat buruk dan kelakuan ibu mertuanya. Dan ia benar-benar telah bertekad untuk melakukan sesuatu.

Li-Li pergi menjumpai seorang teman ayahnya yaitu Sinshe Wang yang pandai membuat ramuan obat tradisional untuk segala penyakit. Ia menceritakan situasinya dan minta dibuatkan ramuan racun yang kuat untuk diberikan pada ibu mertuanya.

Sinshe Wang berpikir keras sejenak. Lalu ia berkata, “Li-Li, saya mau membantu kamu menyelesaikan masalahmu, tetapi kamu harus mendengarkan saya dan mentaati apa yang saya sarankan.”

Li-Li berkata, “Baik Pak Wang, saya akan mengikuti apa saja yang Bapak katakana dan apa yang harus saya perbuat.”

Sinshe Wang masuk ke dalam, dan tak lama ia kembali dengan menggenggam sebungkus ramuan. Ia berkata kepada Li-Li, “Kamu tidak bisa memakai racun keras yang mematikan seketika, untuk meyingkirkan ibu mertuamu, karena hal itu akan membuat semua orang menjadi curiga. Oleh karena itu, saya memberi kamu ramuan beberapa jenis tanaman obat yang secara perlahan-lahan akan menjadi racun di dalam tubuhnya.

Sinshe Wang melanjutkan, “Setiap hari, sediakan makanan yang enak-enak dan masukkan sedikit ramuan obat ini ke dalamnya. Lalu, supaya tidak ada yang curiga saat ia mati nanti, kamu harus hati-hati sekali dan bersikap sangat bersahabat dengannya. Jangan berdebat dengannya, taati semua kehendaknya, dan perlakukan dia seperti seorang ratu.”

Li-Li sangat senang. Ia berterima kasih kepada pak Wang dan buru-buru pulang ke rumah untuk memulai rencana membunuh ibu mertuanya. Minggu demi minggu, bulan demi bulan pun berlalu.

Setiap hari Li-Li melayani mertuanya dengan makanan yang enak-enak, yang sudah “dibumbuinya”. Ia mengingat semua petunjuk dari Sinshe Wang tentang hal mencegah kecurigaan. Maka ia mulai belajar untuk mengendalikan amarahnya, mentaati perintah ibu mertuanya, dan memperlakukannya seperti ibunya sendiri.

Setelah enam bulan lewat, suasana di dalam rumah itu berubah secara drastis. Li-Li sudah mampu mengendalikan amarahnya sedemikian rupa sehingga ia menemukan dirinya tidak pernah lagi marah atau kesal.

Ia tidak pernah berdebat lagi dengan ibu mertuanya selama enam bulan terakhir karena ia mendapatkan bahwa ibu mertuanya kini tampak lebih ramah kepadanya. Sikap si ibu mertua terhadap Li-Li telah berubah, dan mulai mencintai Li-Li seperti puterinya sendiri. Ia terus menceritakan kepada kawan-kawan dan sanak familinya bahwa Li-Li adalah menantu yang paling baik yang ia peroleh.

Li-Li dan ibu mertuanya saling memperlakukan satu sama lain seperti layaknya seorang ibu dan anak yang sesungguhnya. Suami Li-Li sangat bahagia menyaksikan semua yang terjadi.

Suatu hari, Li-Li pergi menjumpai Sinshe Wang dan meminta bantuannya sekali lagi. Ia berkata, “Pak Wang, tolong saya untuk mencegah supaya racun yang saya berikan kepada ibu mertua saya tidak sampai membunuhnya!”

“Ia telah berubah menjadi seorang wanita yang begitu baik, sehingga saya sangat mencintainya seperti kepada ibu saya sendiri. Saya tidak mau ia mati karena racun yang saya berikan kepadanya.”

Sinshe Wang tersenyum. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Li-Li, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Saya tidak pernah memberi kamu racun. Ramuan yang saya berikan kepadamu itu hanyalah ramuan penguat badan untuk menjaga kesehatan beliau.”

“Satu-satunya racun yang ada, adalah yang terdapat di dalam pikiranmu sendiri, dan di dalam sikapmu terhadapnya, …” “… tetapi semuanya itu telah disapu bersih dengan cinta yang kamu berikan kepadanya …”

Moral dari Cerita ini :

Sadarkah Anda bahwa sebagaimana Anda memperlakukan orang lain maka demikianlah persis bagaimana mereka akan memperlakukan Anda ?

Ada pepatah Tiongkok kuno mengatakan: “Orang yang mencintai orang lain, akan dicintai juga sebagai balasannya.” Walaupun dalam kenyataannya orang yang kita cintai tidak selalu mencintai kita, tetapi TETAPLAH mencintai, karena TUHAN tidak pernah tidur dan karena apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. WISH YOU LUCK. (SA).


Agar Produk atau Jasa Anda Diingat Sepanjang Hayat

November 21, 2007 By: cipto Category: Marketing & Sales

Dahulu, ketika kita memasarkan suatu produk atau jasa, maka kita cukup mengandalkan feature (karakteristik, sifat atau ciri-ciri) dan benefit (manfaat atau kegunaan) agar produk atau jasa kita bisa laku dan tetap dibeli oleh pelanggan kita. Tapi, sekarang feature dan benefit saja terkadang kurang cukup agar kita tetap exist di pasar, karena ternyata para pesaing kita bisa meniru bahkan menyamai produk yang kita jual ke pasar.

Lalu muncullah hal-hal yang intangible seperti pelayanan atau service agar feature dan benefit produk bisa hadir ‘lebih bermakna’ di benak customers. Itupun saat ini seringkali masih belum cukup juga, mengingat semakin hari tingkat kompetisi semakin severe dan kompleks. Lalu apa lagi yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan market share dan profitabilitas ?

Jawabannya adalah menyangkut customer’s memory. Apakah produk atau jasa kita memorable (menciptakan kenangan yang indah) bagi customers kita ? Apakah produk atau jasa kita bisa lengket di heart (hati) & mind (pikiran) para customers. Dari situlah maka muncul istilah Experiential Marketing, yaitu suatu pendekatan pemasaran yang mengupayakan agar para customers memiliki suatu pengalaman yang tak terlupakan ketika akan, sedang atau telah membeli produk atau jasa kita. Caranya adalah dengan menyentuh sisi emosional customers lebih dalam lagi, bukan lagi sekedar sisi rasionalnya.

Bernd H. Schmitt, pakar pemasaran dan guru besar dari Columbia Business School, USA, dalam bukunya Experiential Marketing : How to Get Customers to Sense, Feel, Think, Act & Relate to Your Company and Brands, mengupas dengan sangat menarik apa dan bagaimana Experiential Marketing (EM) itu.

Ia mengemukakan adanya 5 unsur penting dalam EM, yaitu sense, feel, think, act dan relate. Unsur-unsur ini perlu kita ketahui lebih detail agar kita bisa memilih dan memastikan unsur yang mana saja yang bisa kita terapkan ke produk atau jasa kita. Mungkin tidak semua unsur dapat diaplikasikan secara bersama-sama. Mungkin hanya satu atau dua unsur saja yang bisa kita pakai. Semuanya tergantung kepada jenis barang atau jasa Anda, struktur persaingan, segmen pasar yang dibidik dan sebagainya.

Unsur yang pertama, sense adalah bagaimana agar produk atau jasa kita bisa dirasakan oleh panca indra kita (mata, telinga, hidung, lidah dan kulit). Ini adalah unsur yang paling sederhana yang bisa diterapkan. Semakin banyak indra yang bisa merasakannya, maka semakin besar kemungkinan produk kita menjadi memorable. Mengapa ? Karena setiap orang memiliki preferensi yang berbeda dalam menyampaikan informasi ke otak lewat panca indra. Dalam NLP (Neuro Linguistic Programming), dikenal ada orang yang bertipe visual (lebih peduli pada apa yang dilihat), auditory (lebih peduli pada apa yang didengar) dan kinestetik (lebih peduli pada apa yang mereka sentuh atau rasakan). Jadi, dengan melibatkan semakin banyak indra, maka semakin banyak orang yang bisa kita jangkau (untuk masuk ke memori mereka).

Apakah Anda pernah antri untuk membeli roti di Bread Talk atau donat J-Co ? Lalu mengapa orang-orang rela ngantri hanya demi untuk sepotong roti ? Penyebabnya adalah karena mereka sukses menyampaikan pesan produknya ke otak Anda melalui beberapa indra yang terlibat. Pertama, dari jarak yang agak jauh Anda sudah membaui (dengan hidung) aroma roti yang ‘harum’ dan mengundang Anda untuk mendekat. Semakin dekat semakin merangsang baunya. Setelah dekat, Anda bisa melihat dengan mata kepala Anda sendiri proses pembuatan roti (melalui kaca transparan) untuk menggugah Anda bahwa roti mereka fresh from the oven. Kemudian Anda masuk ke gerai mereka dan sebelum membeli-pun lidah Anda akan dibuat ngiler dengan berbagai bentuk roti yang di-display dengan sangat menarik. Satu lagi, bagi Anda yang kinestetik, barangkali tindakan mengantri, mengambil nampan, memilih roti, mengantri lagi dan membayar di kasir menciptakan sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Ini adalah sebuah proses emosional, karena secara logika koq mau-maunya Anda dikerjain oleh si Break Talk.

Unsur kedua, feel adalah bagaimana menciptakan perasaan enak (feel good) bagi para customers, yaitu dengan melibatkan mood dan emosi secara lebih intens lagi. Beberapa acara reality show di televisi seperti AFI, Indonesian Idol atau MamaMia adalah beberapa contoh produk yang sukses memanfaatkan emosi para penonton agar mereka terus mengingat dan menontonnya kembali. Sebagian dari Anda mungkin juga pernah mengirim SMS dukungan ke salah satu kontestan, padahal barangkali Anda tidak mengenal kontestan itu, hanya karena emosi Anda bangkit dan menggerakkan Anda untuk melakukan sesuatu.

Unsur ketiga, think adalah upaya yang perlu diciptakan agar customer mau ber-positive thinking kepada produk atau jasa Anda setelah customer Anda merasa baik (feel good). Ini dapat menciptakan customer satisfaction yang lebih berjangka panjang. Dengan demikian diharapkan akan timbul word of mouth (promosi dari mulut ke mulut) yang baik bagi produk Anda. Kampanye iklan Apple Computer ‘think different’ adalah contoh iklan untuk menggugah orang agar mau ‘positive thinking’ kepada produk Apple.

Unsur keempat, act adalah upaya yang diarahkan bagi terciptanya pengalaman melalui perilaku tertentu dari customers, baik berupa tindakan individual maupun

hidup seseorang. Tindakan yang diambil seseorang dipengaruhi oleh faktor luar dan opini di dalam dirinya. Tugas Anda sebagai experiential marketer adalah menggabungkan pengaruh eksternal dengan feel dan think agar customer melakukan tindakan dan punya pengalaman tersendiri. Iklan Oreo di televisi ‘diputar, dijilat dan dicelupkan’ barangkali merupakan upaya agar calon customer selalu terkenang dengan Oreo dengan tindakan ‘diputar, dijilat dan dicelupkan’ tadi. Contoh lain, kalau Anda pernah ke Jogja, cobalah mampir ke Bakmi Mbah Mo (lho koq malah promosi he…he…). Dengan datang kesana, maka Anda akan memiliki pengalaman yang tak terlupakan karena tindakan Anda yang telah berjuang masuk ke pelosok terpencil di daerah Bantul sana, mungkin lebih dari 10 KM dari Jogja, masuk ke jalan tak beraspal lagi. Warungnya juga relatif sederhana, memasak mie pakai arang tapi koq tetap exist setelah puluhan tahun.

Unsur yang terakhir adalah relate, yaitu bagaimana sensasi, feeling, thinking & action seseorang tadi, jauh diperbesar lagi ke arah konteks sosial dan budaya. Jadi relate menghubungkan customers secara individual dengan masyarakat atau budaya tertentu. Ini merupakan daya tarik yang paling dalam bagi customers Anda. McDonald dan juga Starbucks adalah dua perusahaan yang telah berhasil menerapkan unsur relate. Contoh lain, banyak orang memakai motor Harley Davidson, bukan karena kualitas motornya yang bagus melainkan karena HD sudah menggambarkan gaya hidup tententu bagi pemakainya apalagi dengan adanya komunitas HDCI yang cukup fanatik dengan segala atribut HD-nya, termasuk juga kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukannya.

Itulah sekilas tentang 5 unsur EM ala Bernd H. Schmitt. Anda perlu mulai memikirkan jenis yang mana dari kelima jenis pengalaman (experiences) diatas yang bisa diaplikasikan untuk produk atau jasa Anda. Harapannya adalah agar customers Anda selalu ingat, mau kembali lagi dan tidak pindah ke lain hati.

Jadi, sudah saatnya untuk menawarkan suatu pengalaman yang tak terlupakan bagi customers Anda, sesuatu yang memorable, sesuatu yang bakal diingat pelanggan Anda sepanjang hayatnya. Tapi ingat ! Jangan sekali-kali melupakan feature, benefit dan intangible. Karena ketiganya juga merupakan prasyarat agar produk atau jasa Anda benar-benar bisa disebut berkualitas. Wish You Luck (SA).


Jokes about Marketing

November 09, 2007 By: cipto Category: Marketing & Sales, Joke

MarryMe1.jpgWhat is Marketing ?


1. You see a gorgeous girl at a party. You go up to her and say: “I am very rich. Marry me!”- That’s Direct Marketing.

2. You’re at a party with a bunch of friends and see a gorgeous girl. One of your friends goes up to her and pointing at you says: “He’s very rich. Marry him.” - That’s Advertising.

3. You see a gorgeous girl at a party. You go up to her and get her telephone number. The next day, you call and say: “Hi, I’m very rich. Marry me.” - That’s Telemarketing.

4. You’re at a party and see gorgeous girl. You get up and straighten your tie, you walk up to her and pour her a drink, you open the door (of the car) for her, pick up her bag after she drops it, offer her ride and then say: “By the way, I’m rich. Will you marry me?” - That’s Public Relations.

5. You’re at a party and see gorgeous girl. She walks up to you and says: “You are very rich! Can you marry me?” - That’s Brand Recognition.

6. You see a gorgeous girl at a party. You go up to her and say: “I am very rich. Marry me!” She gives you a nice hard slap on your face. -That’s Customer Feedback.

7. You see a gorgeous girl at a party. You go up to her and say: “I am very rich. Marry me!” And she introduces you to her husband. - That’s demand and supply gap.

8. You see a gorgeous girl at a party. You go up to her and before you say anything, another person come and tell her: “I’m rich. Will you marry me?” and she goes with him - That’s competition eating into your market share.

9. You see a gorgeous girl at a party. You go up to her and before you say: “I’m rich, Marry me!” your wife arrives. - That’s restriction for entering new markets.

Wish You Luck. (SA).


40 Jokes but Facts

November 09, 2007 By: cipto Category: Joke

40 Jokes but Facts. Believe or not ? Up to you.

1. Cocacola dulu berwarna hijau.

2. Nama yang paling umum digunakan di dunia adalah Mohammed.

3. Dalam bahasa inggris, semua nama benua diawali dan diakhiri dengan huruf vokal yang sama.

4. Otot terkuat yang ada di badan kita adalah lidah.

5. Setiap orang di USA punya 2 kartu kredit !

6. TYPEWRITER adalah kata terpanjang yang dapat diketik dalam satu baris tuts keyboard anda.

7. Perempuan ngedip dua kali lebih banyak dari pada laki-laki.

8. Menahan nafas tidak akan membuatmu mati.

9. Setiap manusia tidak dapat menjilat siku tangannya sendiri.

10. Kalau ada orang mengucapkan doa setiap kali ada yang bersin karena memang setiap kali kau bersin, jantungmu berhenti satu mili-deteik.

11. Secara fisik, setiap babi tidak bisa melihat ke langit.

12. Ucapkan “sixth sick sheik’s sixth sheep’s sick” beberapa kali. Nanti anda akan mahir berbahasa inggris !

13. Bersin terlalu keras dapat mematahkan tulang iga, memutuskan pembuluh darah di kepala atau leher dan mengakibatkan kematian.

14. Setiap raja dalam kartu remi melambangkan raja-raja besar jaman dahulu kala:

Raja sekop - Raja Daud

Raja kriting - Alexander Agung

Raja hati - Raja Charlemagne

Raja wajik - Julius Caesar

15. 111,111,111 x 111,111,111 = 12,345,678,987, 654,321

16. Kalau ada patung orang naik kuda dan dua kaki depan kuda itu naik di udara, itu tandanya orang itu mati dalam perang.

17. Kalau kaki kudanya cuma satu yang diangkat berarti orang itu cuma terluka dalam perang.

18. Kalau semua kaki kudanya menjejak tanah, berarti orang itu meninggal karena sakit.

19. Apa persamaan rompi anti peluru, printer laser, tangga darurat dan wiper mobil? Jawabannya : semua ditemukan oleh perempuan ! Ha !

20. Satu-satunya makanan yang tidak bisa busuk? Jawaban : madu.

21. Buaya nggak bisa melet lidah.

22. Siput bisa tidur selama 3 tahun.

23. Semua beruang kutub KIDAL!

24. American Airlines menghemat $40,000 tahun 1987 dengan cara mengurangi 1 buah olive dari setiap piring salad yang mereka sajikan untuk penumpang kelas 1.

25. Indera perasa kupu-kupu ada di kaki.

26. Gajah adalah satu-satunya hewan yang tidak bisa lompat.

27. Selama 4000 tahun belakangan ini, jenis hewan yang dipelihara di rumah cuma itu-itu saja.

28. Rata-rata manusia lebih takut pada laba-laba daripada kematian.

29. Shakespeare menemukan kata : “Assassination” dan “bump”.

30. Dengan menggunakan cara mengetik 10 jari, STEWARDESSES adalah kata terpanjang yang bisa diketik hanya dengan jari-jari tangan kiri.

31. Semut selalu jatuh ke kanan setiap kali disemprot cairan anti hama.

32. Kursi listrik ditemukan oleh seorang dokter gigi.

33. Jantung manusia dapat menyemprotkan darah sejauh 30 kaki.

34. Dalam 18 bulan, 2 ekor tikus bisa punya lebih dari sejuta anak tikus!

35. Memakai headphone selama satu jam dapat menstimulasi perkembangan bakteri dalam telinga sebanyak 700 kali lipat!

36. Pemantik ditemukan sebelum korek api.

37. Setiap lipstik mengandung sisik ikan.

38. Seperti sidik jari, lidah manusia pun mempunyai kontur yang berbeda-beda.

39. 99% orang yang membaca tulisan ini mencoba mengalikan fakta no. 15.

40. Dan akhirnya, 99% orang yang baca tulisan ini pasti mencoba menjilat siku tangannya.

That’s all. Wish You Luck. (SA).

Dibayar Lunas Dengan Segelas Susu

October 26, 2007 By: cipto Category: Inspirational Story, The Power of Giving

Suatu hari, seorang bocah miskin sedang berjualan dari rumah ke rumah demi untuk membiayai sekolahnya. Ia merasa lapar dan haus, tetapi sayang sekali uang hasil penjualannya tidak cukup untuk membeli makanan.

Maka anak itu kemudian memutuskan untuk meminta makanan dari rumah terdekat. Tetapi, saat seorang ibu muda membukakan pintu, ia kehilangan keberaniannya.

Akhirnya ia hanya meminta segelas air putih untuk menawarkan dahaganya. Ibu muda itu berpikir pastilah anak ini merasa lapar dan haus, maka diberikanlah segelas besar susu buat anak tersebut.

Ia meminumnya dengan lahap kemudian bertanya, “Berapa hutang saya kepada anda ?”

“Kamu tidak berhutang apapun kepadaku”, jawabnya. “Orang tuaku dulu mengajarkan agar tidak menerima bayaran untuk perbuatan baik yang aku lakukan.”

Anak itu menjawab, “Kalau begitu, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam atas segala kebaikanmu.”

Akhirnya si anak kecil itu meninggalkan rumah si ibu muda dengan badan lebih segar, perasaan lebih senang dan hati yang penuh syukur kepada Tuhan. Padahal, anak yang bernama Howard Kelly itu, sebelumnya sudah merasa putus asa dan hampir menyerah.

Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari ibu muda (yang telah tua) tersebut mengalami sakit parah. Dokter yang menanganinya merasa bingung dan akhirnya mengirim wanita itu ke kota besar untuk mendapatkan pertolongan dari dokter yang lebih ahli. Dan Dr. Howard Kelly-lah salah satu dokter ahli itu..

Ketika ia mendengar nama kota tempat asal si pasien, Dr. Howard Kelly segera pergi ke kamar tempat dimana wanita tersebut dirawat. Ia langsung mengenali dan memutuskan untuk melakukan hal terbaik yang bisa ia usahakan untuk menolongnya.

Sejak hari itu, ia memberikan perhatian khusus dan tulus agar ibu itu bisa sembuh. “Aku akan melakukan yang terbaik demi kesembuhannya”, pikirnya. Setelah melewati perjuangan yang melelahkan, Dr. Kelly akhirnya berhasil menyembuhkan wanita itu.

Pada saat kondisi ibu itu benar-benar membaik, Dr. Kelly meminta Bagian Keuangan rumah sakit untuk memberikan semua tagihan ibu itu kepadanya. Setelah memeriksanya kemudian Dr. Kelly memberikan catatan di bagian tagihan itu.

Tagihan itu lalu dikirim ke kamar perawatan si wanita. Namun, wanita tersebut merasa takut untuk membukanya, karena ia merasa yakin bahwa ia tidak akan sanggup membayar tagihan rumah sakit yang sudah pasti sangat mahal itu. Akhirnya dengan menguatkan hati, ia melihat ke tagihan itu. Sebuah tulisan pada tagihan telah menarik perhatiannya. Ia membaca tulisan itu : “Telah Di Bayar Lunas Dengan Segelas Susu”.
Tertanda, Dr. Howard Kelly.

Air mata mengalir dari matanya saat hatinya yang bahagia mengucapkan doa dan rasa syukur: “Terima kasih Tuhan, kasihMu telah memancar melalui hati dan tangan manusia yang mulia”

Moral cerita :

If you give, then you’ll receive. Apa yang kita berikan tidak akan hilang, melainkan akan menjadi ‘emotional bank account’ untuk kita. Kebaikan akan berbuah kebaikan, kejelekan juga akan menuai kejelekan.

Wish You Luck. (SA).